
Mohon saran dan kritiknya....
°
°
°
Hari yang ditunggu keluarga Jayanatra telah tiba. Meskipun dalam keadaan lemah Ave tetap menjalankan serangkaian adat Jawa dalam pernikahannya dengan Salim. Ambar tak kuasa menahan tangisnya saat melihat Ave bersanding di pelaminan bersama Salim.
"Ana apa maneh toh, Nduk?" Eyang Uti memegang pundak Ambar.
"Tidak apa-apa, Ibu. Ambar hanya merasa senang saja. Akhirnya Ave menikah," ujarnya sembari menghapus air matanya.
"Wes apus air matamu, Nduk. Iki hari bahagia. Aja nangis."
"Iya Bu," jawab Ambar dan memberikan senyuman kepada Aveliena yang melihatnya.
Salim tampak gagah dengan pakaian pengantin adat jawa dan Aveliena yang memakai kebaya berwarna putih gading. Selama di pelaminan tak hentinya Salim memperhatikan Ave yang sudah mulai lelah.
"Dek, jika kamu lelah. Lebih baik istirahat saja ya di kamar," ujar Dian yang sudah menjadi kakak iparnya.
"Tidak apa-apa, Mbak Dian. Ave masih bisa," tutur Ave dengan lemahnya.
"Wajahmu pucat, Dek. Kamu yakin?" tanya Dian lagi karena melihat Ave yang di sampingnya sudah mulai berkeringat.
"Ave yakin Mbak," kata Ave menahan lelahnya.
Akhirnya setelah hampir satu jam menyalami para tamu. Ave menyerah dan berpamitan ke kamarnya karena rasa lelah dan lemas.
"Cah Ayu, wes turu ae yo. Aja melu-melu nyalami tamu." Eyang Yaya turut khawatir melihat kondisi cucunya.
"Iya Eyang," jawab Ave lemah yang segera dibopong oleh Salim.
"Maafkan Ave ya, Lim."
"Untuk apa, Ave?" tanya Salim sambil menurunkan Ave dari gendongannya.
"Karena Ave sakit."
"Tidak apa-apa, Ve. Kami semua tahu kondisi kamu."
Ave memerhatikan Salim yang membuka selopnya dan membantu melepaskan semua atribut di kepala Ave. Tanpa ada rasa canggung sekalipun saat Salim melepasnya. Salim membaringkan tubuh Ave dan menyelimutinya.
"Rani Ayu, kalian temani Ave di sini, ya," pinta Salim kepada kedua kawannya.
"Oke siap komandan," ujar mereka serempak.
"Oh ya Rani. Kalau kamu lapar. Ambil saja di dapur, ya," kata Salim yang membuat Rani senang.
Rani langsung menunjukkan jempolnya dan tersenyum gembira. Selepas Salim berlalu dari hadapan mereka. Rani dan Ayu membiarkan Ave tidur.
******
Ave's Pov
Seharusnya hari ini adalah hari bahagia, tetapi nyatanya malah terbaring di kamar. Aku sangat lelah dan merasa pusing waktu bersalaman dengan para tamu. Akhirnya aku menyerah dan memohon ijin kepada Ayah dan Ibu karena tubuhku tidak bisa di ajak kerjasama.
__ADS_1
Matahari sudah terbenam saat aku terbangun. Sudah mulai sepi keadaan rumah karena semua tamu sudah pulang. Aku mulai merasa lapar dan akan hendak turun dari kasur saat tersadar bahwa aku tak lagi memakai kebaya pengantin. Aku memakai piyama. Siapa yang mengganti pakaianku? Tak mungkin Salim?
Bisa kena marah Eyang Uti.
"Mbok yang menggantikan pakaiannya, Nona." Mbak Mira tiba-tiba sudah masuk kekamar.
"Ih mbak Mira bikin kaget saja," kesalku yang melihat Mbak Mira tanpa merasa berdosa main masuk saja.
"Memangnya Non pikir Salim yang menggantikan pakaian Nona? Ya nggak mungkin," kata Mbak Mira dengan bercanda.
"Ya Ave tahu. Nanti Eyang marah, kan?" Cercaku.
"Sudah ayok turun, Non. Sudah ditunggu sama semuanya," ajak Mbak Mira menggandeng lenganku.
"Nanti dikunci ya non kamarnya. Jangan suka membiarkan kamar terbuka."
"Tapi Ave takut, Mbak Mira."
"Kan sudah ada Salim yang menjaga nona." Kekehnya.
Oh, ya aku lupa kalau aku sudah menjadi seorang istri sekarang. Artinya diriku tak perlu lagi membiarkan pintu kamar terbuka. Ada Salim yang menjagaku tentunya.
"Hayo kenapa tersenyum sendiri? Membayangkan apa?"Goda Mbak Mira centil.
"Apa sih Mbak Mira ini?" Aku sewot mendengarnya.
"Cah Ayu wes tangi?" tanya Eyang Yaya melihatku turun dari anak tangga.
"Iya eyang. Maaf ya karena Ave capek jadi acaranya---." Ucapanku terputus.
"Mboten napa-napa, Nduk," sahut eyang Uti sabar.
"Nggak menyangka ya anak ayah yang manja yang suka menangis saat digoda temannya sekarang sudah menikah," goda Ayah yang membuat aku tersipu malu.
"Dan tidak menyangka juga anak kecil yang mencium pipi Ave adalah Salim." Ayah Jaka tambah membuat aku malu.
Semua tertawa mengingat masa bahagia itu.
"Aduh ayah ini buat Salim malu saja." Salim menahan malu karena masa kecilnya.
"Jodoh tidak ke mana-mana ya, Jaka." Tawa ayah.
"Benar itu, Brata. Siapa yang menyangka jika kita menjadi besan sekarang," sambung ayah Jaka.
"Sudah cukup ah ayah. Ayah ini senang menggoda Salim."
Ayah Jaka malah tertawa dengan senangnya tak terkecuali ayah dan Eyang Yaya. Aku dan Salim hanya jadi obat nyamuk saja. Semua terdiam seketika saat kami dipelototi oleh eyang Uti. Ya eyang Uti ini menganggu kesenangan saja.
"Wes bengi. Aja rame-rame, Le," sahut Eyang Yaya dari arah dapur.
"Inggih ibu," jawab ayah sambil menahan tawanya.
"Ya sudah biarkan Salim dan Ave tidur sekarang. Besok Ave harus kampus," kata ayah Jaka kepada kami.
Kami menuruti perkataan ayah dan memohon ijin untuk beristirahat. Sebelum aku naik anak tangga. Ayah memanggil Salim.
"Nak Salim, terima kasih untuk semuanya, ya."
__ADS_1
Salim mengangguk dan tersenyum sembari menggandeng tanganku.
*****
Salim's Pov
Entah perasaan macam apa ini saat kami sudah masuk ke kamar. Biasanya tidur sendiri sekarang aku akan tidur bersama orang yang kucintai. Ave hanya terdiam di tepi ranjang sedangkan aku ada di sampingnya. Malam ini aku tidak mau melakukan apapun meskipun kami sudah sah menjadi sepasang suami istri. Biarlah pelan-pelan saja.
"Ave tidur yuk," ajakku sambil naik ke atas ranjang."
"Oh, ya ya," sahutnya gagap.
"Kenapa Ve?"
"Hmm .... apa Salim yakin mau tidur sekarang?" tanyanya polos.
"Ya tentu saja, Ve. Salim mengantuk," kataku sambil menepuk bantal mengajaknya berbaring.
Dasar Ave. Siapa yang tidak mau melakukan hal itu setelah menikah? Tapi aku harus melihat juga kondisi Ave.
"Ayo Ave. Ingat besok kamu harus kuliah," ajakku sekali lagi.
Akhirnya dengan agak kaku ia membaringkan tubuhnya juga. Kami saling terdiam memandangi langit-langit kamar. Memikirkan pikiran masing-masing.
"Salim ...." Panggilnya pelan tanpa melihat ke arahku.
"Salim sudah tidur, ya? tanyanya lagi.
"Belum. Ave mau apa?"
"Nggak mau apapun. Ave masih belum mengantuk."
"Sini." Aku merenggangkan tangan dan menaruh kepalanya di atas tanganku.
"Nyanyikan lagu yang biasanya Salim nyanyikan waktu kita masih kecil dong," pinta dengan manja.
"Apakah Ave merindukan lagu itu?" Lagu penuh kenangan antara aku dan Ave.
"Iya."
"Rasanya sudah lama ya kita tidak menyanyikan lagu itu."
"Salim akan menyanyikan lagunya ya. Ave harus tidur."
Tak ada sahutan. Suara dengkuran halusnya yang membuat aku tahu ia sudah tertidur. Aku mencium keningnya karena wajahnya begitu dekat denganku.
Aku berharap malam ini tidak berakhir. Biarlah selamanya aku bisa memeluknya tiap malam. Dengan semua kekurangan yang ia miliki tak membuat rasa cintaku berkurang sedikitpun. Tetap berdoa kepadaNya agar nona kecilku selalu di beri perlindunganNya.
"Selamat malam dan selamat tidur nona kecilku."
End
Akhirnya tamat juga kisah ini. Saya tidak membahas kisahnya ini lebih panjang. Cukup sampai di sini saja.
Rasanya tidak tega jika saya harus menulis kisah ini sampai seluk beluknya. Biarlah berjalan apa adanya saja.
Salam sayang
__ADS_1
Mm