
Mohon saran dan kritiknya....
°
°
°
Salim's Pov
"Untuk apa kamu datang ke sini, Dimas?"Aku kesal karena Dimas datang secara tiba-tiba.
"Kami hanya berkunjung saja, Lim. Tidak ada maksud apapun," sanggah Dimas memberikan sebuket bunga ke tanganku.
"Apakah kondisinya parah, Lim?"
"Iya seperti itu Dimas," jawabku singkat.
"Masih belum bolehkah kami menjenguknya?" tanya Dimas.
"Kita hanya boleh melihatnya di kaca."
"Biarkan kami menemuinya, ya Lim," sahut Dimas yang di anggukan Gayatri.
Aku mengantarkan mereka berdua melihat Ave walau hanya di batasi pembatas kaca. Hari kemarin Ave sudah mulai sadar. Lima hari lamanya kami dilanda cemas. Meskipun, kondisinya belum stabil tapi kami masih bersyukur karena Ave sudah sadar.
"Sejak kapan Ave mengalami hal ini, Lim?" tanya Gayatri penasaran.
"Sejak ia masih kecil," kataku pelan.
"Ternyata selama ini ia menyembunyikan sakitnya dari semua orang," ucap Gayatri dengan suara yang bergetar.
"Maafkan aku dan Gayatri, Lim. Selama ini kami sudah menganggumu dan hampir mencelakai Ave waktu aku bawa ke rumahku yang lalu," pintanya dengan tulus.
"Sudah tidak apa-apa. Lupakan masalah itu. Kami sudah memaafkan kalian berdua," jawabku dengan menjabat tangan Dimas.
"Ayahku menyerahkan dirinya ke kantor polisi untuk perbuatannya tujuh belas tahun yang lalu atas penculikkan kakaknya Ave. Maukah keluarga Jayanatra memaafkan ayahku?" Ucap Dimas dengan menghapus air matanya.
"Kemarin Eyang dan Ayah sudah kekantor polisi. Aku yakin ayahmu sudah dimaafkan."
"Terima kasih, Lim." Dimas memelukku erat tanda perpisahan.
"Aku dan Gayatri akan meninggalkan Malang untuk waktu yang lama."
"Kalian akan ke mana?" tanyaku.
"Entahlah Lim. Mungkin kami akan ke kota di mana tidak ada yang mengenal kami," sahut Gayatri.
"Jaga diri kalian baik-baik. Kami akan menyambut kalian dengan tangan terbuka."
"Kami pamit dulu, Lim. Ucapkan salam kami kepada Ave," ujarnya seraya melambai kepada Ave yang berada di kamar kaca.
__ADS_1
Kehidupan itu terus berjalan. Seperti roda yang berputar. Kadang ada kalanya kita berada di bawah. Ada kalanya kita berada di atas. Itulah yang dialami Dimas dan keluarganya. Hanya karena kejahatan kecil akibat masa lalu ikut menculik Mbak Mustika membuat ayah Dimas berakhir di penjara. Dicemooh dan dijauhi oleh masyarakat akibat kesalahan ayahnya. Dulu ayahnya dipuja karena seorang polisi yang senang menolong sedangkan sekarang semua orang menganggapnya musuh. Ya seperti itulah kehidupan. Kita tidak pernah akan hari esok.
******
"Tidak ada cara lain untuk menyembuhkan Ave, Rudi?" Brata meminta penjelasan kepada sahabat dan dokter pribadi Ave.
"Ini jalan satu-satunya, Brata. Tidak ada cara lain." Dokter Rudi mengungkapkan semuanya.
Ambar yang masih menangis ditenangkan oleh eyang Uti. Sementara itu eyang Yaya mencoba tegar yang duduk bersebelahan dengan Jaka tanpa banyak komentar.
"Donor jantungnya akan datang besok. Kita harus segera mengoperasinya agar nyawanya tidak terancam, Brata."
"Apakah setelah menerima donor anakku akan pulih?" tanya Brata.
"Sama seperti pertama kali Ave menerima donor jantung maka kondisinya tidak bisa dikatakan pulih total. Kita hanya berusaha memperpanjang usianya saja."
Dengan perasaan yang sangat pedih Ambar berusaha tidak menangis. Ia tahu Allah akan membantu anaknya melewati ini semuanya.
"Sampai kapan Ave akan bertahan dengan jantung barunya, Rudi?" Brata menghela napas panjang.
"Tergantung dengan kondisi tubuh Ave, Brata. Jika ia bisa menjaga pola hidupnya kemungkinan besar jantungnya akan terjaga dengan baik."
"Kau bilang masih kemungkinan? Jadi apakah itu artinya anakku tidak memiliki peluang hidup lebih lama?" Gejolah amarah Brata seakan memuncak.
"Kau tahu sendiri Brata? Sejak Ambar melahirkan Ave 20 tahun yang lalu. Apa yang sudah aku katakan kepadamu? Hidup Ave hanya bergantung kepada donor jantung," ucap dokter Rudi penuh penekanan.
Tanpa sadar eyang Yaya meneteskan air mata. Jaka menyadari hal itu. Ia segera menggenggam tangan eyang Yaya memberi kekuatan.
"Iya Ambar. Jika sampai hal itu terjadi nyawanya akan terancam atau bahkan kedua-duanya. Bayinya dan Ave."
"Oh, ya Allah mengapa ini terjadi kepada anakku?" Isak tangis Ambar tak terbendung lagi.
Direngkuhnya tubuh Ambar dalam pelukannya. Brata mencoba menenangkan istrinya yang sudah mulai menangis.
Di balik pintu ruang dokter. Salim mendengar semuanya. Didekapnya tangannya ke dada. Menangis tanpa mengeluarkan suara. Tak masalah baginya tidak memiliki seorang anak asal Ave terus hidup dan berada di sampingnya. Dengan jalan yang terseok Salim menuju ruang ICU tempat nona kecilnya di rawat.
******
Salim's Pov
"Apa kau tahu, Ve? Banyak kawan-kawan kita datang ke sini," ucapku kepadanya yang tertidur di sana.
"Aku merindukanmu, Nona Kecilku."
"Cepat bangun dari tidurmu. Salim di sini menunggumu, Nona."
Tiap perkataan yang terlontar dari mulutku tak bisa didengar olehnya. Kami hanya dibatasi oleh ruang kaca saat ingin bertemu. Tubuh Ave rentan terhadap virus ataupun bakteri.
"Apa yang harus Salim lakukan, Yah?" Ucapku saat menyadari kedatangan ayah dipantulan kaca.
"Jika kau mencintainya kau akan tahu apa yang akan kau perbuat, Nak," jawab ayah pelan.
__ADS_1
"Salim tidak ingin kehilangan dia, Yah."
"Kita semua tak ingin kehilangan Ave, Nak. Tetap berdoa kepadaNya. Meminta petunjuknya agar dibukakan jalan," ucap ayah sembari keluar.
Dari kaca yang memisahkan kami. Aku bisa melihat matanya terbuka mencari sesuatu. Saat mata kami saling beradu. Ia tersenyum dan melambaikan tangannya ke arahku. Aku membalasnya.
Tangannya ia gerakkan ke udara untuk menulis sesuatu. Dengan seksama aku memperhatikan, tulisan apa yang ia tulis di udara. Aku tahu tulisan itu untuk siapa. Aku membalasnya.
"Salim mencintai Ave juga."
******
Ave's Pov
Aku tidak tahu sampai kapan aku akan berada di ruangan ini. Hanya orang-orang terdekat saja yang diperbolehkan mengunjungiku di kamar steril ini. Tentunya bosan, tetapi tidak bisa melakukan apapun selain tidur saja.
Sejak kejadian jatuh di kamar mandi waktu lalu. Bagian dada di sebelah kiriku sangat sakit. Terkadang tak bisa bernapas. Hanya inhaeler penyelamat saat napasku tiba-tiba sesak. Aku tak mau merepotkan siapapun.
"Nona, sudah bangun," ucap suster Marni menyapaku.
Aku hanya berkedip. Untuk sementara aku hanya bisa berkedip untuk mengiyakan perkataan orang. Terdapat banyak selang infus di tubuhku dan tentunya di bagian hidungku agar aku bisa bernapas.
"Nona, kami membawa kabar bagus. Besok Nona akan menerima donor jantung yang baru," sahut suster Marni antusias.
Jantung siapa lagi yang akan ada di dalam tubuhku nantinya?
"Nona pastinya senang, bukan?" Suster Marni membilas lenganku dengan air hangat.
Aku berkedip dua kali yang menandakan aku tidak terlalu suka dengan percakapan ini.
"Mengapa Nona? Nona tidak setuju." Suster Marni agak terkejut.
Aku berkedip sekali.
"Apakah Nona pikir jika Nona mengambil donor jantung dari orang lain maka itu adalah sebuah kesalahan?"
Aku berkedip sekali lagi.
"Nona tenang saja. Nona tidak mengambil nyawa orang lain hanya karena Nona memerlukan sebuah jantung yang baru. Wanita itu sebelum meninggal sudah memiliki wasiat. Jika ia meninggal entah kapan maka ia akan mendonorkan organ tubuhnya yang penting untuk orang lain," jelas suster Marni dengan lembut.
"Ya sudah. Saya tinggal dulu, ya. Nanti saya ke sini lagi," lanjut suster Marni berlalu pergi.
Apakah aku harus bahagia karena akan memiliki jantung yang baru? Mungkin iya. Karena aku akan memiliki usia yang panjang. Tapi ada satu hal yang membuat aku ingin menyerah dengan keadaan ini.
Aku tidak akan dapat atau tidak akan pernah bisa memiliki anak di sepanjang usiaku.
\=Bersambung\=
Dapatkah Ave menerima keadaannya?
Yuk ... simak terus cerita ini.
__ADS_1