
Mohon saran dan kritiknya....
°
°
°
Salim's Pov
"Apa Ave ingin tahu?" tanyaku mengeluarkan sebuah foto.
"Iya. Ave ingin tahu," ujarnya penuh semangat.
"Baiklah. Dengarkan Salim...." Aku mendekatkan kursiku. Mungkin inilah saatnya aku memberitahu siapa aku sebenarnya.
"Ave tahu siapa saja yang ada di foto ini?" Lanjutku menunjukkan selembar foto.
"Ini Salim, Pakde Malik dan Ibunya Salim. Benar bukan?"
Aku menganguk.
"Tapi ini siapa, Lim?" Menunjuk seorang anak kecil dan lelaki di samping foto tersebut.
"Anak kecil itu Bisma Chandra Malik. Dia saudara sepupuku. Ayahnya Bisma adalah adik tiri ayahku. Paman Husni merebut semua milik ayah. Dari lahan perkebunan sawit dan Hotel Sartika. Aku tidak sebabnya apa sehingga Paman Husni tega mengusir ayah dari rumah sejak ibu meninggal," jelasku dengan rinci.
Ave menganga mendengarkan ceritaku.
"Jadi Salim saudaranya Bisma si kucel itu?" Nah seenaknya dia mengatai nama orang. Ya ampun nona kecilku ini.
"Iya tapi Salim mohon sama Ave jangan dekat-dekat dengan Bisma dan Dimas, ya."
"Siapa juga yang mau dekat dengan mereka?" Ave mendengkus kesal dan mengaduk es krim menjadi cair.
"Tapi kenapa aku nggak boleh dekat dengan mereka?" Wajahmu berubah serius.
"Ya ingat saja pesan Salim, ya."
Maafkan aku, Ve. Aku tak bisa menceritakan semuanya. Aku takut kejadian dulu terulang lagi.
*****
Hari ini hari terakhir mereka di Palembang. Mereka bergegas akan pulang ke Malang lebih pagi. Eyang Uti sudah uring-uringan karena Ave terlalu lama pergi.
"Vel, jangan mondar-mandir deh. Pusing tahu," omel Ayu yang kesal melihat Ave jalan maju mundur sedang memikirkan sesuatu.
__ADS_1
"Lu ada masalah, Vel?" tanya Rani dengan kripik di pangkuannya.
Yang ditanya masih asyik sendiri dengan dunianya. Tak menggubris perkataan temannya.
"Ye si anak ini. Ditanya malah maju mundur kayak Syahrini," dengkus Ayu kesal.
"Yu, Ran. Jangan kaget ya jika dengar ini. Tapi ini rahasia loh," ucap Ave sambil duduk di atas ranjang dengan mimik serius.
Rani dan Ayu menghampiri Ave yang menutup mulutnya dengan jari.
"Ternyata Salim itu sepupunya Bisma," bisik Ave pelan.
Ayu tertawa keras dan Rani melongo.
"Jangan tertawa, Yu. Ave berkata benar." Ave mulai kesal karena Ayu tak percaya.
"Bagaimana mungkin Salim saudaranya Bisma? Bisma anaknya pemilik Perkebunan Sawit itu?" Decak pinggang Ayu yang masih belum percaya.
Kekehannya tertahan saat melihat Ave dengan tampang seriusnya yang menandakan bahwa ucapannya benar.
"Jadi benar, ya?" tanya Rani dengan tampang polosnya.
Ave mengangguk dan menceritakan semuanya.
*****
Mobil yang menjemputku di bandara sudah tiba di halaman rumah. Aku melihat Eyang Uti dan Ibu di depan rumah. Ah aku kangen sama cerewetnya Eyang Uti.
"Nduk, selamet yo. Kowe isa rampungake urusan bapakmu. Eyang ora nyangka kowe lan Salim isa ngurus bisnis iki." Sambut eyang Uti setibanya aku di rumah. [Selamat, ya, Nduk. Kamu bisa menyelesaikan bisnis bapak. Tidak sangka kalian bisa]
"Salim yang menyelesaikan ini semua, Eyang," sahutku merendahkan diri.
"Pokok'e eyang iki wes bangga karo kowe lan Salim."
"Sudah nanti saja bicaranya. Ave dan Salim mandi dulu kemudian makan," sela ibu yang sedari tadi memperhatikan aku.
"Iya Bu. Ave mau mandi dulu. Gerah sekali," sahutku mengibaskan tangan karena berkeringat.
Di dalam kamar mandi. Aku selalu berpikir mengapa ayahnya Salim sampai diusir oleh adiknya? Apa salah Pakde Malik? Semakin aku ingin bertanya kepada Salim. Semakin Salim tak mau memberitahu. Ah Salim, aku menjadi penasaran.
"Ve, kamu nggak tidur, kan di dalam kamar mandi?" Panggil Salim di luar pintu dengan panik.
Ya aku tertidur lagi di bath up.
"Enggak kok. Ini hampir selesai," jawabku dari dalam sembari meraih piyama dan keluar.
__ADS_1
Aku terpeleset keset kamar mandi. Untung ada Salim yang menopang tubuhku. Sial.....
"Kamu itu kebiasaan. Jalan nggak pernah lihat ke depan," omel Salim dan menegakkan tubuhku kembali. Tubuh dan wajah kami saling berdekatan.
Aku bisa mencium wangi dari tubuh Salim yang segar sehabis mandi. Kami diam sejenak saling beradu pandang. Salim mendekatkan wajahnya ke arahku. Aku menutup mata. Apakah ia akan menciumku?
"Cepat keringkan rambutmu. Ayah dan Eyang Yaya sudah menunggu di perkebunan," bisik Salim di telinga yang membuat aku geli.
Salim segera pergi dari hadapanku, aku menyesal. Seandainya saja Salim menciumku. Pastinya aku senang karena itu adalah ciuman pertamaku.
Ah dasar Salim. Nggak berani.
*****
Salim's Pov
Hampir saja aku mencium bibir kecilnya. Aku khilaf melihatnya berpakaian seperti itu saat keluar dari kamar mandi. Sampai mencubit lenganku sendiri agar tidak berpikir macam-macam. Bagaimanapun juga ia masih tunanganku dan nona kecil yang sangat kucintai. Aku harus menjaganya hingga pernikahan itu terjadi.
Ya ampun Salim kenapa kamu begitu ceroboh.
"Ayah kemarin ketemu pamanmu. Dia meminta kita melepaskan nama Malik," sahut ayah tiba-tiba di belakangku.
"Apa ayah akan menyetujuinya?" tanyaku setelah merapikan pakaianku.
"Ayah tidak tahu, Lim," ujar ayah penuh keraguan.
"Jangan pernah menghilangkan nama Malik di belakang kita, Yah. Kita adalah keturunan yang sah dari keluarga Malik. Bukan paman ataupun anaknya yang brengsek itu." Aku mulai kesal dengan ucapanku.
"Jika kita tak berganti nama maka---" kata ayah tersendat.
"Maka mereka akan mengancam keluarga kita dan keluarga Pakde Brata seperti dulu?" sahutku ketus.
"Jangan keras-keras. Ayah takut ada yang mendengar."
"Ayah mau sampai kapan kita harus seperti ini? Sebentar lagi Ave akan menjadi istri Salim. Salim tidak mau ada rahasia apa pun."
"Ayah masih menunggu keputusan dari Eyang Yaya. Apakah kita berhak memberitahu Ave atau tidak?"
"Ayah tak ingin kejadian beberapa tahun yang lalu terulang lagi," tutur ayah dengan tatapan cemas.
"Salim tak akan membiarkan hal itu terjadi lagi. Salim sudah dewasa bukan anak kecil lagi. Sejak ayah bercerita peristiwa itu. Salim berjanji akan menjaga keluarga Jayanatra," ungkapku dengan berani.
"Ayah harap kejadian yang dialami Mustika tak akan terjadi dengan Ave."
Aku dan ayah saling diam. Menatap luar halaman yang sudah dibasahi oleh tetesan air hujan.
__ADS_1
\=Bersambung\=
Penasaran dengan kelanjutannya? Yuk ... ikuti terus cerita ini.