
Mohon saran dan kritiknya....
°
°
°
Malas sebenarnya aku datang ke kampus hari ini. Seperti ada perasaan tak nyamanm tetapi entah perasaan apa itu.
"Tuh lihat tunangan si Salim. Orang kaya tapi tunangannya kagak punya." Cela semua orang di sekitarku.
Sudah biasa aku mendengarkan gosip maupun ocehan mereka. Aku tak mau ambil pusing.
"Sudah jangan dengarkan mereka. Kagak waras tuh pikirannya mereka." Ayu menepuk bahuku memberi semangat.
"Gosip aja kerjaannya mereka." Tambah Rani yang (masih) makan keripiknya.
"Lu tuh Rani kagak pernah berhenti makan. Ntar gendut baru tahu kau," ejek Ayu yang membuat Rani kesal.
"Mbak Aveliena, kan?" tanya seorang gadis belia di hadapanku.
"Iya. Ada apa?"
"Ada surat buat Mbak. Saya tidak tahu dari siapa?" ucapnya segera pergi setelah memberikan surat.
Temui aku sepulang kuliah di belakang kelas A1.
Dimas
Ayu dan Rani ikut membaca.
"Jangan datang lu, Vel. Ntar ada apa-apa sama lu," cegah Rani dan Ayu.
"Nggak apa-apa. Nanti kalau dia melakukan hal yang nggak baik. Aku teriak aja," selaku seraya berjalan menuju kelas.
"Lu yakin? Gua kagak yakin, Vel. Ntar gua awasi dari belakang deh," kata Ayu yang terkenal dengan keahliannya Wushu.
Aku mengiyakan ucapannya.
*****
"Ada apa kamu mau menemuiku, Dimas?" tanyaku setelah jam kuliah berakhir.
"Kok tidak panggil kakak lagi? Aku suka loh sewaktu kamu panggil aku kakak," candanya yang menurutku garing.
"Ave rasa kamu tak pantas di panggil kakak lagi, Dimas. Kelakuanmu membuat Ave ingin muntah."
"Kamu tambah lucu jika marah." Tawanya menyeringai.
"Jadi alasannya Dimas menemui Ave apa?" Aku mulai sebal karena Dimas tak kunjung berbicara jelas.
"Aku ingin kamu memutuskan pertunangan dengan Salim," ucapnya langsung.
__ADS_1
Emang dia siapanya aku? Kok seenaknya ngomong seperti itu.
"Apa hak Dimas berkata seperti itu?" Aku benar-benar marah.
"Kalau aku menikah denganmu maka status sosial keluargaku bisa naik?" Alasannya tak masuk akal.
"Kenapa harus Ave? Banyak tuh cewek-cewek di kampus yang kaya," dengkusku kesal.
"Karena keluargamu memiliki banyak kekayaan yang tak terkira. Jayanatra memiliki 200 hektare perkebunan teh. Jika aku menikah denganmu maka kedudukan ayahku akan naik."
Dasar orang nggak waras.
"Lalu? Jika Ave menikah dengan Dimas maka keluargamu bakal kaya, dihormati dan disegani?"
"Tepat sekali." Sombongnya dia.
"Tapi maaf, ya Dimas. Ave nggak suka sama Dimas." Aku beranjak pergi tetapi ia malah mau memelukku.
"Pertama kamu memang tidak suka denganku tapi aku bisa meyakinkan kamu jika aku juga bisa seperti Salim."
Untung aku bisa menghindari pelukannya.
"Aku menginginkanmu, Ve," katanya dengan sungguh-sungguh.
"Kamu hanya menginginkan status kekayaan bukan cinta," sanggahku dengan sangat kesal.
"Aku tak peduli. Yang aku tahu kau sudah menjadi milikku." Teriaknya dengan lantang.
Dimas menghampiriku. Aku berjalan mundur takut dengan tatapannya.
"Lepaskan dia, Dimas!" Aku mendengar suara Salim di belakangku.
Segera Salim menyuruhku berada di belakang punggungnya.
"Untuk apa Ave ke sini? Untung Ayu memberitahu Salim," bisiknya pelan.
"Sudah bicaranya?" Kata Dimas berjalan maju di hadapan kami.
"Apa kamu inginkan, Dim?" Belum cukupkah kamu dan keluargamu menghancurkan keluargaku?" Ucap Salim tajam.
Ada hubungan apa ayah Dimas dan keluarga Salim? Semakin rumit saja.
"Yang seharusnya menikah dengan Ave itu bukan kamu tapi aku. Sejak kecil ayah sudah menjodohkan aku dengannya." Dimas memberitahu penuh penekanan.
Apa maksudnya? Kenapa aku semakin bingung.
"Sudah cukup! Jangan kau ulangi lagi perkataanmu. Hentikan sekarang juga!" Bentak Salim yang membuat aku kaget. Bukan seperti Salim.
Dimas tertawa terbahak-bahak. "Asal kamu tahu saja nona kecil yang manja. Eyangmu yang merepotkan itu tak mau jika ayahku naik pangkat karena tindakan yang tak baik dan membatalkan pertunangan antara kita. Ayahku dendam kepada eyangmu yang sok kuasa," jelasnya yang membuat aku terpana.
"Akhirnya ayah Bisma mengajak ayahku kerjasama untuk menghancurkan keluargamu, Nona manja. Ayahkulah yang mengusulkan untuk menculik Mustika karena sakit hati atas perlakuan keluarga Jayanatra. Aku berterima kasih kepada ayah Bisma yang akhirnya membuat jabatan ayahku seketika naik." Lanjutnya dengan pongah.
"Hentikan ucapanmu yang tak masuk akal, Dimas!" Marah Salim.
__ADS_1
"Hei Bung! Jangan pernah mencoba menghentikan aku. Sejak semula aku yang berhak berada di sampingnya," tuturnya dengan menatap tajam ke arahku.
"Kau bukan ingin berada di sampingnya, tetapi karena kekuasaan yang dimiliki Eyang Yaya yang akan membuat ayahmu semakin berkuasa." Ucapan Salim membuat aku tertohok.
Dimas bertepuk tangan dengan senyumannya yang licik.
"Benar katamu. Tapi sayang dia malah memilih kamu!" Sengitnya dalam berucap.
"Sudah cukup, Dim--------"
Aku tak mendengarkan lagi perkataan mereka. Kepala terasa pusing dan napasku sesak. Mataku kabur dan berkunang-kunang yang aku ingat Salim menggendongku dan belari.
*****
Samar-samar Ave membuka matanya. Ia berada di rumah sakit.
"Ana apa maneh toh iki?" Ucap Eyang Uti sendu.
"Sudah, Bu. Tenang saja. Kata dokter Ave baik-baik saja asal jangan kebanyakan pikir," ucap Brata tenang.
"Bagaimana aku bisa tenang Pak'e? Kalau Ave pingsan seperti ini. Apa lagi yang diinginkan oleh mereka?" Kata Ambar jengkel.
"Wes Cah Ayu. Sing sabar. Bapak ora nyangka Arif sampek kaya ngono. Untung biyen putuku sing ayu iki ora sida kawin karo anak.e Arif." Ucap Eyang Yaya penuh wibawa. (Untung bapak tidak menjodohkan cucu bapak dengan anaknya Arif)
"Iya bapak sudah melakukan hal yang benar," sahut Ambar kalem.
"Ibu..." Ave memanggil ibunya ketika membuka mata.
"Iya, Nak. Ini ibu. Ave haus?" tanya Ambar senang saat melihat Ave sudah sadar.
"Apa yang terjadi, Bu?" tanya Ave pelan.
"Ave pingsan di kampus tadi." Brata menimpali.
"Bukan maksud Ave itu, apa yang terjadi dulu? Apa benar Ave mau dijodohkan oleh Dimas dulu?" Ave tiba-tiba bertanya.
Semua terdiam termasuk Salim dan ayahnya.
"Eyang Yaya cerita sama Ave apa yang terjadi dulu?" Desak Ave ingin tahu.
"Nama ayahnya Dimas adalah Arifin. Dia dulu hanya seorang polisi yang belum memiliki pangkat tinggi. Eyang Yaya berteman dengan Arif, tetapi kebaikan Eyang Yaya disalahgunakan oleh Arif. Ia menginginkan perjodohan antara anak-anak. Waktu itu Dimas berusia setahun, Ave masih di perut Ibu. Arif ingin menjadi besan eyang jika anak yang dilahirkan ibumu adalah perempuan agar ia memiliki kekuasaan. Namun, Eyang tak suka cara seperti itu lagipula Arif melakukan tindakan tak terpuji. Ia menabrak orang hingga terluka masuk rumah sakit dan lari dari tanggungjawab. Ia pikir eyang bisa membebaskannya karena eyang memiliki koneksi dengan Kapolri saat itu, tetapi eyang tak mau. Akhirnya Arif tak di penjara, pangkatnya diturunkan lebih rendah. Sejak saat itu ia dendam dengan keluarga Jayanatra dan bekerjasama menculik Mustika." Brata membuka kisah lama yang membuat kekacauan dalam hidup keluarga Jayanatra.
Ave tertegun sejenak. Sepelik itukah masalah yang dihadapi oleh keluarganya dan keluarga Salim?
Hanya karena kekuasaan dan harta?
"Jadi karena itukah Ave dijodohkan dengan Salim?" Ave menyahut dengan pelan.
"Bukan, Nduk. Memang sejak awal niat Eyang menjodohkanmu dengan Salim bukan Dimas," sambung Brata memberi penjelasan.
Masih panjang perjalanan yang Ave dan Salim lalui untuk mereka bisa bersama.
\=Bersambung\=
__ADS_1