Nona Kecil

Nona Kecil
Part 15 Rahasia Yang Terkuak


__ADS_3

Mohon saran dan kritiknya....


°


°


°


Ave's Pov


Hari ini tidak ada kuliah, tetapi aku tidak boleh bermalas-malasan. Di rumah ini kami harus bangun subuh. Jangan harap ada yang molor. Eyang Uti dengan cerewetnya akan membangunkan kami. Kami akan berolahraga pagi di teras depan. Entah sekedar lari kecil atau hanya menghirup udara pendesaan yang masih fresh.


Selesai sarapan pagi. Aku bergegas ke perkebunan. Sudah seminggu aku belajar tentang manajemen keuangan di sini. Sebetulnya pusing lihat angka itu. Untung ada Salim.


"Loh Eyang mau ke mana?" tanyaku saat mendapati Eyang Yaya duduk di kursi depan mobil.


"Loh yo menyang perkebunan toh karo Cah Ayu lan Salim." [ Loh ya ke perkebunan sama Cah Ayu can Salim ]


Nah itu. Kemana pun aku dan Salim pergi selalu ada Eyang Yaya. Eksis banget Eyang Yaya ini.


"Kan Ave sama Salim bisa pergi sendirian, Eyang. Tidak perlu ditemani. Lagipula di sana Pakde Malik."


"Ora oleh Cah Ayu. Sampeyan iku sek durung tunangan. Nggak oleh lunga dewean karo Salim. Kudu ana kancane. Ya eyang iki." (Tidak boleh kalau belum tunangan tidak boleh pergi berduaan)


Itulah pemikiran Eyang Yaya. Sebelum sah menjadi tunangan. Kami tidak boleh pergi berduaan saja. Bukan muhrim kata Eyang. 


Sepanjang hari ini aku akan merasa bosan jika ada sang pengawas.


*****


Salim's Pov


"Kau itu tak pantas menyandang nama Malik di belakang namamu, Tubagus."


Hanya ada satu orang di kampus ini yang mengenal dan memanggilku dengan nama itu.  Bisma Chandra Malik.


Jika saja Pak Husni tak memanggilku ke kampus untuk membantunya mengoreksi nilai ujian. Aku tidak bakal datang dan melihat bocah tengil ini berceloteh sembarangan saat aku di parkiran.


"Terserah kau saja, Chand. Aku tak peduli dengan segala ucapanmu." Aku tak menggubrisnya. Lebih baik aku pergi dari wajah ndeso-nya.

__ADS_1


"Seharusnya kau tak pernah dilahirkan. Semuanya adalah milikku sejak dulu," cerocosnya makin melantur.


"Sejak awal kau memang pantas menjadi pelayan. Pastinya kamu sudah pernah mencicipi tubuhnya nona manja itu, ya. Secara kau pelayannya sejak kecil." Ia menghinaku di depan mahasiswa yang lainnya.


Aku meraih leher kemejanya dan menarik hingga kami beradu tatapan.


"Kau boleh menghinaku sesuka hatimu, Chandra. Jika aku melihatmu menghinanya. Aku akan memastikan suatu saat nanti kau tak akan mendapatkan apapun." Aku membentaknya dan hampir melayangkan tinju, tetapi aku lenganku dicegah oleh seseorang.


"Jangan Salim. Aku tak mau tanganmu kotor karena ******** ini." Aku terperangah melihat sosoknya muncul di sampingku.


"Ave ... kenapa di sini? Bukannya kamu ada di perkebunan."


"Aku ketiduran di dalam mobil. Terus aku nggak tahu kok tiba-tiba ada di kampus dan dengar kalian bertengkar," katanya dengan polos.


"Ih ... lepasin tangan kotormu dari tangan Salim." Ia membentak Bisma dengan kasar.


"Oh ... jadi ini nona yang kamu lindungi? Cantik tapi ****. Berteman sama pelayan."


"Hei ... Bisma budeg. Aku kagak ****. Yang **** itu kamu." Ia mulai mengumpat kata-kata dengan kasar.


"Memangnya Salim kamu berapa bayar berapa buat menggoda nonanya?" Ledek Bisma penuh hinaan.


"Berarti gratis ya menikmati semuanya?" ejeknya lagi.


"Memang gratis. La wong Salim calon suamiku kok." Sontak  semua memandang kami dengan tatapan aneh.


"Sudah bubar semuanya. Ingat jangan dekatin Salimku. Awas kalian, ya. Nanti kulaporkan biar beasiswa kalian dicabut," tegasnya sok ngatur sambil menyeret aku masuk mobil.


"Loh Salim dipanggil pak Husni, Ve. Kamu di mobil saja dulu, ya." Aku memberi perintah untuk segera masuk ke dalam mobil. Ia hanya manut-manut saja seperti bebek.


Semua orang memandangku aneh. Ada yang bisik-bisik atau mencemooh. Aku tak peduli. Aku cukup senang karena Ave memanggilku Salimku.


"Memangnya Bisma si Brewok itu siapanya kamu, Lim?" Selidik Ave setelah urusanku selesai di kampus.


"Ayahnya Bisma adik tiri ayahku, Ve," ungkapku jujur.


"Oh, ya?" Ada nada tak percaya saat aku mengatakannya.


"Kok dia kaya. Kamu nggak." Ia terlalu jujur mengatakan itu.

__ADS_1


"Sudahlah Ve. Jangan dibahas lagi. Malas aku." Aku tak mau menjawab pertanyaannya.


"Aku ingin tahu saja, Lim. Nanti kamu, kan calon suami aku." Ia cemberut sambil memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil.


"Maaf, ya Ve. Suatu saat nanti aku cerita sama kamu, tapi jangan sekarang." Aku berusaha menutupi keadaan yang sebenarnya, tetapi aku tidak mau ada luka lama lagi di hati.


Ia hanya diam saja sambil bernyanyi dengan suara cemprengnya.


******


Ave's Pov


"Aduh anak kesayangan ayah. Kamu kemana aja? Dicari ke perkebunan nggak ada," sahut Ayah saat aku sudah tiba di rumah sembari memelukku seperti anak kecil.


Maklum seminggu Aah dan Mas Bagas keluar kota untuk urusan bisnis.


"Ave ke perkebunan kok tadi terus Ave ke kampus sama Salim." Aku melepaskan pelukannya.


"Anak ayah sudah besar ya rupanya. Dulu aja waktu kecil minta dipeluk sekarang sudah nggak."


"Ave, kan sudah besar, Yah. Kan malu." Aku malu melihat kelakuan ayah yang terkadang masih menganggap seperti anak kecil.


"Ayah jadi ingat waktu kamu kecil dicium sama temanmu. Kamu menangis kencang dan meminta ayah mencium pipimu agar hilang bekas ciuman temanmu itu," gelak Ayah yang disambut tawa oleh Eyang Uti dan Ibu.


Aku menutup wajah di pundak ibu. Sungguh Ayah membuat aku malu.


"Ojo isin toh Nduk. La wong marine dadi suami istri." Sempat-sempatnya Eyang Uti menggodaku. [ Jangan malu, Nduk. Sebentar lagi sudah jadi suami istri ]


Aku menatap Salim dengan kesal.


Dasar Salim. Sudah tahu itu perbuatannya. Dia malah pergi dan senyum sendiri. Awas kamu nanti.


*****


\=Bersambung\=


Akhirnya semua tahu kalau Salim itu calon suami Ave.  Semakin penasaran dengan hubungan Bisma dan Salim?


Yuk ... saksikan terus cerita ini.

__ADS_1


__ADS_2