
Mohon saran dan kritiknya....
°
°
°
Salim Tubagus Malik adalah anak kedua dari pasangan sukses Jaka Putra Malik dan Maria Sihombing. Ibunya asal Manado sedangkan ayahnya asal tanah Jawa - Malang. Sebenarnya Salim memiliki kakak lelaki yang bernama Pramudia Pengestu Malik. Akan tetapi ketika berusia lima tahun Pengestu-nama panggilannya, meninggal karena kecelakaan. Salim mengetahui rahasia ayahnya ketika ia berusia lima belas tahun.
Husni Wiryanto Malik adalah adik dari ayah Salim - Jaka. Waktu usia Jaka 5 tahun ibunya meninggal dan tak lama ayahnya menikah dengan ibunya yang sekarang yang melahirkan Husni. Berbeda dengan Jaka yang memiliki sifat baik, Husni merupakan anak pemberontak, nakal dan pembangkang. Bahkan ibunya tak bisa memberinya nasehat. Akhirnya sang ibu Fatmawati meninggal karena sakit. Sejak ibunya meninggal, Husni semakin menjadi pemuda yang liar, pemabuk dan licik. Ketika ayah mereka meninggal, sang ayah mewariskan seluruh harta kekayaannya kepada Jaka-anak pertamanya. Sedangkan Husni hanya memperoleh 10% saja dari warisan ayahnya. Husni marah, dendam dan dengki kepada Jaka yang memperolehnya lebih banyak. Ia akan merebut kembali warisannya dengan sangat kejam dan licik.
Husni menculik Mustika anak dari sahabat Jaka. Sahabat karib Jaka sekaligus rekan bisnisnya, Brata. Husni mengetahui jika Brata berhutang budi kepada keluarga Malik karena membangun usaha. Husni mengancam Jaka jika harta warisan itu tak jatuh kepadanya maka ia akan menculik anak sahabatnya bahkan akan membunuhnya. Jaka maupun Brata tak menggubrisnya, tetapi mereka baru menyadari sewaktu Ambar ( istri Brata) mengajak Mustika kecil ke pasar dan komplotan Husni menculik Mustika.
Rasa persahabatan erat yang terjalin antara Brata dan Jaka membuat Jaka mengambil keputusan terberat dalam hidupnya. Ia mewariskan semua harta dan usaha peninggalan ayahnya kepada Husni. Jaka tak ingin sahabatnya kehilangan seorang anak. Husni menepati janjinya kepada Jaka membebaskan Mustika. Memang ia melepaskan Mustika ketika harta itu sudah di tangannya, tetapi Mustika tidak bisa bertahan lama karena kondisi tubuhnya yang lemah akibat penyekapan selama tiga hari.
Jaka beserta istri dan Salim kecil pergi meninggalkan rumah megah mereka dengan hanya membawa koper saja. Semua barang yang ada di rumah tidak boleh dibawa. Pergi dari rumahnya menuju tempat kediaman Jayanatra yang siap menampung mereka.
Selang beberapa tahun kemudian ibunya Salim meninggal karena sakit yang dideritanya. Sejak saat itu Jaka dan Salim tinggal di rumah Jayanatra. Menutup jati diri mereka yang sebenarnya di masyarakat.
*****
"Loh kok Nak Ave menangis?" tanya Jaka ketika mengetahui Ave menangis setelah mendengarnya.
"Jadi sebenarnya ayah Malik itu yang memiliki perkebunan Sawit?" tanya Ave dengan tangisannya yang belum reda.
"Iya Nduk, tetapi karena kejadian itu---" kata Brata penuh sesal.
__ADS_1
"Sudah ... sudah ... jangan diteruskan lagi." Potong Jaka tak ingin melanjutkan.
"Kita sedaya rumaos klintu dhumatengmu, Jaka." (Kita merasa bersalah) Sahut eyang Yaya dengan Bahasa Jawa Krama.
"Mboten menapa-menapa. Banda sanguh ing pados malih, Eyang." (Tidak apa-apa. Harta bisa dicari lagi) Balas Jaka dengan bahasa Jawa Krama juga.
Eyang Yaya dan Jaka selalu menggunakan Jawa Krama ketika berbicara.
"Maafkan kami, Jaka," ucap Ambar dengan tulus.
"Tidak apa-apa, Bu Ambar. Saya sudah ikhlas dengan semua ini malah saya yang mau mengucapkan terima kasih karena keluarga Jayanatra mau menerima kami," lanjut Jaka dengan tersenyum.
"Yang paling penting kita harus saling berjaga-jaga jika mereka menyerang lagi," tutur Jaka penuh kewaspadaan.
"Berjaga-jaga dari siapa, Paman?"Celetuk Bagas yang sedari tadi menyimak.
"Wes ojo melu-melu," sahut eyang Uti yang membuat Bagas cemberut.
Husni adalah ancaman bagi keluarga Jayanatra dan Jaka.
*****
Ave's Pov
"Salim, kemana saja?"Aku bertanya saat rapat tadi Salim tidak ada.
"Salim tadi ada keperluan di luar makanya nggak ikut rapat," Cengir Salim sambil masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Kok Ave belum tidur? Ini sudah malam," tanya Salim menyuruhku tidur cepat.
Ya ampun Salim. Kamu itu pura-pura **** atau apa sih? Tunanganmu menunggu lama malah disuruh tidur.
"Lah malah bengong. Ayo masuk kamar. Besok telat lagi ke kampusnya. Eyang Uti marah loh," cerocos Salim tak hentinya.
Entah kenapa tiba-tiba aku ingin memeluknya. Saat Salim menaruh kunci mobil di laci ruang tamu, aku memeluknya dari belakang. Harum tubuhnya membuat nyaman. Aku tahu Salim sedikit terkejut, tetapi setelah itu ia memegang tanganku dengan erat.
"Ada apa?" tanya Salim pelan dan terdengar lembut.
"Nggak apa-apa. Ave hanya ingin memeluk Salim. Ave takut."
Salim membalikkan tubuhnya dan sekarang mata kami saling beradu.
"Tidak usah takut. Ada Salim di sini," katanya sembari memelukku.
"Nduk ngomong karo sapa kowe? Ayo ndang turu. Wis bengi." [Nduk, kamu bicara sama siapa? ayo cepat tidur. Sudah malam ]
Kami otomatis melepaskan pelukan ketika terdengar suara Eyang Uti. Kami lupa jika kamar Eyang Uti dan Eyang Yaya ada di depan. Kami tertawa pelan.
Salim mengelus poniku dan tersenyum." Sana tidur. Jangan terlambat besok."
Aku segera masuk ke kamar dan menari-menari di kamar karena senang.
\=Bersambung\=
Dapatkah Salim melindungi Ave dari Husni?
__ADS_1
Semakin penasaran?
Simak terus ya cerita ini.