Nona Kecil

Nona Kecil
Part 38 Tak Akan Berpisah


__ADS_3

Mohon saran dan kritiknya....


°


°


°


Hari ini semua keluarga besar Jayanatra akan berlibur ke tempat penginapan mereka di atas bukit. Tidak lupa mereka membawa serta para pegawai untuk melepaskan penat walau cuma hanya sebentar.


"Wes mari kabeh? Ayo ndang budal." Eyang Yaya tidak sabar menuju penginapannya.


"Tunggu dulu Romo. Cah Ayu masih di kamar mandi," sahut Brata dari arah belakang.


"Ana apa maneh Cah Ayu iku? Lara tah?" Cemas Eyang Yaya.


"Ave sudah di sini, Eyang." Teriak pemilik suara dari arah kanan.


Diikuti Salim di belakangnya membawa banyak barang dan camilan selama perjalanan. Ave tidak biasa naik bus ketika dalam perjalanan jauh. Ia akan mual maka dari itu Salim membawakan permen jeruk.


"Bu, Ave duduk di sebelah Salim ya?" Pinta Ave kepada ibunya saat naik bus.


"Nduk, lungga karo eyang Uti wae yo," kata Eyang Utinya yang di sambut manyun di bibir Ave. [ Nduk, duduk sama eyang Uti saja ]


"Bu, Ave kan sudah mau jadi istri Salim masa duduk berdua saja tidak boleh?" Ave mengambek saat tidak boleh duduk bersama Salim.


"Nduk, duduk sama eyang Uti saja ya. Nurut sama eyang," sahut ibunya lembut.


"Tapi Bu---." Rayu Ave yang ditanggapi dingin ibunya.


"Ave duduk sama Mbak Dian saja, ya. Nanti Salim sama Mas Bagas duduk bersama. Kita bersebelahan," kata Dian dengan senyuman.


"Lah Salim nggak kemana-mana aja dek. Kamu itu kayak polisi saja," ledek Bagas.


"Uh kangmas Bagas ini loh. Memangnya Kangmas nggak begitu juga sama Mbak Dian?" Balas Ave dengan mengejek.


"Udah toh Bagas. Jangan ganggu Ave terus." Interupsi Dian sambil mencubit lengan Bagas.


"Wes ayo ndang budal, Ramlan," sahut eyang Uti sambil memanggil sang sopir bus yang sedari tadi masih di luar hanya untuk mengatur barang bawaan Ave.


"Inggih Eyang."


Perjalanan menuju puncak membawa kesenangan bagi keluarga Jayanatra. Sudah lama mereka tak meliburkan diri dan melepaskan beban walau sebentar.


*****


Salim's Pov


Melihatnya tertidur di dalam bus dengan mulutnya yang terbuka membuatnya lucu. Aku ingin sekali memfotonya langsung lalu dijadikan koleksi album saat kami menikah.


"Sudah aku foto kok caranya tidur," sahut Mas Bagas di sampingku yang sedari tadi asyik memfoto pemandangan di luar melalui jendela.

__ADS_1


"Oh, ya mas? Wah terima kasih, ya," ujarku senang.


"Sama-sama Salim," balasnya pendek.


"Jaga dan sayangi adikku. Jangan biarkan ia sendiri. Ave tidak hidup bisa tanpamu, Lim." Nasehat Mas Bagas kepadaku.


"Iya Mas. Salim akan selalu bersamanya."


"Terima kasih juga berkat ibumu. Adikku dapat menerima donor mata," sahutnya pelan tapi jelas.


Aku tersenyum dan menepuk bahunya.


"Ya Allah nduk. Arek wadon turune kayak ngono." Sudah aku duga pasti eyang Uti akan marah melihat gaya Ave yang tertidur.


Aku dan mas Bagas terkekeh saat melihatnya.


Semakin lama aku semakin menyayanginya. Apapun keadaannya tidak pernah membuat aku berhenti untuk selalu menyayanginya dan menjaganya selama hidupku.


*****


Ave's Pov


Akhirnya tiba juga kami di penginapan ini. Sudah lama kami tak ke sini. Vila milik keluargaku yang selama ini dijaga oleh paklik Agung. Adiknya ibu.


"Yak apa kabare kowe, Gung? Duh kabeh kangen karo kowe," kata Eyang Yaya memeluk paklik.


Paklik Agung terbawa suasana hingga menangis. Ternyata lelaki bisa juga menangis ya sama seperti kangmas Bagas.


"Jadi pohon ini ya yang membuat Ave jatuh?" tanyaku kepada Salim.


"Iya Ve." Seperti biasa jawabannya selalu pendek.


Pohon mangga kini ditebang oleh pakde Jaka saat itu juga. Kata pakde, ibu dan ayah tak mau mengingat apapun tentang kejadian itu. Jadi pohon itu ditebang dan dijadikan tempat duduk.


"Kalau mas ingat pohon ini mas selalu ingat kejadian itu, Dek," kata Kangmas Bagas tiba-tiba.


"Ah, Kangmas. Sudah jangan dibahas lagi. Ave sudah menerimanya kok."


"Nah ayo jangan menangis lagi kayak anak kecil. Ave bukan Mbak Dian loh, ya. Nanti kangmas nangis di bahunya Mbak Dian," celetukku dengan gemas.


"Sudah ah kangmas. Ayo masuk. Buatkan Ave jagung bakar." Aku bergelanyut manja di lengan kangmas Bagas.


Biarlah masa lalu tetap menjadi kenangan dan pembelajaran untuk kami di masa depan. Aku hanya berharap agar Allah tetap menjagaku dan keluargaku.


******


Mira sedang menuju kamar Ave yang tidur bersama Dian. Mira memanggil nonanya karena di suruh oleh ayah dan ibunya.


"Nona, sudah---" Belum selesai Mira berbicara. Mira melihat Ave memegang dada kirinya dengan menahan sakit.


"Ada apa, Non?" Panik Mira melihat nonanya yang pucat.

__ADS_1


"Mbak beritahu ibu, ya." Tetapi tangan Mira dicekal.


"Kenapa, Non? Udah pucat wajahnya, Non."


"Ave tidak apa-apa. Hanya saja belum minum obat, Mbak." Ave meraih botol kecil berisi pil jantungnya di atas nakas.


Saat mengambil obat itu. Pandangan Ave mulai kabur dan jatuh ke lantai. Mira yang panik langsung teriak memanggil semua orang.


"Non, bangun. Jangan membuat mbak Mira takut," tutur Mira dengan cemasnya karena rasa dingin sudah menjalar di tubuh Ave.


Ambar yang datang terlebih dahalu langsung panik saat mengetahui putri kesayangannya tergeletak tak berdaya.


"Apa yang terjadi dengan Ave, Mira?" Sembur Ambar agak marah.


"Saya tidak tahu, Bu. Nona mengeluh dadanya sakit," isak Mira tiada henti.


"Cepat bawa Ave ke rumah sakit. Ambil mobil, Lim." Perintah Brata dengan sigap.


Bagas segera menggendong Ave yang semakin pucat dan dingin masuk ke dalam mobil menuju rumah sakit. Sepanjang perjalanan Ambar selalu menghangatkan tubuh Ave dengan kompres air hangat.


******


Salim's Pov


Sudah berapa kalinya nona kecilku masuk rumah sakit dalam beberapa tahun terakhir ini. Entah apa sebabnya jantungnya sering kambuh. Semua merasa cemas ketika dokter Rudi belum juga keluar dari ruangannya.


"Bagaimana Dok dengan Ave?" tanya ibu dengan cemasnya.


"Iya Rudi. Bagaimana anakku?" Lanjut ayah Brata bertanya.


Dokter Rudi melihat kami dengan perasaan yang cemas dan menghela napas sebelum melanjutkan.


"Maaf Brata. Aku rasa Ave perlu donor jantung lagi. Katup jantungnya bermasalah," kata dokter Rudi dengan tenang.


Semua merasa syok mendengar perkataan Dokter Rudi.


"Ya sudah lakukan saja, Dok," ujar ibu Ambar mendesak.


"Tidak semudah itu mencari donor jantung dalam waktu dekat, Ambar," sahut ayah Brata pelan.


"Ambar mohon. Ambar tak ingin kehilangan dia lagi, Pak," kata ibu Ambar dengan pedih.


"Kami akan melakukan yang terbaik, Ambar," sahut dokter Rudi dengan sabar.


Untuk sementara nona kecilku masuk ruang ICU menghindari penyebaran virus yang akan menyebabkan kerusakan pada organ vitalnya yang lain.


Hampir dua hari Ave tak membuka matanya. Seakan ia tertidur dengan nyenyaknya. Tiap hari kami bergantian menjaganya.


"Salim di sini, Nona. Cepat bangunlah nona kecilku." Aku bergumam dalam hati.


\=Bersambung\=

__ADS_1


Tunggu kelanjutannya ya. Hampir tamat loh.


__ADS_2