
Mohon saran dan kritiknya....
°
°
°
Suara jemari yang beradu dengan keyboard terdengar di seluruh penjuru ruangan kantor. Ave serius menyimak penjelasan tentang pembukuan akuntansi yang di ajari oleh Salim. Sekali-kali ia bertanya tak paham dengan sabar Salim menjelaskan. Di sebelah mereka ada eyang Yaya yang sedang membaca koran. Kadang mencuri dengar percakapan dua insan tersebut.
"Cah Ayu, sore iki ojo lali ngukur kebaya karo yang Uti lan ibumu," sela Eyang Yaya saat mereka sedang belajar. [ Cah Ayu, sore ini jangan lupa mengukur kebaya bersama Nenek dan Ibumu ]
"Iya Eyang." Ave menjawab dengan sopan.
"Salim, kowe karo eyang ning omah ae. Iku urusane wong wadon ojo melu-melu," sela Eyang Yaya lagi. [ Salim, kami dan eyang di rumah saja. Itu urusan wanita ]
"Baik Eyang Yaya," Sahut Salim dengan santun.
"Cah Ayu, eling yo. Kancamu sing jenenge Dimas iku ojo sering-sering nelepon awakmu. Kupinge eyang loro ben bengi Dimas iku telepon ae." Eyang Yaya menunjukkan rasa tak sukanya kepada Dimas yang di nilai tak sopan. [ Cah Ayu, Ingat ya. Temanmu yang namanya Dimas jangan sering telepon. Telinga Eyang sakit tiap malam telepon terus ]
Ave tak bisa menjawab. Ia memang kesal tiap malam teleponnya berdering menanyakan Ave. Dimas masih saja mengejarnya padahal Ave tak menyukainya. Dasar Dimas tak mau menyerah.
"Eyang arep mulih sek." Eyang Yaya segera beranjak dari sofanya dan memegang tongkat kayunya untuk membantu berjalan.
"Biar Salim anter, Eyang."
"Nggak usah. Kowe karo Cah Ayu sinau ae. Sing pinter." Eyang Yaya pamit dan dianter Pakde Malik.
******
Ave's Pov
Eyang Yaya sudah pamit pulang. Seharusnya aku senang karena tak ada lagi yang cerewet, tetapi aku malah kesepian di kantor. Di sini pekerja hanya ada lima belas orang beda di kota di mana perusahaan Ayah memiliki banyak pegawai. Mereka memiliki perannya masing-masing. Sementara waktu, diriku hanya membantu mengecek barang yang akan dikirim ke kota. Memberi tanda tangan saat Ayah tak ada di kantor.
Walaupun Eyang mempunyai pikiran kuno, tetapi beliau masih memperbolehkan anak atau cucunya mengelola bisnis keluarga ini. Hanya Mbakyu Raras yang tidak mau bekerja. Mbakku yang satu ini lebih enak jadi ibu rumah tangga saja seperti Ibu dan Eyang Uti. Menurutnya bisnis itu memusingkan. Awalnya aku sependapat dengan Mbak Raras, tetapi aku tak mau jika kelak menikah hanya menjadi ibu rumah tangga. Itu bukan tipeku.
__ADS_1
"Ave bengong lagi?" Sontak aku menjatuhkan pulpen saat Salim memegang bahuku.
"Kaget tahu, Lim." Aku memarahinya.
"Maafin Salim ya." Ia menatapku dengan sorot matanya yang teduh.
Ini yang tidak bisa aku alihkan. Sorot mata hitamnya membuat aku merasa nyaman.
"Ya nggak apa-apa. Ada apa Lim?"
"Pak Sanusi meminta uang untuk pembayaran tukang perbaikan mesin, Ve," imbuhnya sambil menyerahkan selembar kertas kwitansi.
Aku segera mengambil uang yang di maksud dan menyerahkan uang itu kepada Salim yang menunggu.
Aduh kenapa ini? Ada yang tak beres dengan hatiku. Kenapa tanganku malah tak bergerak saat bersentuhan dengannya?
"Ve, kamu sakit?" tanyanya khawatir.
"Hanya sedikit pusing," gelagapku bohong dan segera menyingirkan tanganku.
Ini karena kamu sih, Lim.
"Aku akan istirahat sebentar. Nanti panggilkan aku ya, Lim jika ibu datang." Aku segera beranjak ke pintu sebelah. Di sana tempat Ayah beristirahat siang.
"Iya Ve. Tidur saja dulu." Ia mengambil bantal dan selimut untuk di lemari.
Salim membaringkan aku dan menyelimutiku.
Sial kenapa aku mendadak pusing, ya?
"Aku akan membuatkanmu teh hangat," katanya sebelum pintu ditutup.
Aku merutuki diri sendiri bisa-bisanya sampai pusing dan demam hanya karena aku menyentuh tangannya. Ave oh Ave ada apa dengan dirimu?
Sambil menunggu Salim yang membuatkan teh hangat. Aku mendengarkan radio. Lagu yang diputar lagu lama. Pilihan Hati.
__ADS_1
Aku mendengarnya tanpa sadar tersenyum sendiri.
Apakah Salim adalah Pilihan hatiku? Aku rasa iya.
******
Salim's Pov
Aku melihatnya tersenyum sendiri di bilik kamar kantor. Cantiknya dia jika sedang tersenyum.
Aku menyukainya sejak masih kanak-kanak dan menggodanya setiap hari di sekolah. Dulu aku sangat nakal bahkan pernah menciumnya di sekolah. Itu dulu sebelum ibu meninggal. Sejak ibu tiada. Ayah berpindah tempat sampai tiga kali hingga akhirnya kami berada di sini sampai sekarang. Keluarga Jayanatra yang menemukan kami ketika kami berada dalam situasi kesulitan.
"Salim, kok senyum sendiri?" Pertanyaan Pak Hardi membuyarkan lamunanku.
"Nggak apa-apa, Pak Hardi." Aku tersenyum simpul. Malu rasanya ketahuan mengintip.
"Non Ave sakit, Lim?" Lanjut pak Hardi sembari ikut mengintip Ave yang kini tertidur.
"Iya Pak. Ini saya mau bawakan teh hangat."
"Temani saja Non Ave. Saya sudah menghubungi bapak sama ibu," kata Pak Hardi menepuk bahuku.
Sambil menunggu Pakde Brata datang menjemput Ave. Aku merapikan kertas-kertas yang beterbangan di atas meja kerja Ave. Kebiasaan selalu saja seperti ini.
Aku tergelitik saat menemukan secarik kertas berisi coretan tangannya. Di sana tertulis namaku, tetapi ada kalimat yang ingin membuatku tertawa. Aku tertawa kecil agar tak terdengar.
Uh dasar si kutu kumpret Salim ini. Diajak jalan sama perempuan gombal mau aja.
Aku berharap selamanya kami bisa tetap bersama. Aku selalu ingin dia bahagia. Tidak ada kesedihan.
*****
\=Bersambung\=
Yeay ...akhirnya Ave memantapkan pilihan hatinya. Tetapi, perjalanan kisah mereka masih panjang. Yuk, ikuti kisah ini terus.
__ADS_1