Nona Kecil

Nona Kecil
Part 35 Masa Lalu Ave


__ADS_3

Mohon saran dan kritiknya....


°


°


°


Jalan yang harus di lalui Salim begitu sulit untuk memenangkan haknya sebagai ahli waris yang sah dari kakeknya. Sang paman tak hentinya meneror keluarganya bahkan keluarga Jayanatra. Belum lagi ayahnya Dimas yang menginginkan Ave menjadi menantunya. Salim tak menginginkan nona kecilnya menjadi taruhan hanya karena warisan dan kekuasaan. Jika Ave sampai menikah dengan keluarga Dimas yang sengsara adalah Ave. Karena nona kecilnya hanya sebagai alat untuk memuaskan kekuasaan ayah Dimas. Jika Ave menjadi menantu Tri Harimurti dan segala warisan jatuh ke tangan Ave maka warisannya Ave akan disalahgunakan oleh Dimas dan ayahnya.


Salim tidak pernah merasa terbebani dengan keadaan ini. Dulunya iya, tetapi Salim tahu semua masalah datang dari paman Husni yang haus akan kekuasaan dan kekayaan. Ia mencoba untuk bersabar menghadapi setiap masalah yang ada. Ia yakin Allah masih berada di pihaknya.


"Hayo melamun lagi, ya?" Kejut Ave dari belakang. Salim terperanjat.


"Ya ampun Ave. Salim kaget." Pekik Salim yang membuat Ave terpingkal melihat rona wajah Salim.


"Kok Ave malah tertawa sih. Untung jantung Salim kuat."


"Karena Salim lucu," jawabnya seraya duduk di bangku dekat kolam renang.


"Apanya yang lucu toh, Non?"


Ave melotot ke arah Salim karena memanggilnya nona.


"Ya maaf deh Ave. Sudah kebiasaan sejak dulu sih," ulangnya dengan tersenyum.


"Ave maafin." Kekehnya memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi.


"Tumben Ave keluar kamar. Eyang Uti kan melarang."


"Ave bosan," jawabnya pendek.


"Main aja sama anaknya mas Bowo." Tunjuk Jaka kecil yang main mobil-mobilan.


"Ih Salim apaan sih? Masa Ave anak kecil. Umur Ave sudah 20 tahun." Ave menggerutu.


"Karena di mata Salim. Ave tetap anak kecil," kata Salim sambil mengacak poni Ave.


Salim terkekeh saat melihat Ave memanyunkan bibirnya. Seandainya saja ia bisa menyentuh bibir kecil nonanya tetapi itu hal yang mustahil. Bisa-bisa ia akan di marahi oleh ayahnya karena telah melecehkan calon istrinya yang belum sah di mata agama dan pengadilan.

__ADS_1


"Salim,...."Panggil Ave pelan dan kepalanya sedang celingak -celinguk.


"Iy..." Tak sempat mengatakannya. Ave sudah menutup bibir Salim dengan bibir kecilnya. Setelah Ave melakukan itu. Dengan malu-malu ia berlari masuk kekamarnya dengan senyuman penuh arti.


Salim masih terpagu di tempat duduknya. Ia tak menyangka mendapatkan ciuman dadakan dari nona kecilnya.


*****


Ave's Pov


Dengan napas yang masih menderu di dada. Aku menutup pintu kamar dan membaringkan tubuh di atas kasur yang empuk. Sebenarnya malu aku melakukan itu, tetapi Salim tak mau mengambil tindakan lebih dulu sih. Maklum Salim itu orang kolot.


Meskipun kami sudah bertunangan tetap saja Eyang Yaya dan ayah tidak memperbolehkan kami untuk sekedar berpegangan tangan saja. Duduk berdua di tempat yang sepi sekalipun di larang oleh Eyang Yaya. Apalagi jika ketahuan Eyang Uti. Seperti kereta api yang tak berhenti yang akan memberitahu kami. Tidak boleh inilah. Tidak boleh itulah. Bahkan jika naik sepeda saja, kita dibuntuti oleh si jabrik Jaka anaknya Mbak Mira.


Aku ingin bebas seperti teman-teman yang lainnya. Berkencan berdua dengan orang yang kita cintai. Tapi aku tak bisa bebas seperti mereka.


Ada suara berdehem dari kamarku.


"Mbakyu Raras." Teriakku saat mendapati mbakyu tersayangku.


"Aduh yang lagi jatuh cinta. Sampai nggak sadar ada orang masuk ke kamarnya," canda Mbak Raras yang sudah duduk di atas kasur.


Mbakyu Raras malah tertawa saat melihat rona wajahku memerah.


"Adiknya mbakyu sudah besar ya? Nggak nyangka jika kamu dulu yang waktu kecil sering buntuti Salim akhirnya mau menjadi suami istri." Mbakyu menatapku dengan lekat.


"Oh, ya Mbakyu. Ave mau tanya," ujarku mendekati Mbakyu Raras.


"Mau tanya apa toh, Dek?" Mbakyu membelai rambutku yang sudah menjadi kebiasaanya.


"Apa benar Ave jatuh dari pohon dan menyebabkan mata Ave tak bisa melihat? Tapi kenapa Ave tak bisa mengingatnya?"


Mbakyu langsung terdiam saat aku menanyai perihal kebutaanku waktu kecil.


"Apa benar mbakyu?" Aku menggoncangkan tangannya agar memberi jawaban.


"Kamu ngomong apa toh, Dek? Wes nggak usah dipikir lagi." Hanya jawaban itu yang aku peroleh sesaat sebelum Mbakyu Raras pergi dari kamarku.


Apa benar aku jatuh dari pohon? Mengapa kenangan itu tidak pernah ada di otakku?

__ADS_1


Lebih baik aku tanya ayah dan ibu suatu saat nanti. Untuk sekarang aku ingin membayangkan wajah Salim yang pastinya malu atas ulahku tadi.


*****


Tanpa Ave sadari. Di depan kamarnya Bagas mendengar semua percakapan antara Ave dan Raras. Ada rasa sesal dan sesak di dada saat mengingat kejadian itu. Bulir air mata Bagas merembes di tulang pipinya. Saat Raras keluar dari kamar Ave. Raras menatap wajah adik laki satu-satunya dengan sendu. Raras tak bisa berkata apapun selain memeluknya sebagai rasa kekuatan.


Jika saja waktu dapat berputar maka Bagas akan senang hati kembali. Jika saja waktu itu Bagas tak menuruti teman-temannya membolos. Ayah tak akan marah sebegitu besarnya yang membuat Bagas kecil emosi dan karena kemarahannya kepada ayahnya membuat Bagas berani mencelakai adiknya sendiri yang sedang bermain di atas pohon bersama Salim.


Dengan emosi yang merajai jiwanya. Bagas naik keatas pohon dan menjatuhkan Ave kecil dari ketinggian. Naas bagi Ave kecil. Kepalanya membentur batu besar di bawah pohon. Salim yang dari kamar mandi sontak berteriak. Sejenak ia melihat Bagas berada di atas pohon tersenyum menyeringai.


Seluruh keluarga panik mendapati Ave dalam kondisi kritis. Matanya didiagnosa tidak dapat melihat lagi. Semua syok mendengarnya. Akhirnya donor mata diterima dari pengorbanan ibunya Salim. Sudah tak terhitung balas budi keluarga Jayanatra kepada keluarga Malik.


Ave kecil harus menjalani serangkaian operasi yang memakan waktu lebih dari lima jam. Ambar tak hentinya menangisi putri bungsunya yang masih berada di dalam kamar operasi. Meskipun tahu yang mencelakai Ave adalah kakaknya sendiri. Mereka tak bisa memberi hukuman bagi Bagas karena mereka takut jika Bagas akan kabur dari rumah. Mereka semua menutup mulut sampai detik ini.


Sejak saat itu hubungan Bagas dan ayahnya tak harmonis lagi. Mereka kadang tak pernah bicara maupun bertegur sapa. Sering terjadi konflik antara mereka berdua. Ambar selaku ibunya tak bisa berbuat apapun.


Bagas berjalan gontai menuju halaman rumahnya. Untuk saat ini menaiki sepeda motornya dengan kecepatan tinggi akan membuatnya nyaman.


******


Salim's Pov


Aku terguncang saat melihat nona kecilku terluka akibat ulah kakaknya sendiri kala itu. Dengan mata kepalaku sendiri, aku melihat Bagas mendorong Ave hingga terjatuh dan kepalanya membentur batu besar tempat yang biasanya kami duduk.


Mata Ave tak bisa melihat lagi. Tiap hari kami berbohong kepada nona kecilku mengatakan jika lampu padam. Karena ia akan menjerit jika gelap. Sampai sekarang ia takut akan gelap.


Dengan kondisi Ave seperti itu dan keadaan ibuku yang sakitnya semakin parah membuat aku tak bisa berbuat apa-apa sebagai anak kecil hingga akhirnya ibu menyerah terhadap sakitnya. Pesan terakhir ibu yang pernah ayah sampaikan kepadaku adalah memberikan kornea matanya kepada Ave.


Ayah menyembunyikan ini semua dari aku sampai aku tahu kebenaran yang sesungguhnya ketika berusia lima belas tahun. Ayah sengaja tak memberitahu kepadaku karena aku masih labil waktu itu. Ayah takut jika aku marah dan benci kepada Ave karena Ave menerima donor mata dari ibu.


Tak pernah terbersit di kepalaku sedikitpun untuk marah dan benci kepada Ave maupun keluarga Jayanatra. Aku bersyukur kepada mereka karena mereka mau menampung dan merawat ibu yang saat itu kondisinya sudah mulai sakit.


Hari ini aku melihat Mas Bagas meneteskan air mata untuk pertama kalinya sejak Ave mengalami hal itu. Aku tahu Mas Bagas tak mau melakukan hal itu. Aku tak menyalahkan Mas Bagas karena aku tahu dia memiliki emosi yang tinggi dan jiwanya masih labil waktu itu.


Aku berharap Ave setelah mengetahui kenyataan ini. Ave tak marah ataupun dendam kepada kakaknya.


\=Bersambung\=


Bagaimana reaksi Ave jika mengetahui kebenarannya?

__ADS_1


__ADS_2