Nona Kecil

Nona Kecil
Part 30 Banyak Godaan Kau Tetap Satu


__ADS_3

Mohon saran dan kritiknya....


°


°


°


"Pak, bagaimana jika kita percepat pernikahan Ave dan Salim?" Pikir Ambar saat di ruang tamu.


"Ya tidak bisa, Bu. Keluarga Cahyadi menginginkan dua bulan lagi pernikahan Bagas dan putrinya menunggu di wisuda." Terang Brata memberi pengertian.


"Tapi ibu semakin takut saja tiap harinya. Ibu tak ingin sampai ada kejadian seperti Mustika."


"Mengapa hanya Ave yang diincar oleh mereka?" tanya Ambar merasa sedih.


"Ibu tahu sendiri, bukan? Jika Raras dan Bagas tak menginginkan banyak warisan dari eyangnya. Hanya Ave satu-satunya yang dapat menjalankan warisan eyang Yuyut. Sejak kecil Ave sudah di siapkan menjadi pewaris dari kekayaan Jayanatra oleh bapak," sahut Brata pelan.


"Untung ya Bagas kebagian sedikit warisan dari eyang Yuyut. Kalau sampai Bagas menerimanya. Wah apes sekali hidup Bagas," celetuk Bagas tiba-tiba datang dari arah ruang keluarga.


"Kamu ngomong apa toh, Bagas? Berarti kamu mau adikmu di culik seperti adikmu Mustika? Begitu maksudmu?" Ada raut wajah tak suka dari Ambar saat Bagas mengatakan hal itu.


"Bukan seperti itu maksud Bagas, Bu," kata Bagas melunak. Ia tak tega jika ibunya sedih mengingat kejadian lama.


"Wes toh Le ojo gawe ibumu tambah sedih," potong Brata menengahi.


"Iya Bagas minta maaf, ya bu. Bagas nggak akan bicara seperti itu lagi," kata Bagas sambil memeluk ibunya.


"Jangan biarkan adikmu sendiri jika di luar. Kemarin ayah menerima telepon ancaman dari orang tak dikenal. Itulah yang membuat ibumu takut," kata Brata tenang walau ada rasa khawatir di dalam dirinya akan keselamatan putrinya.


Ave berada di balik tirai yang memisahkan ruang tamu dan ruang keluarga. Ave mendengar semuanya apa yang dikatakan orang tuanya. Ia melangkahkan kakinya dengan gontai menuju tempat favoritnya.


Tanpa Ave ketahui bahwa sebenarnya Husni--ayah Bisma akan mengincar nyawanya agar Salim tak menikahinya sedangkan dari pihak ayah Dimas menikahi Ave agar semua harta kekayaan Jayanatra jatuh ke tangan ayah Dimas dan keluarganya akan memperoleh kekuasaan di Pemerintahan.


Sejak kecil Ave sudah dipersiapkan oleh eyang buyutnya untuk menjalankan perusahaan Jayanatra dan warisannya. Kedua kakaknya tidak mendapatkan hak istimewa tersebut. Kedua kakaknya memahami hal tersebut dan tak menaruh rasa dengki. Karena mereka tahu jika Ave adalah muzizat yang diberikan Allah setelah meninggalnya Mustika.


*****


Ave's Pov


Sebenarnya aku hendak ke taman bunga di teras tapi mataku menangkap sosok Si Gayatri berada di luar pagar bersama Salim. Entah apa yang dibicarakan mereka. Aku penasaran dan menghampiri mereka.


"Hai Vel. Kamu nggak kuliah?" Sapanya basa-basi saat aku di hadapannya.


"Sekarang hari minggu, kan?" Sahutku sebal.


"Oh iya. Maaf aku lupa," jawabnya tanpa malu karena salah.


"Untuk apa kesini?" Sindirku dengan berada di samping Salim.


"Aku mau memberikan undangan ulang tahunku untukmu dan Salim tapi Salim tak mengijinkanku masuk," cerocosnya tiada henti.


Lagi pula siapa yang mau menerima undangan itu.


"Sudah kamu pulang saja, Tri. Nanti Salim usahakan datang," usir Salim sembari mengambil kartu undangan.


"Memangnya aku nggak diijinkan masuk, ya Vel?" Gayatri cemberut saat tak diusir Salim.


"Bukannya nggak boleh, Gayatri. Di rumah ada eyang dan sesepuh lagi rapat. Kita tak boleh menganggu." Aku menyahut pertanyaannya.


"Oh begitu, ya? Sayang sekali padahal aku mau bertamu."

__ADS_1


"Ya lain kali saja kamu datang lagi. Sekarang tidak bisa," usir Salim sekali lagi.


"Bisa nggak sih kamu nggak usir aku, Lim?" Katanya dengan ketus.


Ye dia marah lagi.


"Maafin Salim, Gayatri. Memang Salim orangnya begitu. Kami janji deh nanti kami datang ke ulang tahunmu." Aku menengahi agar tak ribut.


"Awas loh ya kalau kalian tidak datang," sungutnya seraya pergi dari hadapan kami.


"Benar kamu mau datang, Ve?" tanya Salim sembari berjalan masuk ke rumah.


"Ya kita lihat saja nanti." Tawaku dan Salim hanya tersenyum.


******


Salim's Pov


Jika karena bukan Ave yang memintaku datang menemaninya ke ulang tahun Gayatri. Aku pasti bakal menjawab tidak mau. Tapi apa dayaku. Entah kenapa tak bisa menolak permintaannya.


Hari ini ia begitu cantik dengan Longdress yang dijahitkan Eyang Uti.



Ave tak pernah membeli pakaian. Eyang Uti yang menjahitkan semuanya. Meskipun eyang Uti orang kuno, tetapi beliau memiliki pikiran modern urusan mode baju. Ave maupun Mbak Raras sejak kecil tidak diperkenankan memakai celana panjang dengan T-shirt. Pakaian itu kata eyang terlalu ketat.


"Eyang, ayah, ibu. Kami pamit dulu ya?" Ucap kami bersamaan dan mencium tangan mereka.


"Ati-ati ning dalan. Mulih aja bengi-bengi," sahut eyang Uti sebelum kami pergi.


Ave hanya menunduk dan tersenyum.


"Kamu cantik sekali hari ini, Vel," kata teman-teman sekelasnya.


Ave acuh tak menanggapi. Ia memahami bahwa itu hanya alasan saja.


"Kalau Ave tak suka berada di sini. Lebih baik kita pergi saja." Aku merasa Ave tak nyaman.


"Nanti saja. Tunggu makanannya tiba," bisiknya pelan.


Ya ampun pikirannya tentang makan saja.


"Memang kenapa dengan makanannya?" tanyaku heran.


"Ih Salim. Ave ingin mencobanya. Siapa tahu ada yang enak? Nanti aku mau Mbak Mira yang membuatnya," lanjutnya dengan berbisik.


Aku yang berdiri di sampingnya hanya bisa terkekeh mendengarnya. Ada-ada saja kelakuannya.


Akhirnya acara yang dinantikan tiba. Gayatri dengan balutan baju superketatnya membuat aku meringis. Apa dia nggak masuk angin?


"Kok Salim lihat Gayatri seperti itu? Suka ya?" Gerutu Ave saat aku melirik cara berpakaian Gayatri.


"Salim ngeri lihat cara pakaiannya Gayatri yang terbuka sampai kelihatan."Aku tak mampu meneruskan kalimatku.


"Tapi Salim suka, kan?" Ave kesal.


"Salim nggak suka. Salim jijik," jawabku dengan berbisik.


Gayatri menyebut namaku saat ia berpidato. Ave semakin menunjukkan rasa kesalnya.


"Seharusnya yang menemaniku di sini adalah seseorang aku sukai, tetapi sayang ia sudah bertunangan dengan orang lain. Ya kalian tahu siapa yang aku maksud, bukan?" Gayatri menunjukkan jarinya ke wajahku.

__ADS_1


Semua mata tertuju kepadaku. Dimas dan Bisma menajamkan tatapannya dengan sinis.


Gayatri turun dari panggungnya dan menghampiri tempatku berdiri. Ia memegang tanganku.


"Ini adalah pria yang aku sukai, tetapi hari ini ia tidak datang sendiri. Ada tunangannya," sela Gayatri menunjukkan ketidak sukaannya terhadap Ave.


"Apa yang kamu inginkan?" Bisikku dengan nada marah.


"Aku tidak menginginkan apapun dari kamu, Lim. Aku hanya ingin kamu memelukku saja sebagai tanda ucapan selamat ulang tahun," pintanya yang tak mungkin aku lakukan.


Semua hadirin bersorak agar aku memeluknya.


Aku hendak memeluknya, tetapi urung saat melihat Ave sudah belari menuju pintu keluar.


"Maaf. Aku tidak bisa memenuhi permintaanmu. Bagiku kau hanya teman saja. Tidak lebih dari itu," balasku yang aku yakini jika Gayatri tak terima diperlakukan seperti itu.


Aku mengejar Ave dan tak mempedulikan teriakan Gayatri.


"Awas kau Salim. Akan aku hancurkan dirinya," teriaknya.


*****


Ave terdiam sedari tadi sejak pulang dari pesta. Mobil yang di kendarai Salim berhenti di tepi jalan. Salim keluar dari mobil dan mengajak Ave ikut keluar juga.


"Ave masih marah sama Salim?" Salim bertanya pelan.


"Nggak," jawab Ave menundukkan kepalanya.


"Lihat mata Salim." Salim menaikkan dagu Ave untuk menatapnya.


"Salim tahu kalau Ave masih marah atas kejadian tadi, bukan? Jangan berbohong sama Salim," ucap Salim tenang.


"Ave nggak bohong." Ave menundukkan kepalanya agar air mata tidak terlihat oleh Salim.


"Kalau Ave tidak marah kenapa kepalanya ditundukan? Itu kebiasaan Ave jika Ave tidak bisa berbohong," sela Salim sambil memeluk Ave di pelukannya.


Salim mendengar isakan tangis di bahunya.


"Kok menangis?" tanya Salim seraya mengelus rambut Ave yang tergurai.


"Ave takut jika Salim menyukai Gayatri," ujarnya polos.


"Tidak mungkin, Ve. Salim tidak akan pernah menyukai Gayatri."


"Tapi Gayatri itu cantik, seksi dan langsing," sanggahnya yakin.


"Pasti Salim lebih tertarik dengannya daripada Ave," lanjutnya menyanggah diri sendiri.


Salim tertawa menanggapi perkataan Ave yang menurutnya konyol.


"Kok Salim tertawa? Berarti benar apa yang dikatakan Ave, bukan?" Ave melepaskan pelukannya.


"Nona kecilku Aveliena. Selamanya Salim tidak akan pernah tergoda oleh apapun. Meskipun banyak wanita yang seksi menghampiri Salim. Salim tidak akan pernah tergoda. Hanya Ave yang selalu membuat Salim tergoda untuk---". Salim tak meneruskan kata-katanya.


Salim mencium keningnya. Andai saja ia tak berjanji pada ayah dan eyang Yaya untuk tidak menciumnya di tempat "terlarang" pasti sekarang Salim akan mencium bibir kecil Ave dengan polesan lipglossnya.


Salim  kembali memeluknya erat. Tak peduli tatapan orang yang berlalu lalang.


"Ave Ave masih saja pikirannya seperti kanak-kanak." Gumam Salim sendiri.


\=Bersambung\=

__ADS_1


__ADS_2