Nona Kecil

Nona Kecil
Part 5 Rapat Keluarga


__ADS_3

Mohon saran dan kritiknya. Jangan lupa beri like atau komentarnya.


°


°


°



Author's Pov


Hari ini di Pendopo Ave dikelilingi oleh para orang tua yang menatapnya penuh curiga.


"Wes waras, Nduk."Eyang Uti menanyakan keadaannya. (Sudah sembuh, Nduk)


"Sudah Eyang," jawabnya dibuat sopan mungkin.


"Ave, ayah tahu kamu ingin kuliah, tetapi menurut ayah itu bukanlah hal yang penting sekarang."


"Jadi Ave nggak boleh kuliah?" Ave mengerutkan bibirnya.


"Bukannya nggak boleh kuliah, Ave. Maksud ayah begini, Nak. Kamu tunangan dulu sama Salim dulu baru ayah mengijinkanmu kuliah."


Sepertinya Ave senang, tetapi masalah tunangan Ave belum siap.


"Kalau Ave nggak mau tunangan berarti Ave nggak kuliah?"


Eyang Yaya berdehem. Ave melirik ke ibunya untuk membelanya.


"Kenapa Ave harus tunangan, sih, ayah? Sama Salim lagi."


"Nak Salim iku isa jaga sampeyan, Cah Ayu." Eyang Yaya menginterupsi. (Salim bisa menjagamu)


"Ave sudah besar eyang Yaya. Tidak perlu dijaga," omelnya lagi.


"Nduk, ora sopan ngomongane." Eyang Uti memperingati cara bicara Ave yang tidak sopan. (Tidak sopan bicaranya)


"Yo wes. Ora usah kuliah, Cah Ayu." Eyang Yaya masih terlihat sabar melihat kelakuan cucu bungsunya. (Ya sudah tidak usah kuliah)


"Ya sudah Ave tunangan dengan Salim asal Ave kuliah," gerutunya dengan wajah yang terlihat ditekuk.


Eyang Yaya dan semuanya terlihat senang.


"Coba Salim itu perempuan pasti deh dijodohkan sama Mas Bagas," dengkusnya kesal sambil menatap kakaknya yang asyik main game.


"Untung Mas ini lelaki. Jadi nggak perlu dijodohkan," katanya memanasi adiknya.


"Marine Cak Bagas sing Eyang jodohkan." Eyang Yaya mengutarakan keinginannya. (Sebentar lagi Bagas yang akan di tunangkan)


Bagas hampir saja menjatuhkan ponselnya ke lantai. Ia tak menyangka jika ia juga akan dijodohkan.


"Kapok kamu, Mas," ejek Ave dengan menjulurkan lidahnya.


"Awas kamu ya, Dek," geramnya sambil mengejar Ave yang berlari ke kamarnya.


"Salahnya mas sendiri kenapa juga mengejek Ave semalam," teriak Ave dari kamarnya.


"Pokoknya kena kamu nanti ya, dek. Biar nanti Mas nggak ajak kamu lagi nonton."


"Biarin. Nanti Ave cerita sama mbak Dian kalau mas Bagas jahat sama Ave," ejeknya lagi dengan menyengir.

__ADS_1


Bagas tak bisa berbuat apapun jika Ave sudah menyangkut pautkan Dian, kekasihnya. Dian sangat sayang dengan Ave. Jika Bagas berbuat usil maka Dian yang akan membelanya.


Akhirnya Bagas pergi dengan pasrah. Tak jadi memukul adik satu-satunya.


"Dasar cari pendukung," gerutunya lagi.


******


Ave's Pov


Hari ini kelulusan di sekolahku. Akhirnya selama tiga tahun aku bebas menjadi anak SMA. Senang rasanya apalagi aku tak akan bertemu dengan guru Killer. Pak Budiarto.


"Selamat ya, Avel. Kamu sudah lulus." Ucapan selamat itu ternyata dari pak Budiarto. Guru yang aku tidak suka.


"Oh ... iya Pak. Terima kasih," ucapku basa basi.


"Mari saya tinggal dulu," pamitnya seraya membawa tas berbentuk koper.


"Tumben tuh pak Killer nyapa lu, Vel." Ayu temanku terlihat heran.


"Udah sadar kali tuh orang." Suara cempreng Rani terdengar di telingaku.


"Sebentar lagi lu kuliah di mana, Vel?"


"Tempat kuliahku ada di depan sekolah ini." Aku menunjukan tempat kampus yang ada di seberang jalan.


"Yaelah gue pikir lu bakal nggak kuliah, Vel." Lagi, Rani bersuara.


"Gue pikir lu bakal dinikahkan sama Eyang. Lu tahu sendiri keluarga lu masih menjunjung tinggi adat," timpal Ayu.


"Aku boleh kuliah asal...."


"Asal aku mau dijodohkan."


"Nah apa gue ngomong? Pasti ujung-ujungnya lu bakal menikah di usia muda," ucap Ayu dengan menepuk bahuku.


"Memang siapa jodoh lu, Vel?" Rani mencoba mencari tahu.


"Salim." Aku menjawab dengan menundukkan kepala karena malu.


"Salim? Sopir lu itu?" Sahut mereka serempak.


Aku mengangguk.


"Untung deh lu dijodohkan sama orang yang lu kenal. Coba kagak lu kenal. Pasti nggak enak. Iya kan Ran?"


Rani tak mendengar. Ia malah asyik melihat Salim yang duduk di bawah pohon sambil membaca buku.


"Enak ya lu Vel. Dijodohkan sama Salim. Padahal mau gue sikat tuh sopir lu," ucap Rani tetap melihat Salim.


"Hus. Lu itu Ran. Kagak sopan ngomong begituan."


"Selamat ya Vel atas pertunangannya. Jaga tuh calon suami lu biar kagak diambil orang," saran Ayu.


Memang aku jujur mengakui jika Salim adalah pemuda yang di idolakan oleh semua wanita. Aku tak mengerti kenapa eyang Yaya menjodohkan aku dengannya. Apakah karena kami saling mengenal sejak kecil hingga keluarga menjodohkanku? Entahlah. Tetapi rasa itu belum ada di hatiku.


"Non, kok melamun," tegur Salim di depanku.


"Non sakit lagi?" Ia menanyakan keadaanku.


"Ayo pulang Salim. Nanti eyang marah jika aku lama-lama di sini," ajakku sambil masuk mobil.

__ADS_1


Aku nggak mau kejadian Mas Bagas yang mewarnai seragam kelulusannya tahun kemarin membuat eyang Yaya marah besar. Mas Bagas sampai dihukum oleh ayah karena kebut-kebutan di jalan untuk merayakan kelulusannya. Kata eyang itu perbuatan tidak baik. Eyang Yaya masih berpikiran kuno. Jika hari kelulusan tidak perlu dirayakan. Cukup menggelar doa saja di rumah.


*****


Pak Jaya dan Pak Malik sedang mendiskusikan sesuatu di kediamannya. Mereka tampak serius membahas tentang kelangsungan pertunangan anak-anaknya.


"Malik, tak terasa ya sudah hampir 30 tahun kita bersahabat."


"Iya benar Brata. Kita saja yang semakin tua, ya."


Terdengar gelak tawa dari samping rumah.


"Aku berterima kasih karena kau sudah menyetujui tunangan ini," ucap Pak Brata.


"Jangan begitu, Brata. Aku yang seharusnya mengucapkan itu. Kalian yang menolongku waktu susah dulu," sahut Pak Malik dengan rendah hati.


"Malik, mau sampai kapan kau akan merahasiakan hal ini kepada anakmu jika kau masih...." Perkataannya terhenti saat mendengar anak kesayangannya berteriak dari luar.


"Ayah ...."


"Ayah di mana?" Panggilnya lagi dengan suara melengking.


"Ayah di sini, Nak," jawab Pak Brata di Gazebo.


"Ayah kok tumben di rumah. Tadi Ave ke perkebunan tapi kata Paman Rizal. Ayah pulang."


"Iya ayah sakit kepala."


"Masih sakit ya, yah?" Ave terlihat cemas.


"Sudah mendingan, Nak. Ohm ya bagaimana nilai kelulusanmu, Nak?"


"Awesome, Ayah."


"Apa itu owesom?" Pak Brata bingung dengan perkataan Ave.


"Sempurna, yah. Ave juara dua," ucapnya bangga.


"Terima kasih Allah." Puji syukur dipanjatkan Pak Brata.


"Tapi kata Salim itu biasa." Mukanya masam saat Salim mengatakan juara dua itu hal biasa.


"Jangan dipikirkan apa yang dikatakan Salim, Non. Dia iri," sahut Pak Malik membela Ave.


"Tuh dengerin pakde Malik." Ave cemberut dan mencubit lengan Salim. Ave lari kecil masuk ke kamarnya.


"Auwh ... Non. Sakit." Salim menjerit kecil saat lengannya dicubit.


"Aduh maaf ya Salim. Ave itu masih kanak-kanak walau usianya sudah tua." Pak Brata meminta maaf untuk kelakuan anaknya.


"Tidak apa-apa pakde. Salim sudah biasa."


"Nanti kalau kalian menikah harus sabar dengan Ave ya, Salim," pinta pak Brata.


"Iya pakde. Salim mengerti."


"Jangan macam-macam sama non Ave loh, le. Jaga Ave," pinta ayahnya dengan sungguh.


\=Bersambung\=


Sebenarnya Ave suka sama Salim nggak, ya? Penasaran? Simak saja cerita ini.

__ADS_1


__ADS_2