Nona Kecil

Nona Kecil
Part 32 Mencari Ave


__ADS_3

Mohon saran dan kritiknya....


°


°


°


Saat aku hendak keluar dari kelas. Aku di hampiri oleh duo congek. Mereka mengajak ke suatu tempat. Kata mereka ada hal yang perlu diriku ketahui tentang Salim. Aku yang masih penasaran mau saja mengikuti mereka. Belum sempat, menghubungi Mas Bowo. Mereka berdua langsung menyeretku masuk ke dalam mobil.


"Kalian mau mengajak Ave ke mana sih?" tanyaku setengah berteriak.


"Sudah diam saja. Nanti kamu tahu sendiri," sinis Bisma saat berbicara.


"Turunkan Ave sekarang juga. Jika tidak maka Ave akan turun!" jeritku disergap rasa takut.


"Coba saja kalau berani, Nona Manis," jawab Bisma dengan tatapan merendahkan.


"Siapa bilang Ave tidak berani?" Lawanku sambil mencoba membuka pintu mobil yang berjalan.


"Diam!" Bentak Dimas yang membuat aku kaget.


Selama ini tak pernah sekalipun orang-orang maupun keluargaku membentak. Jika kami ada salah maka Ayah maupun Eang akan mendudukan kami dan memberi pengertian tanpa marah tapi tegas.


"Jadi dengan bentakan kamu bisa diam? Heh!" Ulang Dimas menatapku tajam dari kaca spion kemudi.


"Sudah Mas. Jangan buat dia takut. Lihat tuh wajahnya pucat," tunjuk Bisma memandangku.


Aku yang tadi hendak kabur saja saat berhenti di lampu merah, tiba-tiba saja hatiku menciut saat mendengarkan bentakan Dimas.


Allah masih di pihakku. Saat lampu merah masih menyala, aku melihat pengamen cilik jalan yang tidak dapat bicara tapi sangat piawai bermain gitar kecilnya. Raka namanya. Ia menjulurkan tangannya kepada Dimas yang saat itu sedang menyetir. Dimas membuka kacanya dan memberikan receh kepada Raka.


Sejenak Raka melihatku dengan tatapan aneh nan bingung. Aku langsung memberikan bahasa isyarat kepadanya.


"Tolong Ave, Raka."


"Hubungi Salim."


Syukur Raka paham maksudku. Ia langsung pergi dari mobil Dimas.


"Kamu memberi tanda apa kepada anak itu?" tanya Dimas dengan wajah marahnya.


"Nggak memberi apa-apa. Dia itu tuna rungu. Ave bilang cepat makan. Ini sudah waktunya makan siang," ucapku berbohong.


Untung mereka nggak mengerti tentang bahasa isyarat.


"Ternyata kamu baik juga, ya," ujar Bisma di sampingku.


"Lebih baik kamu sama aku saja," lanjutnya mesra di telingaku. Jadi geli mendengarnya.


"Stop Bisma. Jangan berbicara seperti itu lagi. Ingat rencana kita awalnya," kata Dimas mengingatkan.


"Oh, ya bagaimana bisa aku lupa? Bukankah kita akan menghabisi nyawanya?" Bisma menepuk jidatnya dan berseloroh dengan santainya.


Kalian akan membunuh Salim? Apa salah Salim?


"Nah kita sudah sampai. Ayo cepat turun!" bentak Dimas lagi sambil menyeretku masuk ke rumahnya.


Kamu di mana, Lim? Ave takut.


Hanya itu yang bisa aku gumamkan saat masuk ke sebuah rumah kecil yang terletak di pinggir pantai.


*****

__ADS_1


Salim's Pov


Aku segera melajukan mobil menuju kediaman Dimas di tepi pantai. Aku tahu ia membawa Ave ke sana karena pernah diajak  Dimas waktu pertama kali kami menjadi mahasiswa baru.


Sial lampu merah.


Tok ... tok ...


Aku melihat dari kaca mobil sebelah kananku. Ada Raka sang pengamen yang tuna rungu.


"Ada apa Raka? Maaf Mas Salim tidak bisa bermain hari ini," kataku meminta maaf.


Dia malah menyodorkan selembar kertas berisi tulisannya. ( kami pernah mengajarinya huruf dan tulisan) aku menerimanya dan ia tersenyum.


Raka tadi melihat mbak Ave naik mobil bersama orang-orang yang Raka nggak kenal. Mereka ke arah pantai.


Benar dugaanku. Mereka membawa Ave ke rumah pantainya. Jika terjadi sesuatu terhadap maka aku tak pernah mengampuni Dimas dan Bisma walau Bisma adalah sepupuku sendiri.


"Terima kasih Raka. Sekarang kamu hubungi Kang Rustam, ya. Salim minta tolong." Aku memintanya menghubungi Mas Bagas dan Kang Rustam.


Ia mengangguk dan langsung pergi. Aku akan meminta tolong kepada kang Rustam sang kepala Preman yang ditakuti dan di segani oleh polisi karena kepintarannya menangkap bandar narkoba.


Aku tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa lagi selain Kang Rustam. Jika aku meminta tolong kepada polisi. Aku tidak akan jamin mereka mau membantu. Secara ayah Dimas adalah kepala polisi.


*****


Prang....


Eyang Uti belari menuju dapur. Mendapati Ambar yang masih bingung dengan kejadian ini.


"Ana apa, Nduk?" Eyang Uti panik saat gelas jatuh dari tangan Ambar.


"Ambar tidak tahu, bu. Tiba-tiba saja gelas yang dipegang Ambar terjatuh," sahutnya masih dengan nada khawatir.


Ambar menatap mata mertuanya dengan sedih.


"Ada apa ya, Nu? Ambar takut terjadi sesuatu sama anak-anak." Takut Ambar dengan cemasnya.


"Ora terjadi apa-apa, Nduk. Wes serahake ning Gusti Allah." [ Tidak terjadi apa-apa, Nduk. Sudah serahkan pada Gusti Allah]


Ambar mengangguk walau dalam hati kecilnya terdapat sesuatu yang tak bisa ia jelaskan.


******


Salim's Pov


Aku sudah tiba di rumah Dimas. Benar itu mobil Dimas. Aku mengetuk pintu rumah bercat putih. Bisma yang membukanya dan sedikit terkejut dengan kedatanganku.


"Di mana Ave?" tanyaku refleks.


"Tenang sepupuku yang ganteng. Dia ada di kamar. Mungkin lagi berduaan di kamar," ejeknya yang menjengkelkan.


"Apa kau yang kau katakan?" Aku mencengkram kerah bajunya.


Bisma tertawa dengan sinisnya.


"Tenanglah Bro. Dimas hanya sedang berbicara berdua dengan Ave saja kok. Jangan panik," canda Bisma yang garing.


"Oh, ya bagaimana dengan dokumen itu? Apa kau sudah siap memberikan tanda tanganmu?" Kembali ia menyodorkan dokumen itu ke arahku.


"Bukankah sudah kukatakan kepadamu, Bisma. Aku tidak akan pernah memberikan tanda tanganku kepada ayahmu yang culas itu."


"Oh jadi kau ingin mempertaruhkan nyawamu rupanya," sindirnya sarkasme.

__ADS_1


Aku menerebos masuk secara paksa. Aku ingin tahu keadaan Ave. Aku takut penyakitnya kambuh karena terkejut atas kejadian ini.


Aku menemukan sebuah pintu yang terkunci dari dalam. Aku memaksanya membuka tapi tidak bisa. Dimas mengunci dari dalam.


"Kamu tidak akan bisa membukanya, Salim. Dengarkan saja percakapan mereka dari luar," katanya dengan tersenyum penuh kelicikan.


Aku bisa mendengarkan Dimas menceritakan semuanya tentang aku kepada Ave. Sejujurnya aku tak ingin Ave mengetahuinya.


*****


Ave's Pov


"Nah itu kekasih pujaan hatimu sudah datang." Dimas tertawa dengan gilanya. Aku rasa ia sudah gila.


Aku hendak menuju pintu yang tertutup itu tapi tangan kekar Dimas memegangku dengan sangat erat bahkan menyakitkan.


"Kamu mau ke mana, Nona Cantik? Katanya kamu mau mendengar kisahnya Salim?" Ia menatapku dengan tatapan sinis.


Dimas mendorong tubuhku hingga terjatuh di atas kasur. Ia menarik daguku.


"Menikahlah denganku maka kekasihmu tak akan kubunuh." Dimas menyeringai. "Dan katakan kepada kekasihmu itu untuk memberikan tanda tangannya jika tidak maka Bisma akan menghancurkan ayah Salim," lanjutnya dengan memberi kecaman.


"Kenapa kau ingin terus mengatakan menikah dengan Ave?" Aku mendesaknya berbicara.


"Aku butuh kekayaan dan kekuasaan keluargamu, Vel. Aku butuh itu semua untuk ayahku. Apa kau tahu yang membunuh kakakmu adalah ayahku? Jika berita ini tersebar maka habislah riwayat ayahku. Jika aku menikah denganmu maka ayahku masih bisa berkuasa dan akan mencalonkan Presiden. Siapa yang akan berani menahan seorang Presiden jika bersalah?" lanjutnya dengan pongah.


Aku kira berita itu yang aku dengar keliru, tetapi benar adanya. Hanya demi kekuasaan dan kekayaan orang-orang akan gelap mata.


"Dan ada satu rahasia lagi yang perlu kau tahu tentang Salim?" Ia mendekatiku.


"Apa itu?" tanyaku dengan penasaran.


"Apa kau yakin mau mendengarnya, Nona?" selidiknya menyeringai.


"Jangan kau dengarkan kata dia, Ve," sahut Salim dari luar.


Dimas melirik pintu itu dan terkekeh.


"Jika kau ingin mendengarnya maka siapkan hatimu."


Apa yang hendak ia bicarakan sih?"


"Cepat katakan!" Aku menghentaknya agar ia cepat berbicara.


"Jangan Ve. Jangan dengarkan. Salim mohon."


Dimas membisikan sesuatu yang membuat aku sangat terkejut dan hampir menampar Dimas, tetapi untung aku tak menamparnya.


"Jadi bagaimana? Apa kau masih mau dengan Salim?" ulangnya dengan berbisik.


Aku merasakan sesak di dadaku dan hampir tak bisa bernapas. Aku meraih tas untuk mengambil inhaeler.


"Kamu kenapa, Vel?" Terlihat ada nada panik Dimas.


Tubuhku lunglai di atas kasur. Sebelum benar-benar aku pingsan. Aku melihat Salim dan Kang Rustam menerjang pintu.


"Salim ...."


Aku memanggilnya lirih dan mata ini sudah tertutup karena sesak di dadaku.


*****


\=Bersambung\=

__ADS_1


Rahasia apa yang dimiliki Dimas tentang Salim ya?


__ADS_2