Nona Kecil

Nona Kecil
Part 8 Ketahuan


__ADS_3

Mohon saran dan kritiknya....


°


°


°


Terdengar suara ribut dari arah luar. Ambar dan Ave segera mencari sumber suara tersebut. Di teras mereka mendapati Brata yang sedang menjewer telinga anak lelakinya.


"Aduh ayah ... sakit. Jangan dijewer terus telinganya Bagas." Bagas meminta ampun.


"Ada apa toh, Pak? Kok Bagas dijewer telinganya?" Ambar tak terima anaknya dijewer dan mengelus telinga Bagas.


"Ibu tidak tahu jangan memarahi bapak seperti itu toh?" Brata membela diri.


"Bapak nggak cerita. Mana ibu tahu?"


"Tadi waktu di jalan, ayah lihat Bagas. Mana ada mahasiswa di sore hari nongkrong di jalanan sama anak gadis orang. Nggak sopan, Le. Bawa anak gadis nongkrong di jalanan."


"Bagas bukan nongkrong di jalan, Yah. Bagas ada tugas." Bagas membela dirinya.


"Sudah ayah nggak mau dengar lagi. Jangan pacaran dulu sebelum Mbakyu Rarasmu menikah," tegur Brata keras.


"Oh Mbak Dian itu namanya, Yah. Ave sering ketemu sama pacarnya Mas Bagas. Baik orangnya." Ave berusaha membela kakaknya.


Brata menghentikan langkah kakinya saat Ave mengatakan sesuatu dan menoleh sekilas.


"Oh jadi Cah Ayu sudah kenalan sama pacarnya Masmu?" Cerca Brata.


"Iya ayah. Namanya Dianita Lana Cahyadi. Dulu Mbak Dian itu kakak kelas Ave. Tenang deh, Yah. Mbak Dian itu sama kayak kita kok. Keluarga ningrat." Ave menengahi perkataan ayahnya.


"Oh ... jadi ayah ingin mencari menantu yang setara dengan kita? Apa, sih, untungnya memiliki calon mantu ningrat?" Bagas terlihat marah.


"Itu sudah menjadi adat kita. Mencari menantu dengan Bibit, bebet dan bobot."


"Oh, ya? Bagaimana dengan Salim? Bukannya dia itu hanya anak sopir?" Ejek Bagas dengan nada marah.


Ave tertegun dengan perkataan kakaknya.

__ADS_1


Brata terhenyak dengan perkataan anaknya."Kamu tidak tahu apapun tentang Pakde Malik. Jaga ucapanmu, Bagas. Ayah tak ingin kau berbicara seperti itu lagi."


Bagas segera pergi meninggalkan ayahnya yang sedang marah.


"Nak, mau ke mana? Ini hampir malam." Ambar berteriak memanggil Bagas yang keluar naik sepeda motor.


"Sudah toh, Pak. Biarkan saja dia pacaran. La wong belum tentu menikah." Ambar berusaha memberi pengertian kepada suaminya.


Brata menghiraukan ucapan Ambar dan melenggang masuk ke kamar. Di samping rumah, mereka tak menyadari jika Salim mendengar percakapan itu.


******


Setelah tiga hari Ospek yang melelahkan akhirnya Ave dan teman-temannya sudah memasuki awal untuk menerima pelajaran mata kuliah. Ave dan dua sahabat karibnya mengambil jurusan Public Relation.


"Aduh gua lapar nih," kata Ayu memegang perutnya.


"Sama nih. Gua lapar banget," timpal Rani segera lari menuju kantin.


"Lu mau makan apa, Vel?" tanya Ayu di sebelah Avel.


"Aku makan sandwich dan susu cokelat aja, ya. Boleh minta tolong pesankan, Yu." Avel sedang tidak berniat mengantri karena trauma dengan Gayatri.


"Oke deh. Lu cari tempat duduk buat kita, ya." Ave mengangguk.


"Non, kok sendiri? Mana Ayu dan Rani?" Salim menghampiri Ave yang duduk sendiri.


"Lagi cari makan." Ave jawab singkat.


"Non, sakit, ya?" tanya Salim khawatir saat melihat Ave pucat.


"Oh jadi kamu Kacung (pembantu) ya, Salim?" Hina Bisma yang tak suka dengan Salim.


"Kak Bisma bisa bicara yang sopan?" Kata Ave ketus memandang tak suka pada Bisma.


"Kenapa nona muda? Kamu nggak suka, ya sopir kamu dihina," ulangnya lagi dengan memandang rendah Salim.


"Bisma, hentikan omong kosongmu!" Salim tak kuasa menahan marahnya.


"Eh ... si kacung marah." Bisma dan gengnya tertawa keras.

__ADS_1


Gayatri dan gengnya datang menghampiri mereka dengan pongah.


"Kagak nyangka ya selama ini kamu pembantu setia dari nona manja ini." Gayatri membelai rambut belakang Ave.


"Apa sih yang kamu suka dari nona manja ini, Salim?" Tanya Gayatri saling berhadapan dengan Salim.


Salim dan Ave masih terdiam dan mendengarkan hinaan mereka.


"Ah ... masa kagak tahu lu, Tri? Nona manja ini 'kan kaya dan siapa tahu pacaran sama anak kaya punya uang banyak?"


Salim menghentakkan meja. Serempak semua yang ada di kantin terdiam.


"Sudah cukup Bisma! Apa salahku sampai kamu seperti itu? Sejak kita awal masuk kuliah. Kamu selalu menghinaku." Salim murka dengan perkataan Bisma.


"Karena gue kagak suka sama lu. Lu itu hanya anak sopir. Nggak pantas lu kuliah di tempat elite ini. Benar 'kan teman-teman?" Bisma mencari dukungan temannya.


Semua mengangguk karena takut dengan Bisma yang notebene ayahnya donatur di sini.


"Kak Bisma bisa tutup mulut comberanmu itu?" Sengit Ave dengan tatapan marah.


"Apa lu ngomong? Mulut gua comberan," amuk Bisma tak terima.


"Kak Bisma. Saya tahu ayah anda donatur di kampus ini. Tapi coba bayangkan jika saya cerita kepada yang lain siapa ayah anda sebenarnya?" Hardik Ave dengan berani.


"Jaga ucapan lu, ya anak manja. Gua bisa tampar lu," ujar Bisma tak terima.


"Tampar aja Bisma," desak Gayatri pongah.


"Ayo Salim. Kita pulang aja. Gerah aku di sini," ajaknya dengan menggandeng tangan Salim menerobos kumpulan orang.


"Tunggu pembalasan dari gua, Salim!" Teriak Bisma.


"Ups ... sorry Kak. Ayu nggak sengaja." Ayu sengaja menumpahkan segelas susu cokelat ke baju Bisma.


"Pergi lu sana," usirnya Bisma jengkel.


Ayu membalikkan badan dan tersenyum sendiri.


\=Bersambung\=

__ADS_1


Bibit, bebet dan bobot di sini artinya mencari calon menantu dilihat dari keturunan keluarganya. Dari kekayaannya, dari watak.


Mungkin ada yang bisa menjelaskannya. Saya tahu tapi untuk menjabarkannya susah. He..he..


__ADS_2