Nona Kecil

Nona Kecil
Part 29 Hanya Aku dan Kau


__ADS_3

Mohon saran dan kritiknya....


°


°


°


Nona kecilku hari ini mengajak kencan berdua. Aku masih terkejut saat dia mengatakan ingin kencan. Ave sengaja berbohong kepada Eyang Yaya ke Toko Buku bersama Ayu dan Rani, tetapi justru mereka yang menyarankan hal ini. Apakah aku tertipu juga? Tentu tidak. Aku malah senang menghabiskan waktu berdua. Sudah lama tak pergi atau bermain berdua dengan nona kecilku.


Setelah kami, Akil Baliq para tetua yaitu Eyang Yaya dan epEyang Uti melarang kami pergi atau bermain lagi berdua. Sekolah kami dipisah. Ave sekolah khusus perempuan sedangkan aku di sekolah umum. Kami hanya bertemu pagi hari sebelum berangkat dan sore hari setelah pulang sekolah. Kami dipertemukan kembali ketika Ave berkuliah di tempat yang sama denganku.


"Salim kok bengong sih," katanya dengan mengibaskan tangannya.


Aku memandang wajah cantiknya dan tersenyum. "Tidak apa-apa. Sudah lama, ya kita tidak pergi berdua. Mungkin aku harus bersyukur kepada Ayu maupun Rani kali ini," ujarku.


"Benar kata Salim. Di rumah ada saja yang mengawasi kita berdua. Mas Bowo, Mbak Mira, anaknya atau Mbok Sum. Buat Ave sebal," ungkapnya penuh kesal.


Bukan hanya aku saja ternyata yang terganggu ulah mereka saat kami ingin berdua. Ada-ada saja eyang Yaya sampai mengawasi kami.


"Lagipula buat apa sih kita diawasi? La wong kita nggak melakukan apapun," lanjutnya masih kesal.


"Ya tidak apa-apa, Ve. Namanya orang tua akan khawatir jika anaknya pergi berdua saja," jelasku memberi pengertian.


"Tapi kan kita sudah bertunangan. Kok masih belum boleh pergi sama Salim," gerutunya dengan memajukan bibir.


"Tapi kita masih bertemu kan tiap hari? Ave masih bisa lihat Salim di rumah," candaku garing.


"Oh, iya ya," jawabnya riang.


"Ayo sudah cepat makan. Nanti dicari Eyang Yaya."


Nah apa yang aku katakan benar bukan? Eyang Yaya meneleponku menanyai keberadaan kami.


"Le, kok suwi menyang toko bukune? Iki wes bengi," omel Eyang Yaya di ujung telepon.


"Iya Eyang. Kami terjebak macet di jalanan," ujarku yang ternyata memang macet.


"Oh yo wes. Ati-ati ning jalan," sahut eyang Yaya sambil menutup teleponnya.


"Eyang Yaya." Ave tersenyum simpul menanggapi telepon Eyang.


Hari ini aku benar-benar bahagia dapat berduaan saja dengan nona kecilku.


*****

__ADS_1


Ave' s Pov


"Duh, yang kencan kemarin malam. Pasti bahagia nih," sindir Ayu saat aku di kelas usai pelajaran.


"Ah, Ayu bisa saja," candaku sembari membereskan buku.


"Apa benar lu boleh pergi lama, Vel sama Eyang Yaya?" Rani bertanya antusias.


"Ave bohong sedikit sama Eyang Yaya. Ave bilang mau ke toko buku," ucapku senang.


"Ih kok berani sih lu bohongin Eyang Yaya? Kalau ketahuan gimana?" Rani menoleh saat Ayu mengatakan hal itu.


"Nggak mungkin. Ave memang ke toko buku kemarin kok." Aku menyanggah perkataan mereka. Memang benar aku ke toko buku dan kencan tentu saja.


Dimas dan Bisma tiba-tiba saja datang tanpa diundang padahal ini bukan kelas mereka.


"Ngapain lu ke sini, Bis? Ini 'kan bukan kelas lu." Omel Ayu yang ditanggapi cuek oleh mereka.


"Bagaimana keputusannya, Vel? Kamu mau jadi istriku, kan?" tanya Dimas to the point.


"Jadi istrimu? Jangan bercanda deh, Dimas. Ave selamanya nggak pernah mau menjadi istrimu."


"Apapun yang terjadi Salim tetap menjadi suami Ave nantinya." Mereka benar-benar membuat aku kesal.


"Atau kamu mau menikah denganku saja? Enak loh menikah denganku. Aku dan kamu akan menjadi suami istri yang bahagia dengan kekayaan melimpah," ucap Bisma dengan pongahnya.


Ini lagi si congek ikut-ikutan.


"Sudah Vel jangan menanggapi omongan mereka." Rani dan Ayu mengajakku keluar dari kelas.


"Kamu boleh memilih antara aku atau Dimas, Vel. Pilihlah salah satu dari kami!" Teriak Bisma lantang yang membuatku jengah.


Aku tak tahu kenapa Dimas maupun Bisma merebutkan aku untuk menjadi istri mereka. Ayu dan Rani mengantarkan aku pulang karena Salim sudah bekerja di Perkebunan.


Enaknya menjadi Salim. Ia akan di wisuda akhir bulan ini. Tidak seperti dua congek itu yang lama tidak di wisuda. Ah, aku merindukan dia.


*****


"Lo nak Ayu lan Rani. Wis suwi ora ning kene," zambut eyang Uti di teras.


Ayu yang asli orang Palembang tidak paham. Hanya Rani yang mampu menjawabnya yang notebene anak anak campuran Malang dan Jakarta.


"Inggih Eyang. Kula lan Ayu akeh tugas," jawabnya dengan santun.


"Yo wis. Ajak'en kancamu mlebu, Nduk," lanjut Eyang Uti mempersilakan teman Ave masuk.

__ADS_1


Meskipun, berulangkali mereka sering ke rumah Ave. Tiada hentinya mereka berdua mengagumi keindahan rumah Ave dengan arsitektur khas Jawa. Ada pendoponya dan di pintu belakang ada rumah lagi yang hanya terhubung oleh kolam.


"Kalian makan siang di sini saja, ya. Biar nanti Mbok Jum yang menyiapkan," tawar Ave kepada temannya.


Rani yang memang hobinya makan langsung mengiyakan.


"Lu itu makan aja yang dipikir. Untung tuh perut lu kagak gendut," cerocos Ayu melihat Rani yang senang.


"Makan apa ya kita hari ini? Masakan Mbok Jum enak loh." Pikiran Rani menerawang.


"Mbok Jum masak sayur bening, pepes tuna, pepes tahu dan sambel terasi," sahut Ave memberitahu.


Rani keburu meneteskan air liurnya.


"Sudah Avel ke dapur deh. Rani keburu lapar. Mau makan banyak gua," xesak Rani yang tak sabar.


Ave tersenyum menanggapi teman-temannya yang mau berteman dengan dirinya tanpa melihat latar belakangnya. Ave segera bergegas menuju dapur untuk menyiapkan makanan untuk temannya.


*****


Salim yang ikut menemani mereka makan. Tersenyum geli melihat cara makan Rani yang kalap. Seperti tidak makan seminggu.


"Kamu kelaparan atau kerasukan, Ran?" tanya Salim dengan bercanda.


"Gua lapar nih, Lim. Apalagi masakan Mbok Jum enak luar biasa," ucapnya setelah makan.


"Mbok Jum terima kasih atas masakannya." Ayu dan Rani serempak mengucapkan terima kasihnya.


Mbok sum menanggapinya dengan seulas senyuman tulus.


"Lim, enak ya kemarin pergi berdua saja," bisik Ayu usil.


"Hus ... jangan rame-rame," kata Salim memperingatkan.


"Tenang aja. Kalau lu ama Avel pengen kencan. Bilang aja sama kita. Biar kita jadi sasaran." Tawa Ayu yang disenggol Rani agar tak berisik.


"Gua harap lu ama Avel selalu bahagia ya, Lim," ucap Rani tulus.


Ave mengangguk menanggapi perkataan Rani.


"Amin." Ucapan doa yang hanya terdengar di bibir Salim.


\=Bersambung\=


Beri dukungannya ya. Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2