
Mohon saran dan kritiknya....
°
°
°
Hasil persidangan hari ini dimenangkan oleh Husni dan anaknya. Entah bagaimana cara mereka sampai bisa menyogok pengacara, hakim dan jaksa untuk membela mereka. Dengan pongahnya mereka keluar dari pengadilan.
"Sudah seharusnya jika warisan itu jatuh ke tanganku, Jaka," ujar Husni dengan pongahnya.
"Selamat atas warisan yang kau dapat, Husni," tutur Jaka dengan pelan tanpa ada rasa iri.
"Pergunakan warisan ayah dengan sebaik-baiknya, Husni," kata Jaka dengan bijak.
"Tak perlu kau mengatakannya, Jaka. Aku sudah tahu untuk apa warisan ini," cibir Husni sengaja menyenggol Salim.
"Aduh lihat wajahnya si curut aku mual." Ave mendengkus kesal.
"Siapa yang curut, Nak?" tanya Jaka dengan tatapan lembut.
"Itu si Bisma, Ayah," jawab Ave sambil menggandeng tangan Jaka.
"Sudah jangan dibahas lagi." Kekeh Jaka melihat Ave yang menggemaskan.
Bagi Jaka dan Salim harta bukanlah satu-satunya yang di perlukan di dunia ini. Bagi mereka bahagia dan sederhananya hidup sudah membuat berwarna.
Dengan adanya Ave dan dukungan keluarga Jayanatra, Jaka dan Salim tidak takut menjalani hidup mereka sekarang meskipun warisan tak diperoleh dan nama belakang merekapun tak boleh digunakan lagi. Sebuah dukungan bagi mereka itu sudah lebih dari cukup dari apapun.
"Ayah, kok bengong?" Teriak Ave dari anak bawah tangga memanggilnya ayah Jaka yang termenung.
"Oh maaf, Nak. Ayo kita rayakan kemenangan kita hari ini," ujar Jaka antusias sambil turun dari anak tangga yang sudah di tunggu Ave.
"Ayah baik-baik saja, Nak," sahut Jaka saat Salim menepuk bahu ayahnya.
Tersenyum menyambut Ave yang keburu turun dari anak tangga dan menyambut lengan Jaka untuk bergandengan.
*****
"Mboten napa-napa, Le. Wis relake warisan iku," ucap eyang Yaya sambil menggenggam tangan Jaka memberi kekuatan untuk kekalahannya. [Tidak apa-apa, Nak. Sudah relaka saja warisan itu]
"Inggih eyang. Kula wes rela. Mboten napa-napa warisan iku kula ora oleh sing penting keslametan Salim," jawab Jaka dengan bahasa Jawanya. [Iya eyang. Saya sudah rela. Tidak apa-apa warisan itu saya tidak dapat, yang penting keselamatan Salim ]
"Yo wes toh le. La gawe opo sisan warisan sing akeh iku kalau Salim celaka," sembur eyang Uti dengan membawa nampan berisi pisang goreng. [Ya sudah, Nak. Untuk apa juga warisan itu kalau Salim celaka ]
"Resikno tanganmu disik, nduk. Ojo asal megang. Ayo ndang resikno tanganmu," omel Eyang Uti yang memarahi Ave karena menyambar pisang goreng. [Bersihkan dulu tanganmu, Nduk. Jangan asal pegang. Ayo cepat cuci tangan ]
__ADS_1
Ave manyun dan masuk ke dalam rumah untuk mencuci tangannya.
Eyang Yaya hanya geleng-geleng kepala saja melihat cucunya yang selalu bertingkah seperti anak kecil.
"Wes kuwi iku tinggal ning kene. La omahku yo omahmu sisan toh Jaka," tegas eyang Yaya. [Anggap saja rumahku juga menjadi bagian rumahmu, Jaka ]
"Inggih eyang. Matur suwun," ujar Jaka dengan tulus.
Terdengar suara ribut dari arah dapur. Siapa lagi yang berteriak kelaparan jika bukan si Aveliena.
"Ampun eyang iki karo arek siji iku. Ngomong ora isa pelan." Desah eyang Uti beranjak dari kursinya menuju dapur.
Semua hanya tersenyum dan tak bisa berkata apa lagi tentang Aveliena. Ya hanya Salim yang bisa memperbaiki kelakuannya menjadi seorang wanita bukan gadis urakan kemarin sore.
******
Ave's Pov
"Aduh ... sakit, Bu. Kok telinga Ave dijewer?" Omelku saat berada di dapur meminta makan kepada Mbok Sum.
Sudah menjadi kebiasaan di keluarga kami. Jika kami akan makan maka Mbok Sum dan Mbok Jum akan menyiapkan di atas meja. Kami makan hanya sekedarnya saja hanya ada lauk tempe tahu atau ikan dan sayur mayur. Eyang Uti tidak menginginkan makanan itu dimasak banyak, tetapi pada akhirnya akan mubazir. Jadi Mbok Sum hanya memasaknya sedikit. Makan malam akan dimasak oleh Mbok Jum.
"Nak, kamu itu sudah besar. Jangan berteriak kayak anak kecil minta makan." Ibu terlihat kesal.
"Ya apa carane eyang iki isa ngrubah kowe, Nduk?" Eyang Uti tiba-tiba muncul dari ruang tengah. [ Bagaimana eyang bisa merubah kamu, Nduk ]
"Ambar juga tidak tahu, Bu. Sudah besar dan mau menjadi seorang istri tetap saja tingkahnya seperti anak kecil."
"Ya maafin Ave, Bu," ucapku pada akhirnya melihat Ibu berkacak pinggang.
"Lim, ajarin istrimu ini biar nggak urakan lagi. Ibu menyerah." Ibu pura-pura angkat tangannya padahal aku tahu pasti Ibu senyum sendiri di belakangku.
Nah benar kan? Tuh ibu mengangkat jempolnya ke arahku dan Salim.
"Ada apa lagi Ve?" tanya Salim duduk di sebelahku mengupaskan ikan pindang menjadi kecil-kecil.
"Masa Ave disuruh berubah kayak Mbakyu Raras. Yang lemah lembut, bicaranya pelan. Ave kan tidak bisa. Ave ya Ave." Aku jengkel karena Ibu selalu menyuruhku seperti Mbakyu Raras.
"Makan jangan bicara, Ve. Nanti tersedak," ucap Salim yang masih memotong mentimun dan menaruhnya di piringku.
"Iya aku tahu kok." Belum mengunyah aku malah terbatuk-batuk.
"Nah Salim sudah bilang apa? Jangan bicara waktu makan." Salim menepuk punggungku dan memberiku minum.
"Non, nurut sama Salim tuh. Mukanya nona sampai merah," sahut mbok Sum mengusapkan minyak telon ke dadaku.
Aku hanya mengacungkan jempol mengiyakan perkataan mereka.
__ADS_1
Mungkin aku harus berubah sedikit biar nanti kalau aku sudah menjadi istri Salim nggak kekanak-kanakan lagi.
Semangat Aveliena. Kamu pasti bisa.
"La kok malah senyum sendiri sih, Ve? Dikasih tahu malah senyum sendiri. Aneh kamu," kata Salim sambil menyuapi aku makan.
"Biar Salim yang menyuapi kamu. Kamu makan butuh lama. Satu jam pasti belum selesai," omel Salim yang sudah seperti bapak-bapak.
Mbok Sum dan Mbak Mira hanya melihat kami saja di dapur tanpa berkomentar.
*****
Salim's Pov
"Ayah, apakah tindakan ini sudah benar kita lakukan?" Aku bertanya kepada Ayah di ruang tamu.
"Tentu saja, Lim. Ayah sudah tak berkenan mengenai warisan itu."
"Bagaimana dengan hak Ayah?"
"Lim, suatu hari nanti apa yang seharusnya menjadi hak kita akan kembali ke kita," kata Ayah dengan bijaknya.
"Ayah tidak marah? Bahkan kita tak boleh mempergunakan nama belakang kita lagi," cercaku kesal.
"Buat apa ayah marah? Justru ayah merasa senang karena pamanmu si Husni sudah tak merecoki ayah lagi."
"Sekarang ayah lebih menikmati hidup bersamamu dan ingin melihatmu segera menikah."
"Siapa yang akan segera menikah, Ayah?" Suara Ave tiba-tiba mengejutkan kami.
"Ya Allah Ave. Kaget tahu. Jangan main nyelenong aja," ujarku kesal. Ia masuk tanpa diketahui oleh kami.
"Lah aku sudah masuk sejak tadi kok. Salim aja nggak dengar. Kan lagi pula hujan deras. Mana dengar kalian." Alasannya banyak sekali yang dikatakan.
Ayah malah tertawa melihat Ave membawa nampan berisi kopi yang sudah kena hujan.
"Tuh lihat. Kopinya jadi air hujan. Kamu sih dipanggil dari tadi nggak dengar." Wah bakal panjang nih omelannya.
"Sudah nggak apa-apa, Nak. Nanti biar ayah suruh Mbok Sum buat lagi. Jangan marah nanti cantiknya hilang," ujar Ayah dengan sabarnya.
"Ih Salim nggak kayak ayah. Marah terus kerjaannya," dengkusnya kesal sambil mengambil payung dan pulang kerumahnya.
"Lah kok malah diam. Kejar tuh si istrimu. Kasihan dia, Lim. Dia berniat baik mengantarkan kopi. Kamu malah marahi dia." Ya, Ayah malah ikut-ikutan marah kepadaku.
Aku segera menyusulnya. Saat aku panggil ia memalingkan wajahnya. Nona kecilku ini memang nggak bisa berubah.
Biarlah kami tak mendapatkan warisan atau kekuasaan yang penting hidup kami bahagia di sini.
__ADS_1
******
\=Bersambung\=