
Mohon saran dan kritiknya...
°
°
°
Tiga Bulan Kemudian
Operasi yang dilakukan oleh Ave berjalan dengan lancar meskipun sekarang keadaan Ave masih belum pulih total. Semua senang akan keberhasilan operasi ini. Salim terlihat bahagia orang yang ia cintai masih bersamanya. Ia tak mau peduli dengan apa yang akan terjadi ke depannya asal bisa melihat Ave kembali.
"Nak Salim ...." Panggil Brata kepada Salim.
"Iya Ayah," jawabnya santun.
"Ayah tahu Nak Salim sangat menyayangi Ave. Ayah tahu juga jika Ave tak bisa lepas darimu."
"Ayah tak ingin menghalangi kebahagian Nak Salim selama ini. Jika Nak Salim tak menginginkan Ave menjadi istri maka kami keluarga Jayanatra akan menerimanya dengan lapang dada," jelas Brata yang membuat Salim sedih.
"Maksud ayah?" tanya Salim.
"Nak Salim tahu bukan? Jika Ave sakit selama ini dan---." Brata tak mau menjelaskan.
"Ave tidak akan bisa memiliki anak, bukan?" Salim to the point.
Semua terkejut mendengar perkataan Salim.
"Ayah, jangan pisahkan Salim dengan Ave. Salim menerima semua kekurangan Ave. Salim tak menginginkan anak. Salim tidak akan bisa hidup tanpa Ave. Ave adalah pilihan hati Salim sejak kecil. Jadi Salim mohon kepada kalian semuanya jangan pisahkan kita." Pinta Salim dengan emosi yang mendalam menahan tangis.
"Opo kowe yakin, Le? Cah Ayu ora isa mengandung anakmu, Le," kata Eyang Yaya memberi pengertian. [ Apa kamu yakin, Le? Cah ayu tidak bisa mengandung anakmu, Le. ]
"Eyang ora tega karo kowe," lanjut Eyang Yaya mengelus pundak Salim. [ Eyang tidak tega sama kamu ]
"Ave tidak akan bisa memberimu seorang anak, Lim. Jika sampai ia melakukannya maka nyawa taruhannya," lirih Ambar di samping Brata.
"Salim tidak peduli dengan semua itu. Salim tak butuh anak. Salim hanya ingin Ave bahagia," isak Salim.
"Nak, tenangkan dirimu," ujar Jaka kepada putranya.
"Apapun yang terjadi Salim akan menikahinya. Ave tak pernah tergantikan oleh siapapun." Salim berlalu meninggalkan ruangan rumah sakit dengan isakkannya.
Semua terdiam mendengarnya. Tidak lagi yang dapat mencegah keinginan Salim saat ini.
"Apa benar yang dikatakan mereka, Lim?" Tangan Salim dicekal oleh Ayu.
"Lim, mereka tidak bohong? Terkejut Rani mendengar semuanya.
"Salim!" Teriak Ayu yang bergema.
"Maaf. Salim tidak bisa menjelaskan sekarang." Kabur adalah cara Salim untuk tidak bicara.
Kedua teman Ave saat merasa bumi yang dipinjak berguncang. Rani yang biasanya cerewet hanya terduduk diam di bangku rumah sakit.
*****
Salim's Pov
"Bagaimana bisa mereka menyuruhku melepaskanmu, Nona kecilku?" Ucapku dengan lirih di samping Ave yang terbaring.
"Tidak peduli apapun keadaanmu. Salim akan selamanya bersamamu."
__ADS_1
"Biarpun Ave tak bisa memiliki anak. Tak masalah bagi Salim. Salim tidak akan pernah menikah atau mencintai wanita lain selain nona."
"Bangunlah nona kecilku. Salim sangat merindukan cerianya nona. Tawanya nona dan keusilan nona."
Aku menggenggam jemari kecilnya. Selang infus yang menempel di tanganmembuatnya semakin tak berdaya. Aku tak akan pernah mau kehilangan dia. Cukup ibu yang pergi. Jangan ada lagi kematian untuk orang yang aku cintai.
Tiap aku berbicara. Aku tahu ia mendengarkanku karena aku melihat tetesan air mata yang mengalir di wajahnya.
"Jangan menangis, Ve. Kamu akan jelek jika menangis," ejekku walaupun ia tak akan tertawa atau memajukan bibirnya.
"Cepat bangunlah. Ayu dan Rani senantiasa mengunjungimu."
"Kau tahu, Vel? Rani sekarang tidak seperti dulu. Ia tidak mengemil dan mengambil makanan milikku lagi." Aku menceritakan setiap kejadian yang terjadi tiap harinya.
"Oh, ya Vel. Paman Husni dilaporkan ke polisi oleh rekan bisnisnya atas penipuan."
Hari ini adalah hari kesepuluh aku menceritakan semua kejadian sehari-hari. Ia belum juga membuka matanya untuk kami. Aku berharap ada suatu keajaiban untuk membangunkannya.
*****
Lebih dua bulan lamanya Ave tertidur panjang. Semua keluarga khawatir dengan keadaan Ave. Menurut dokter jantungnya tidak bermasalah. Kemungkinan pasca operasi yang menyebabkan Ave masih dalam keadaan tak sadar. Tiap hari banyak yang mengunjunginya dan bergantian menjaganya.
Di suatu sore Salim tanpa sengaja melihat jemari Ave yang mulai bergerak. Ia dengan sigap memanggil suster untuk segera memeriksa keadaan Ave. Perlahan tapi pasti Ave sudah mulai membuka matanya meski masih sayu menatap semua keluarganya yang sudah berkumpul.
"Ini suatu keajaiban, Brata," ucap sang dokter seraya memeriksa Ave.
"Matur suwun Gusti. Gusti Allah wes sembuhake Cah Ayu." Eyang Yaya tak berhenti mengucap syukur atas kesembuhan Ave.
"Ibu senang akhirnya kamu sadar, Nak. Cah Ayu sudah buat ibu panik selama beberapa bulan ini." Ambar berbicara tegar walau masih terlihat jelas guratan kesedihan di wajahnya.
Ave hanya mengangguk tanpa bisa berbicara. Semua pernapasannya dipasangi oksigen untuk bernapas.
"Salim di mana, Bu?" Tanya Ave dengan suara yang pelan.
"Kamu haus, Nak? Apa perlu ibu ambilkan air?" Cerca Ambar dengan sejumlah pertanyaan.
"Wes toh nduk. Biarno Cah Ayu istirahat sek," omel Eyang Uti yang melihat tingkah Ambar yang cemas.
Ave merindukan suasana ini. Merindukan semuanya. Ingin ia segera bangkit dari kasurnya dan mengatakan bahwa Ave sangat merindukan keluarganya.
******
Ave's Pov
Ternyata aku sudah bulan tertidur di kasur rumah sakit ini. Punggungku rasanya terlihat pegal semua. Kata dokter itu efek tidur yang lama. Aku memperoleh jantung yang baru berkat seorang wanita yang dermawan. Aku masih bisa hidup dan menikmati semua pemberian Allah.
"Hai nona kecil. Apa kabarmu?" Sapa Salim saat masuk di kamar rumah sakit.
"Ave baik -baik saja, Salim," ujarku sambil menatap mata indahnya.
"Salim merindukanmu, Ve." Pelan saat ia mengatakannya, tetapi aku bisa mendengar.
Aku agak bergeser dari tempat dudukku dan mata kami saling berhadapan. Aku mencium pipinya dan tersenyum. Salim malu.
"Ave juga merindukan Salimku."
"Ah ... Ave. Nanti ketahuan Eyang Yaya kalau Ave berani mencium Salim," katanya dengan tersipu malu.
Aku terkekeh mendengarnya. "Biarkan saja."
Suasana kembali hening saat Salim menggenggam jemariku.
__ADS_1
"Maafkan Salim, ya Ve," tuturnya.
"Untuk apa, Lim?"
"Karena Salim tidak tahu jika waktu di penginapan Ave sudah sakit." Kesahnya dengan sedih.
"Nggak apa-apa, Lim. Justru Ave yang meminta maaf karena Ave tidak bisa memberimu kebahagian yang ingin kamu miliki," sahutku dengan suara bergetar.
"Maksud Ave apa?" Salim membelai rambutku.
"Ave tahu jika Ave tidak mungkin bisa memiliki dan melahirkan anak yang Salim inginkan."
Salim tidak terkejut. Dia malah tersenyum manis.
"Salim tidak menginginkan anak dari Ave. Bagi Salim adanya Ave sudah lebih dari cukup."
"Tapi bagaimana jika Ave menginginkan anak? Ave ingin melahirkan anak untuk Salim walau nyawa taruhannya."
"Jika Ave berbicara seperti itu lagi. Salim akan berpura--pura tidak mendengar." Raut wajah Salim berubah.
"Ave ingin merasakan menjadi seorang ibu, Lim?" Desakku kepadanya.
"Kita bisa mengadopsi seorang anak," pinta Salim.
"Itu berbeda, Lim. Aku ingin merasakan bagaimana melahirkan." Kataku keukeuh.
"Sekali tidak ya tetap tidak, Ve. Dengarkan apa kata Salim." Ia agak marah.
"Tapi Salim---."
"Tidak ada kata tapi." Salim mulai kesal atas ucapanku akhirnya ia pergi.
"Salim tidak butuh seorang anak. Yang Salim butuhkan hanya Ave," ujarnya sebelum Salim keluar dari kamarku.
Aku menatap punggungnya dari kejauhan. Aku tidak tega jika suatu hari nanti aku tiada. Siapa yang akan menjaganya selain anak-anak kami.
"Maafkan Ave, Lim."
******
Salim's Pov
"Bagaimana bisa ia mengucapkan kata itu?" Aku mengacak rambutku saat di taman seorang diri.
"Sudah aku katakan berulangkali. Aku tak membutuhkan anak. Aku hanya ingin kamu tetap hidup selamanya, Ve." Aku berkeluh kesah sendiri.
"Bagi seorang wanita. Menjadi seorang ibu adalah impian, Lim. Ia ingin merasakan bagaimana mengandung dan melahirkan," sahut Mbak Raras di belakangku.
"Mbak Raras?"
"Mbak mendengarkan percakapanmu dengan Ave tadi."
"Mbak tahu jika Salim tidak ingin Ave memiliki anak. Beda halnya dengan Ave. Ia seorang wanita. Ia juga menginginkan kehadiran seorang anak meskipun kondisi tubuhnya tak memungkinkan." Penjelasan Mbak Raras menamparku.
"Lalu apa yang harus Salim lakukan, Mbak?" tanyaku pasrah.
"Berdoalah. Kita semua tidak pernah tahu rencanaNya. Berserah dirilah kepada Allah," ujar mbak Raras menepuk bahuku.
Satu sisi aku tak mau kehilangan Ave. Di satu sisi lainnya aku juga menginginkan Ave menjadi ibu bagi anak-anakku kelak. Mungkin ada benarnya apa yang dikatakan mbak Raras. Kita tidak pernah tahu semua rencanaNya.
Selagi masih ada waktu. Aku akan terus menjalani kehidupan ini bersamanya hingga batas waktu yang Allah tentukan bagi kami. Entah sampaikan kapan waktu itu. Aku juga tidak tahu. Bagiku sekarang adalah melihatnya tetap tersenyum, tertawa dan melihat keceriannya kembali.
__ADS_1
\=Bersambung\=
Tinggal satu chapter lagi ya. Udah mau tamat nih. Beri kesan maupun pesannya sedikit saja. #ngarep ya. Wkwkwkwkk