Nona Kecil

Nona Kecil
Part 7 Aveliena dan Salim


__ADS_3

Mohon saran dan kritiknya....


°


°


°


Ave's Pov


Untung tadi Ayu dan Rani membawa baju ganti. Jika tidak Ibu bakal menanyaiku macam-macam.


"Loh, Nduk. Kowe kehujanan?" Nah betul kan pasti Ibu atau Eyang Uti menanyakan keadaanku yang sudah berganti pakaian. [ Loh, Nduk. Kamu kehujanan?]


"Ave nggak kehujanan kok, Bu. Tadi ada permainan di kampus pakai air. Jadi Ave basah, deh." Aku berbohong biar tak jadi masalah besar.


Ibu melirik ke arah Salim memastikan ucapanku benar.


"Benar Bu. Tadi non Ave sama teman-teman lainnya ada permainan air." Salimpun berbohong.


"Kok aneh-aneh sih kampusmu, Nduk." Ibu berdecak aneh.


"Ibu, Ave lapar. Ibu masak apa?" Aku menyela perkataan Ibu agar tak bicara lagi.


"Kebiasaan kamu, Nduk. Beri salam dulu sama eyang. Jangan makan terus," omel ibu berkepanjangan.


"Sudah kok, Bu. Tadi Ave bertemu eyang Yaya dan eyang Uti di teras depan. Hayo ... Bu Ave lapar nih." Aku merajuk manja di bahu ibu.


"Ibu masak sayur asem dan sambal teri," ucap ibu singkat.


"Wah enak dong. Ave mau makan ah..."


"Ckckck. .... Nduk. Kamu itu sudah mau jadi istri kok tingkah lakumu seperti anak kecil, sih." Ibu mengomel lagi sambil menuju dapur.


"Ada apa toh, Bu?" Ayah muncul dari balik pintu kamar.


"Ini loh, Pak. Anakmu ini loh kayak anak kecil. Kapan pikirannya bisa dewasa?"


Aku paling malas jika Ibu sudah mengomel dan berbicara panjang seperti kereta api.


"Nah lihat itu. Ibu hanya memberitahu. Dia malah pergi," dengkus ibu dengan kesal.


"Ya, sudah biarkan saja toh. Memang anak kita ini paling unik sendiri kok." Ayah bercanda agar Ibu berhenti bicara.

__ADS_1


"Unik apanya?"Ibu melengos pergi.


Aku segera menuju dapur karena perutku sudah berbunyi karena tadi aku tak sempat makan gara-gara si Gayatri.


"Ya ampun Gusti! Duduknya jangan seperti di warung, Non." Ada lagi yang mengomeliku siang ini. Mbak Mira.


"Iya, Mbak Mira cantik. Ini aku sudah duduk dengan baik," sahutku menurunkan kaki kanan.


"Non Ave itu anak gadis. Tidak baik duduk kayak begitu," ucap Mbak Mira sambil mengupas buah jeruk.


"Iya Ave mengerti, Mbak Mira. Sudah ah ... Mbak Mira jangan cerewet lagi kayak ibu." Aku mulai kesal hari ini.


Mbak Mira berdehem saat tak sengaja melihat aku yang hendak mengambil jeruk bersentuhan tangan dengan Salim.


"Aduh yang lagi kasmaran," goda Mbak Mira.


"Apaan, sih, Mbak Mira ini. "Aku melengos pergi.


Aku tak mengubris tawaan Mbak Mira dan Mbok Jum di dapur. Aku langsung menuju kamar dan merebahkan diri karena penat.


******


Salim's Pov


"Salim, ayo kita cari bambu," ajak Nona Ave mencari bambu untuk tugas kampus esok.


"Aduh Salim ini, ya. Kamu ini ketua Ospek tapi nggak tahu apa pun." Aku merasa senang saat melihatnya kesal.


"Mau bantuin nggak? Kalau nggak mau. Biarin aku cari sendiri."


"Loh ya jangan, Non. Nanti Salim kena marah sama eyang Yaya."


"Ayo cepat Salim. Keburu hujan," desaknya menyeret tanganku.


Jika bukan karena ia adalah nona kecilku. Tak mungkin aku mau melakukan apa yang diperintahkan olehnya. Terkadang nonaku itu menyebalkan terkadang pula ia menyenangkan. Tergantung suasana hatinya.


Hampir setengah jam kami mencari bambu di sekitar hilir sungai. Meskipun nona Ave anak orang kaya. Ia tak pernah merasa jijik saat melepaskan sandalnya dan bermain di air. Persis seperti dulu waktu kecil.


Ia duduk di atas batu. Bergaya bak bidadari yang sedang mandi. Menendang kakinya di dalam air. Ia tak sadar jika di belakangya binatang yang tak ia suka.



Aku berjalan pelan menuju arahnya. Ia menatapku heran. Saat aku sudah berada dekatnya. Aku merasakan detak jantungnya yang cepat.

__ADS_1


"Non, diam, ya. Jangan teriak. Nurut apa kata Salim." Aku berbisik pelan agar tak mengejutkan dirinya.


Tubuh kami hampir bersentuhan saat tanganku berhasil mengambil binatang itu dan membuangnya jauh.


"Sudah Salim buang jauh.. Ada katak tadi belakangnya."


Katak? Aku lupa ia takut sekali dengan namanya katak.


Ia terperanjat kaget. "Mana ... mana ..."


Bukannya belari ke tepi sungai. Ia malah merangkul tubuhku. Aku yang tak siap karena tubuhnya langsung menghambur, kami jatuh duduk di air. Untung airnya dangkal. Jika tidak kami akan terseret arus sungai. Ia berada di atas tubuhku. Kami terdiam sejenak seperti orang bodoh.


"Ayo kita pulang." Ia segera bangkit dengan canggungnya.


"Eh ... iya Non." Aku pun segera bangkit dari jatuh tadi.


Kami langsung pulang dengan pakaian yang sudah basah.


******


Author's Pov


Semua mata memandang dua orang yang sedang berjalan menuju rumah. Mereka yang duduk di teras merasa ada yang aneh.


"Ya ampun, cak Ayu. Kowe nang endi toh? Kok klambi teles kabeh." Eyang Yaya terkesiap melihat Ave dan Salim basah semuanya. (Ya ampun. Kami pergi ke mana? Pakaianmu basah semua)


"Kowe cemplung tah, Nduk?" Eyang Uti ikut celetuk.


"Kami terpeleset di sungai waktu mencari bambu." Ave berbohong.


"Benar itu, Nak Salim?" Pak Brata menanyakan kebenarannnya.


"Ia Pak. Kami terpeleset."


Pak Brata memagutkan kepalanya.


"Ya, sudah. Cepat berganti pakaian. Nanti kalian sakit," perintah Ambar kepada putrinya dan Salim.


Di dalam kamarnya Ave terlihat bingung dengan perasaannya sendiri. Saat di dekat Salim tadi ia merasakan jantungnya berdebar kencang.


"Apakah itu rasa suka?" Ave menanyakan dirinya sendiri.


Selama ini ia hanya menyukai seseorang waktu SMP. Tapi yang disukainya hanya menganggap Ave adik saja. Sejak saat itu ia tak pernah menyukai lelaki lain. Baru kali ini ia merasakan rasa itu lagi. Rasa getaran yang ada di dadanya.

__ADS_1


\=Bersambung\=


Apakah Ave sudah mulai merasakan getaran cinta?


__ADS_2