
Mohon saran dan kitiknya....
°
°
°
Ave's Pov
Kami saling berdiam diri memandang jalanan. Aku masih merasa kikuk atas kejadian tadi dan tak berani menatap wajahnya di depan. Aku hanya memalingkan wajah ke samping melihat pepohonan.
"Aduh Cah Ayu. Eyang kangen karo kowe," ucap Eyang Yaya memelukku seakan lama tak berjumpa. Padahal aku hanya tiga hari saja.
"Iya. Ave juga kangen sama Eyang," sahutku melepaskan pelukan Eyang Yaya yang erat.
"Salim, Eyang arep ngomong karo kowe dewean. Cah Ayu ning dalem ae yo." Eyang Yaya mengajak Salim ke di teras kantor kami. [ Salim, Eyang mau bicara sama kamu. Cah Ayu di dalam saja, ya ]
Aku penasaran dengan pembicaraan mereka, tetapi keburu ayah memanggilku.
"Aduh anak ayah sudah pintar, ya menjalankan bisnis keluarga. Ayah bangga sama kalian berdua. Akhirnya ayah bisa pensiun." Kekeh ayah dengan senang.
"Loh Ayah nggak boleh pensiun. Kita masih butuh Ayah." Aku menyanggah perkataannya.
Ayah hanya tertawa saja mendengarkanku.
"Oh, ya Ayah. Apa Ayah tahu hubungan antara Ayah Malik--aku memanggilnya beliau setelah kami bertunangan--dengan pemilik perkebunan sawit di kota ini?" tanyaku dengan penasaran seribu kali.
Ayah terkejut mendengar ucapanku. Ayah tak jadi meminum kopi yang sudah diseduh. Menatapku dengan nanar.
"Ayah ada apa?" Aku mengguncangkan tubuh ayah karena aku masih tertegun.
"Nak, mungkin lebih baik biar Salim yang menceritakannya, ya. Ayah bukannya tidak bisa, tetapi itu bukan hak ayah." Ayah mengelus rambut panjangku dengan kasih.
"Tapi ayah?" Aku mencoba membujuk ayah.
"Nak, yang paling penting sekarang. Kamu dan Salim harus bisa bersama. Jangan ada yang bisa memisahkan kalian. Kalianlah penopang hidup keluarga Jayanatra dan keluarga Malik," ucap Ayah yang membuat aku semakin penasaran.
Ada apa sih antara mereka? Aku di buat penasaran.
*****
__ADS_1
Hari ini aku masuk kuliah lagi setelah liburan usai. Banyak hal yang berubah dari kampus ini. Dua bulan yang lalu kampus ini membangun satu prodi Bahasa Mandarin. Sekarang ruangan itu sudah selesai dibangun. Ngomong-ngomong, aku sudah semester tiga. Banyak sekali para mahasiswa baru. Sekali lagi Salim menjadi anggota Ospek.
"Ni shi shenme mingzi?" (Siapa namamu) Celetuk Ayu yang memang fasih bahasa mandarin.
"Aduh Ayu. Jangan bicara seperti itu. Ayu tahu sendiri kalau Ave tidak bisa dan tidak tahu artinya," dengkusku kesal karena digoda.
"Dui bu chi."(Maaf) Candanya yang dengan tertawa.
"Vel, sudah tahu belum yang pidato penerimaan mahasiswa baru hari ini adalah ayahnya Bisma," sahut Ayu berjalan di
sampingku.
"Oh, ya? Berarti aku bisa lihat langsung ayahnya Bisma sekaligus pamannya Salim, ya?" Aku tak sabar melihat rupa pamannya Salim.
"Ya seperti itulah," jawabnya pendek.
"Si Rani ke mana, ya?" Mataku mencari keberadaan si cempreng Rani.
"Kagak masuk dia. Sakit perut," ujar Ayu spontan.
Kami sudah sampai di pinggir lapangan hanya untuk melihat pamannya Salim. Husni Wiryanto Malik. Sang pengusaha sukses-- katanya mereka. Kaya tapi merebut harta saudara sendiri.
Bagaimana bisa saudara sendiri mengusir kakaknya dan mengambil semua hartanya? Ada apa dengan dunia ini sekarang? Dan mengapa ayah Malik tak bisa melawan?
Aku harus mencari tahu tentang semua ini. Jika tidak, aku akan semakin penasaran. Aku tak mendengarkan tuan Husni yang ada di depan podium untuk berpidato. Hanya melihat wajahnya yang sekilas mirip dengan ayah Malik.
"Itu ayahku," bisik Bisma di telingaku yang menyebalkan.
Ayu melototi si Bisma agar segera pergi, tetapi tak di gubris.
"Lalu urusanku dengan ayahmu apa, ya?" Aku balik bertanya.
"Kau bisa menikah denganku atau menikah dengan Dimas anaknya Kapolri." Bisma memandangiku dari bawah ke atas yang membuat aku risih.
"Daripada kau menikahi anak sopir yang miskin," lanjut Bisma dengan nada mengejek.
"Cih tak sudi ambo menikah dengan kau ataupun si Dimas itu," jawab Ayu spontanitas.
Yang di tanya siapa yang jawab siapa. Dasar Ayu tukang nyeletuk.
"Lagipula siapa mau menikah denganmu, Yuyu?" Cela Bisma kesal.
__ADS_1
"Seenaknya aja lu panggil nama gua Yuyu. Kalau gua jadi Avel kagak mau deh gua kawin sama lu," omel Ayu dengan geram.
Aku melerai pertengkaran mereka dan pergi meninggalkan mereka berdua yang tak selesai dengan ocehan tak jelas.
*****
Salim's Pov
"Bagaimana kabar ayahmu, Tubagus?" tanya Paman Husni setelah pidato dan menemuiku di ruangan Humas.
"Untuk apa Paman menanyai kabar Ayah?" tanyaku balik yang tak mau memandang wajah paman.
"Paman kira setelah kalian pergi dari rumah itu kalian akan---." Ucap Paman tersendat.
"Paman kira kita akan menjadi pengemis?" Aku tertawa mendengarnya. "Itu tak pernah terjadi, Paman. Allah masih sayang dengan Salim dan Ayah. Keluarga Jayanatra yang mau menerima kami setelah surat warisan itu jatuh ke tangan Paman," lanjutku yang tak ingin melanjutkan kata-kata lagi.
"Itu hak kami, Tubagus. Hak Paman dan Bisma," kata paman yang emosi.
"Hak yang dipalsukan. Seharusnya harta itu menjadi milik ayah dan Salim jika paman tak melakukan hal itu." Rasa marah mengeram di hatiku.
"Paman melakukan hal itu agar hak Paman diberikan," ucap Paman dengan kesal dan marah.
"Apa dengan menculik dan membunuh anak dari rekan bisnis Paman!" Aku mulai marah dengan Paman.
"Jika Paman tak menculiknya maka ayahmu tak akan menandatangani surat itu yang menyatakan semua harta warisan jatuh ke tangan Paman," ujar Paman kejam.
"Mengapa Paman membunuh Mustika? Anak kesayangan ibu Ambar. Apa Paman tahu selama ini Ayah memendam perasaan bersalah terhadap keluarga Jayanatra? Walaupun mereka tak pernah mempersalahkan Ayah atas peristiwa itu," lanjutku yang marah dan panas.
Aku tak mau lagi berurusan dengan Paman. Lebih baik aku keluar dari ruangan ini.
"Lebih baik kau putuskan hubunganmu dengan anak keluarga Jayanatra. Kau tak pantas dengannya," ejek paman.
"Apa peduli Paman?" Aku melangkahkan kakiku menuju pintu keluar dan melihat seseorang yang aku kenal berdiri di depan pintu dengan wajah yang pucat.
"Ave?"
\=Bersambung\=
Kejamnya si Paman Husni, ya?
Ingin tahu cerita selanjutnya? Ayo dibaca dan divote biar aku semangat menulisnya.
__ADS_1