
Mohon saran dan kritiknya....
°
°
°
Ave's Pov
Aku masih belum diperbolehkan masuk kuliah dulu oleh Eyang Yaya. Akhirnya aku mendapat tugas untuk mengurusi keuangan di kantor oleh ayah. Di sini maksudku di kantor hanya ada aku, Salim dan beberapa karyawan saja. Ayah dan Eyang Yaya keluar kota membeli barang-barang.
Si Salim asyik sendiri berada di komputer. Tugasku sudah selesai setengah jam yang lalu. Aku meliriknya agar ia melihatku kalau aku ini sudah bosan. Ah dasar Salim nggak peduli..
"Mbak Ave, ada yang mencari mbak di luar," sahut Mbak Yuti bagian resepsionis.
"Siapa yang mencari Ave, Mbak Yuti?" Heran selama ini nggak ada yang mencari aku di kantor ayah.
"Mbak nggak tahu. Mereka temannya mbak Ave. Ada dua orang. Namanya Ayu dan Rani," kata Mbak Yuti menyebutkan nama.
"Oh mereka. Suruh masuk saja, Mbak."
"Baik mbak Ave. Saya akan persilahkan masuk."
"Oh, ya mbak Yuti. Belikan makanan dan minuman di luar. Terima kasih, ya Mbak Yuti," ujarku agar Mbak Yuti membelikan makanan ringan untuk si Rani.
Mbak Yuti tersenyum dan melangkah pergi.
Pasti mereka merindukanku.
"Ave ...." Teriak mereka berdua di dalam ruanganku.
Aku menunjukkan jariku ke mulut agar diam karena karyawan di sini pada serius bekerja.
"Kapan lu masuk kuliah? Gue udah kangen berat sama lu, Vel," kata Rani sambil memelukku.
"Yea palingan lu kangen sama makanannya," timpal Ayu menyenggol lengan Rani.
"Dua-duanya." Tawa Rani.
"Hush....." Salim menyuruh kami diam.
"Oalah lu. Apa kabar Lim?" tanya Ayu sambil melangkah ke meja Salim.
Yang ditanya malah hanya berdehem saja dan menjawab seperlunya. Jika Salim sudah bekerja di depan komputer. Jangan harap deh kita bisa bicara.
"Ih kagak enak ngomong sama Salim," omel Rani yang di anggukan Ayu.
"Sudah biarkan Salim bekerja. Yuk kita ke halaman depan. Ada Cilok dan Cilor kesukaanmu, Ran," ajakku kepada mereka.
Aku bisa melihat wajah lapar Rani yang seakan-akan ingin menyantap apa saja.
"Salim...." Panggilku pelan.
__ADS_1
"Iya Ve ada apa?" Ia tak melihatku.
"Kalau sudah selesai anterin Ave pulang kerumah ya."
Salim berhenti sejenak dan berdiri menatapku.
"Ave sakit?" tanya dengan cemas.
"Nggak. Tugas Ave sudah selesai. Ave bosan," sahutku.
"Ya sudah sebentar lagi ya. Salim hampir selesai," jawabnya menepuk bahuku.
"Aku dan teman-teman menunggu di luar."
Salim hanya mengangguk saja.
******
"Apa yang kamu pikirkan, Bagas?" tanya Ambar melihat anak lelakinya murung.
"Maafkan Bagas, ya Bu. Karena Bagaslah membuat adek Ave seperti itu." Pinta maafnya kepada Ambar.
"Sudah jangan dipikirkan lagi, Bagas. Kami tidak menyalahkanmu, Nak." Ambar berusaha menenangkan Bagas.
"Karena ibu tidak menyalahkan Bagas membuat Bagas semakin bersalah."
"Bagaimana dengan ayah? Bahkan sampai sekarang ayah masih marah kepada Bagas."
"Ya Bagas tahu sendiri, Bu. Dari cara ayah bicara sama tatapannya."
"Ayahmu sudah memaafkanmu, Nak. Hanya saja ayahmu malu untuk mengatakannya kepadamu." Tutur ibu dengan lembut.
"Iyo Le. Sing diomongake ibumu iku bener. Bapakmu ae sing isin. Kowe lan bapakmu podo keras kepalane."
"Coba seandainya saja waktu itu Bagas tidak marah sama ayah. Maka kejadian itu tak akan membuat Ave menjadi buta. Bagas sampai sekarang masih bersalah, Bu," sesal Bagas menahan tangisnya.
"Sudah jangan menangis Bagas. Itu sudah bagian masa lalu. Biarkan itu menjadi pembelajaran untuk kamu," ucap Ambar dengan bijak.
Tanpa disadari oleh mereka. Ave dan teman-teman mendengar semuanya.
"Nduk. Mulai kapan kowe ning kene?" Tutur Eyang Uti terkejut.
"Maaf ibu, eyang. Kami pamit dulu," sanggah Ayu dan Rani yang tidak jadi makan di rumah.
"Ibu, apa benar kangmas Bagas yang membuat Ave buta dulu sehingga mengorbankan ibunya Salim?" tanya Ave memegang tangan Ambar meminta penjelasan.
Bagas tak bisa berkata apapun. Ia merasakan perasaan bersalah yang dalam. Ave menangis sesenggukan mendengar penjelasan ibunya. Ave tak menyangka selama ini Bagaslah yang membuatnya jatuh dan mengalami kebutaan.
"Maafkan mas Bagas, Dek." Bagas bersimpuh di bawah memohon ampun.
Di luar dugaan. Ave tidak memarahi kakaknya. Ia langsung memeluk kakaknya. Menangis dalam pelukan kakaknya.
"Ave sudah memaafkan kangmas kok. Ave mengerti mengapa kangmas seperti itu. Ave nggak menyalahkan kangmas. Jadi kangmas jangan merasa bersalah lagi ya?" Ujar Ave dengan lembut.
__ADS_1
Bagas yang selama ini menjadi pria yang tegar malah menangis di pelukan adiknya.
"Ih kangmas kok menangis. Nanti ketahuan mbak Dian loh," ejeknya dengan bergurau.
Bagas malah tambah keras menangisnya. Seakan-akan beban yang selama ini menyiksanya sudah lepas.
"Iki ana apa yo? Kok podo nangis?" Tanya Eyang Yaya dan Brata yang baru tiba dari kota dengan heran.
Bagas langsung memeluk ayahnya dengan erat. Brata malah bingung.
"Ayah, maafkan Bagas selama ini."
"Sudah ayah maafkan sejak dulu, Nak," ujar Brata dengan menepuk bahu anaknya.
Sore ini membuat Bagas merasa tenang setelah semuanya terungkap. Tidak ada lagi yang namanya perasaan bersalah yang selalu membayanginya tiap malam.
******
"Salim,....." Panggil Ave dengan nada manja.
"Iya Ve ada apa?" Jawab Salim yang selalu belajar di pendopo.
"Hmm ...."
"Ngomong aja. Salim dengerin kok."
"Ih Salim ini loh. Kebiasaan kalau diajak ngomong nggak pernah mau lihat lawan bicaranya," dengkus Ave kesal sambil memegang kepala Salim menghadap ke arahnya.
Salim terlihat bingung semakin kelihatan wajah kupernya.
"Nah gitu donk. Kan ganteng." Puji Ave seraya menyibak rambut di depan dahi Salim.
"Oh, ya Salim, bagaimana urusanmu dengan paman Husni?" lanjutnya dengan bertanya.
"Besok Salim mau ke pengadilan."
"Apa Salim siap kehilangan segalanya?"
"Salim sudah siap kehilangan warisan itu, Ve. Biarlah mereka mengambil semua harta warisan kakek. Asal mereka tak menganggu ayah dan keluargamu lagi, Ve."
"Ave akan selalu bersama Salim. Apapun keputusan yang Salim buat. Ave dan keluarga akan selalu mendukung Salim."
Tumben Ave dewasa.
Salim tersenyum mendengar perkataan nona kecilnya yang sudah beranjak menjadi seorang wanita. Salim bersyukur dengan adanya Ave yang selalu berada di pihaknya.
\=Bersambung\=
Di sini konflik yang muncul memang sedikit. Saya tidak mau membuat konflik yang banyak. Membuat pusing. Wkwkwkwk
Oh, ya tinggal beberapa part menuju ending. Ya saya akui sih cerita ini kurang seru tapi yang punya cerita malah bersemangat membacanya.
Mengenang masa lalu kata mereka.
__ADS_1