
Mohon saran dan kritiknya....
°
°
°
Ave's POV
Hari ini usiaku bertambah satu. Sekarang aku bukan lagi anak-anak yang merengek kepada orang tuanya jika permintaannya tak dikabulkan. Aku menjadi wanita dewasa di usia yang ke dua puluh, tak ingin dianggap kekanakan oleh Mas Bagas. Tidak ada perayaan khusus. Hanya doa dan mengantarkan makanan untuk dibagikan ke tetangga. Kata Eyang Uti, kita mesti bersyukur jika kita masih diberi waktu untuk hidup oleh Allah. Kayak lagunya Ebiet G. Ade kesukaan ayah. Masih ada waktu.
Sepulang sekolah tadi. Ririn teman sekelas Salim ingin nebeng naik mobil karena sepeda motornya di bengkel. Alasan saja. Bilang aja kamu suka sama Salim.
Sepanjang perjalanan menuju bengkel. Tak hentinya si mak lampir itu bercerita sambil memegang tangannya Salim dan melirik aku dari kaca spion.
Aku sudah bilang jangan duduk di depan. Itu hanya untuk aku. Eh ... dia tak mendengarkan. Dengan seenak udel dia langsung duduk di depan. Lah yang punya mobil siapa? Dasar mak lampir.
"Ave masih marah, ya sama Salim?"
Eh ... si Salim datang dari mana tiba-tiba saja sudah ada di sampingku saat aku duduk di ayunan.
"Nggak kok," kataku dengan sewot sambil mengayunkan kakiku.
"Kalau nggak marah. Kenapa Ave diam terus dari tadi?" tanya Salim hendak mengayunkan aku di ayunan.
"Lagi malas bicara sama Salim."
"Karena Ririn, ya? Ya, sudah nanti Salim nggak akan mengajak siapa pun masuk mobil." Nah akhirnya ia tahu.
"Selamat ulang tahun Aveliena." Ia mengucapkan selamat kepadaku dengan memberi sebuah kotak kado.
"Apa ini?" Aku menerimanya dengan senang hati.
"Bukanya nanti aja, ya. Tunggu Salim pergi," ujarnya malu sambil pergi.
Aku membukanya. Ternyata foto -foto masa kecil kami yang berhasil ia abadikan melalui album. Aku menyukai hadiahnya walaupun sederhana. Surat? Tumben Salim bisa menulis surat.
__ADS_1
Hai Nona kecilku.
Selamat ulang tahun. Semakin dewasa dalam bersikap dan bertindak. Maaf Salim tidak bisa memberikan kado seperti Ayu dan Rani. Ini foto kita saat masih kecil. Ayah Salim yang memotretnya. Lucu, ya Non? Eh salah sekarang nona nggak mau dipanggil dengan nona lagi, kan? Selain kado ini apa lagi yang Ave inginkan dari Salim? Tapi jangan mahal-mahal dan melakukan sesuatu yang Salim tak bisa. He...he... Selamat ulang tahun, Ave.
Kado apa lagi ya? Ohya aku ingat. Jangan buat aku cemburu.
Apa aku nggak salah ya? Apa aku memang cemburu?
Aww ah ... aku menggaruk kepala.
*****
"Non ...." Panggil Mira dengan menggoyangkan bahu nonanya yang masih terlelap tidur.
"Apa, sih, Mbak Mira? Aku nggak ada mata kuliah hari ini," rengek Ave yang tidak mau membuka matanya.
"Non Ave, 'kan mulai training kerja di perkebunan hari ini?" Mira membuka tirai jendela yang menyinari kamar Ave.
"Kan bisa nanti siang, Mbak Mira. Ave ngantuk nih."
Sukses bukan? Dalam sekejab saja si Ave bangun. Mendengar satu nama.
"Jangan panggil. Nanti Ave kena ngomel Eyang Uti seharian." Akhirnya Ave menyibak selimutnya dengan malas.
"Eh Cah Ayu. Ayo ndang sarapan terus kita ke perkebunan. Wes di enteni Salim iku ning arep." Eyang Yaya agak memaksa cucunya yang terlihat masih mengantuk. [ Cah Ayu, ayo lekas sarapan terus kita ke perkebunan. Sudah ditunggu Salim ]
"Kenapa nggak berangkat siang aja sih, Yah?" Keluh Ave saat eyangnya pergi.
"Kalau siang. Rejekimu di patok ayam," sahut Pak Brata dengan lugas.
"Mana bisa rejeki dipatok ayam?" Bagas ikut mengomentari perkataan ayahnya di meja makan.
"Itu hanya perumpamaan saja, Nak. Begini saja contoh kecilnya. Jika Bagas membuka toko nih. Nah Bagas membuka tokonya siang hari padahal banyak yang menunggu untuk membeli karena masih tutup. Orang-orang pindah ke toko sebelah. Dapat untung banyak deh toko sebelah pagi itu dan Bagas tidak mendapatkan apa-apa," terang Pak Brata memberi penjelasan.
Bagas dan Ave mendapat perumpamaan baru pagi ini.
"Yen mangan aja ngomong. Mangan yo mangan." Omel eyang Uti sambil membawa sayur bayam dari arah dapur. (Kalau mau makan ya makan. Jangan bicara kalau makan)
__ADS_1
"Dengar apa kata eyang. Jangan ngomong kalau lagi di meja makan." Ambar ikut memarahi suami dan anak-anaknya.
"Lihat ibu kalian. Sudah seperti eyang, kan?" Pak Brata bercanda yang ditanggapi tatapan marah Ambar.
Hari ini pertama kalinya Ave dan Salim ke perkebunan. Hal pertama yang dilakukan adalah mengelilingi perkebunan dengan sepeda. Ave tak menyangka jika perkebunan yang di dirikan oleh eyangnya begitu luas. Mungkin seperti bandara udara. Itu yang ada di pikiran Ave. Selain memiliki perkebunan. Keluarga Jayanatra mempunyai usaha pembuatan teh tradisional dan kopi.
Dreet....dreet....
Ponsel Salim bergetar karena pesan yang masuk.
"Siapa?" tanya Ave sambil menuntun sepedanya di samping Salim.
"Safira. Dia mau ke rumah," sahut Salim dengan santainya tanpa melihat Ave yang berwajah galak.
"Ngapain si kunti ke sini?" Ave selalu menyebut nama kakak kelasnya beraneka ragam. Ada si Manja Ratna, ada si Mak Lampir Ririn, Si Nyinyir Gayatri dan terakhir si Kunti Safira yang kegemarannya memakai bando putih. Mereka semua menyukai Salim.
"Lah kok dipanggil kunti?"
"Memangnya kenapa? Kamu marah? Ya, sudah terserah kamu." Ave cemberut dan menghentakkan kakinya.
"Loh mau ke mana, Ve?"
"Pulang!" Teriaknya dari kejauhan dengan mengendarai sepeda onthelnya.
"Begitu aja kamu nggak tahu, Lim." Lukman sang pekerja di perkebunan kesal karena Salim tak mengerti.
"Ora ngerti aku, Man?" Tutur Salim dengan bahasa jawanya. (Aku tidak mengerti)
Rasanya Lukman ingin membuka kepala Salim agar mengerti.
"Wes pikiren dewe," dengkus Lukman berlalu dari hadapan Salim yang masih bengong. (Sudah pikirkan saja sendiri)
"Apa ya salahku? Kok Ave sama Lukman marah," ujar Salim berbicara sendiri dan mengayuh sepedanya.
\=Bersambung\=
Duh ... Salim ini tidak paham, ya? Ave marah karena dirinya, kan?
__ADS_1