Nona Kecil

Nona Kecil
Part 13 Ulang Tahun


__ADS_3

Mohon saran dan kritiknya...


°


°


°


Ave's Pov


Aku lupa memberitahu teman-teman, jangan datang ke rumah sore hari. Ada Eyang Yaya yang akan siap memberi wejangan. Nah seperti inilah yang terjadi. Bukannya pergi eh malah mereka menikmati wejangan ( nasihat ) yang diberikan Eyang sambil duduk beralas tikar. Makan singkong rebus dan minum teh hangat. Apa kalian tahu apa yang dilakukan ibu? Ya, ibuku yang cantik ini malah memasak makan malam untuk teman-temanku. Untungnya tidak banyak. Karena di kelas, aku hanya kenal dengan sepuluh anak saja. Si Rani dan Ayu tidak masuk hitungan. Ada akak Dimas juga yang menemani mereka datang ke rumah.


Tepat pukul tujuh. Mereka pulang dengan perut kenyang. Bilang aja kalian lapar. Buktinya nasi di magic jar tandas tak tersisa.


"Dek, teman-temanmu itu sudah nggak makan berapa minggu?" Sindir kak Bagas saat aku membantu ibu di dapur.


"Bagas, tidak baik bicara seperti itu." Ibu membelaku.


"Memang benar, 'kan? Coba kamu tanya Mbok Sum atau Mbok Jum. Benar,kan, Mbok?" Mas Bagas mencari pembelaan.


Mbok Sum dan Mbok Jum tak menjawab karena takut salah.


"Bagas, kamu bicara apa toh? Ini, 'kan masih ulang tahun adikmu. Biarkan kita berbagi rejeki dengan sesama." Akhirnya Mas Bagas diam ketika Ayah yang berbicara.


"Ayah, waktu Bagas mau ke meja makan dan membuka tudung saji malah kosong," kata mbok Jum ada temannya Ave yang makan."


"La wong salahmu dewe, Cah Bagas. Wayahe mangan ora mangan. Ojo telpon karo pacarmu tok." Eyang Uti muncul dari arah ruang keluarga yang mendengar keributan di dapur. (Ya salahmu sendiri. Waktunya makan tidak makan. Jangan telepon sama pacarmu terus)


Kapok kamu, Mas. Salah siapa coba?


Aku menang di atas angin karena Eyang dan Ayah menghentikan perdebatan yang tak penting.


*****


Pagi ini terdengar suara teriakan Ave yang terlambat bangun lagi. Mira tak habis pikir dengan kelakuan nona kecilnya. Sudah tahu besok berangkat pagi ke kampus malah tidur malam. Katanya menonton drama korea favoritnya.

__ADS_1


"Ayo, Non. Sudah ditunggu Salim di depan." Mira mengomel karena waktu sudah menunjukkan pukul tujuh.


"Mbak Mira, Ave masuk jam setengah sembilan kok. Tenang saja. Gak mungkin terlambat."


"Ingat non Ave. Rumah kita tidak di kota. Perjalanannya jauh." Mira mengingatkan karena letak rumah Jayanatra masih masuk ke desa.


"Ya ampun, Mbak Mira cerewet sekali, sih. Betah ,ya Mas Bowo sama Mbak Mira."


Mira mengelus dadanya melihat nonanya tak selesai berpakaian malah banyak bicara.


"Cah Ayu iki arep budal kuliah atawa pidato?" Munculnya eyang Yaya membuat Ave diam seribu bahasa. Ia langsung mengambil tasnya dan berpamitan. (Nona ayu ini mau berangkat sekolah atau pidato? )


"Memang ampuh jika Eyang yang bicara." Mira berkata dalam hatinya. Senyum sendiri.


******


Salim sedang sibuk memeriksa keadaan mobil di pekarangan rumah saat Ave dan Bagas terlibat keributan kecil.


"Mas, kok ikut sama Ave sih?  Memangnya ada apa sama motornya Mas Bagas?"


"Ya, Adek. Cuma sehari aja kok. Sepeda motor Mas ada di bengkel."


"Iya Mas paham kok. Kamu ingin berduaan sama Salim, kan?" Goda Bagas dengan gemas saat melihat adiknya jutek.


Ave tak menoleh ke Salim. Ia masih merasa kesal dan menutup pintu mobil dengan keras.


"Dia tuh marah sama kamu, Lim," kata Bagas memberitahu sikap Ave yang jutek.


"Salim merasa nggak punya salah, Mas." Salim memang tak paham.


"Ya ampun Salim. Waktu pembagian otak kamu ke mana, sih? Kamu nggak kebagian otak cinta, ya?"


"Benar Mas Bagas. Salim tak mengerti. Dari kemarin non Ave jutek sama Salim."


Bagas menepuk dahinya karena Salim tak pernah mengerti uusan cinta.

__ADS_1


"Kalau bahasa inggrisnya Jealous. Nah cari deh kata itu." Bagas memberi instruksi dan masuk ke dalam mobil.


Salim tahu arti kata itu. Ia tersenyum sendiri saat menyadari kesalahannya.


"Apa benar Ave cemburu pada teman-teman wanitanya?"


******


"Selamat ulang tahun Ave," uap si nyinyir Gayatri waktu aku sudah sampai di kampus.


"Iya Kak. Terima kasih," jawabku sambil menerima kado dari Gayatri.


Tumben dia baik sama aku. Pasti ada alasan di balik ini semua.


"Hai cantik. Bagaimana kadonya? Mudah-mudahan kamu suka ya." Suara khas kak Dimas di sampingku.


Benar kan? Nggak mungkin si mulut nyinyir berbaik hati kepadaku.


"Oh jadi kakak yang membawa kado itu. Ave pikir kak Gayatri."


"Iya aku menyuruhnya biar dekat sama kamu. Siapa tahu nanti kamu jadi pacarku." Kak Dimas terkekeh dengan kalimatnya.


Pacarku? Aduh kak Dimas ini. Kok belum mengerti juga sih. Ave kagak suka sama kak Dimas.


"Vel, kamu nggak apa-apa?" tanyanya saat aku tak mendengarnya.


"Ave tidak apa-apa. Ave ke kelas dulu, ya. Terima kasih kadonya." Aku undur diri dari kak Dimas menuju kelas.


Sebelum aku masuk kelas. Aku mendengar suara sahabat cemprengku berbicara dengan Kak Dimas.


"Kayaknya kak Dimas tidak akan pernah bisa mendapatkan Avel deh." Kata Ayu sambil menatapku. Aku memelototi matanya agar berhenti bicara.


"Memang kenapa, Yu?"


"Nanti kakak ya tahu sendiri. Iya kan Ran?" Lanjutnya sembari makan permen karet. Rani mengangguk saja.

__ADS_1


\=**Bersambung\=


Wah Salim punya saingan nih**.


__ADS_2