Nona Kecil

Nona Kecil
Part 18 Tali Kasih


__ADS_3

Mohon saran dan kritiknya...


°


°


°


Hari ini pesta pertunangan anak keluarga Jayanatra, Cahyadi dan Malik. Hari ini Aveliena dan Salim akan bertunangan. Tak ketinggalan Bagas dan Dian. Suasana rumah tak begitu ramai hanya mengundang keluarga masing-masing. Ave cantik dengan kebaya berwarna cokelat dengan bawahan rok selutut. Siapa yang tak mengagumi kecantikan putri bungsu Jayanatra. Wajahnya campuran indo jawa. Ayahnya Brata berasal dari tanah Jawa asli sedangkan ibunya Ambar merupakan darah campuran Jawa dan Jepang dari kakek neneknya.


"Selamat ya, Dek. Akhirnya kalian bertunangan." Ucapan selamat yang tulus dari kakaknya, Raras dan suaminya.


"Iya Mnbakyu. Tetapi---" Kata Ave gelisah.


"Tetapi kenapa, Dek?" Raras mendekati adiknya yang terlihat gelisah sedari tadi.


"Ave takut, Mbakyu," lontarnya dengan nada gugup.


"Takut kenapa?"


"Ave takut nantinya nggak bisa menjadi istri yang baik buat Salim." Ave memilin rambutnya yang terurai. Tak berani menatap mata kakaknya.


"Dek, lihat Mbak." Raras memutar tubuh adiknya agar sejajar.


"Dek, Mbak yakin kamu bisa menjadi istri yang baik buat Salim. Kalian sudah mengenal satu sama lain sejak kecil. Salim tahu siapa kamu begitu juga sebaliknya. Salim mengenali kamu luar dalam. Salim sangat mencintaimu, Dek," urai Raras menasehatinya.


"Apakah Mbakyu bahagia sama Mas Bayu?"


Raras memberi senyumannya yang tulus. "Mbak sangat bahagia sekali sama Mas Bagus."


"Apakah Ave juga bisa seperti Mbakyu dan Mas Bayu?"


"Tentu saja." Raras membelai rambut adiknya yang sudah semakin dewasa.


Ave lega mendengar perkataan Mbakyu Raras.

__ADS_1


*****


Mira terlihat belari kencang dan berteriak kepada penghuni rumah yang sedang berkumpul di pendopo selesai acara. Dari raut wajahnya terlihat cemas.


"Tuan ...." Panggilnya sambil belari.


"Ana opo toh Mira? Koyok wong kesambet ae." Eyang Uti terlihat kesal dengan teriakan Mira.


"Itu eyang di luar---" Suara Mira terdengar gagap dan menunjuk halaman depan.


"Ana opo ning luar?" tanya eyang Yaya berdiri dari tempat duduknya dan mengambil tongkat kesayangannya. [ Ada apa di luar ]


"Banyak preman dan anak jalanan di luar, Eyang," kata Mira terbata-bata.


Semua segera beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri pintu depan untuk mengetahui ada apa mereka datang ke rumah ini. Alangkah terkejutnya mereka mendapati para preman dan anak jalanan berdiri di luar pagar dan membawa spanduk bertuliskan. "Mbak Ave selamat atas pertunangannya."


Ambar tak kalah syoknya ketika Ave dari dalam rumah menghampiri mereka dengan senyuman mengembang dan belari membuka pagar yang di kunci.


"Nduk, buat apa kamu ke sana. Mereka preman," cegat Pak Brata memegang lengan Ave agar tak kesana.


"Tetapi mereka itu preman, Nak. Ibu takut kamu diapa-apain lagi." Ambar panik.


"Jangan takut sama mereka, Ayah. Mereka baik kok. Mereka yang selalu jaga Ave waktu Ave pernah diganggu preman lainnya," kata Ave dengan jujurnya.


Ayah maupun ibu tak bisa menahan keinginan Ave untuk membuka pintu pagar. Para teman-teman Ave yang tak lazim itu segera memberi ucapan selamat dan sebuah kado berukuran besar.


Para teman Ave memberi salam dan mencium tangan Brata, Ambar, Eyang Yaya serta Eyang Uti. Setelah memberi salam mereka akan pulang tetapi dicegah oleh eyang Uti.


"Ojo mulih sek. Ayo mangan. Ora sopan tamu ora dikei mangan." Eyang Uti mempersilakan para teman Ave masuk dan duduk di teras depan untuk makan. [Jangan pulang dulu. Ayo makan dulu. Tidak sopan ada tamu tidak diberi makan ]


"Maksud Eyang. Kalian makan dulu baru boleh pulang," sambung Ave yang tak dimengerti oleh para temannya.


Mereka sangat senang sekali karena dapat makan. Walaupun mereka preman dan anak jalanan. Mereka mengerti sopan santun. Makan tak bersuara bahkan selama makan tak berbicara hanya menikmati makanan yang cukup mewah yang tak pernah mereka rasakan selama ini.


"Kula iki heran loh pak.e kok isa Cah Ayu duwe kanca preman," kata Eyang Uti mengintip dari balik jendela kepada suaminya yang sedang membaca koran. [ Saya ini heran, Pak. Kok bisa Cah Ayu punya teman preman ]

__ADS_1


"Mereka orang baik kok Eyang. Hanya saja mereka memilih jalan yang salah menjadi preman dan anak jalanan," sahut Salim yang mengantarkan teh kesukaan Eyang Uti.


"Opo tenanan sing kowe ngomong?" Lanjut Eyang Uti yang penasaran. [ Apa benar yang kamu bicarakan?]


"Mereka yang menjaga kampung kita, Eyang. Tiap malam mereka berkeliling di sekitar kampung dan menjaga di depan rumah kita," jawab Salim dengan senyuman.


"Oh pantas saja. Waktu Bagas pulang malam. Mereka tak mengikuti Bagas. Bagas pikir mereka begal," ujar Bagas yang sedari tadi berdiri di belakang Salim.


"Tapi bagaimana ceritanya si Ave kenal sama mereka?" Ekspresi Bagas heran mengenai adiknya.


"Ceritanya panjang Mas Bagas," lanjut Salim dengan raut wajah mengenang.


Mengalirlah cerita dari Salim. Tepatnya sepuluh tahun yang lalu. Kala Ave masih duduk di bangku sekolah. Ia sering bermain di dekat jalan raya bersama Salim. Ave dan Salim mengajak para anak jalanan yang sekarang jadi preman untuk belajar Calistung. Menurut Ave kecil biar mereka tak dibodohi oleh masyarakat karena mereka tak bisa membaca, menulis bahkan berhitung. Ave maupun Salim awalnya sulit menyakinkan orang tua mereka. La anak kecil yang ngomong pastinya orang tua tak percaya. Lambat laun akhirnya para orang tua memberikan dukungan kepada Ave dan Salim kecil. Anak-anak yang sudah beranjak dewasa sekarang ada yang menjadi satpam atau penjaga toko walau mereka hanya anak yang tak lulus sekolah. Ada juga yang menjadi preman, tetapi bukan sembarang preman. Mereka bekerja sama dengan polisi untuk meringkus begal, perampokan dll yang marak terjadi. Tak sia-sia usaha Ave dan Salim selama ini. Mereka masih aktif memberikan pengajaran kepada anak-anak jalanan lainnya.


Semua yang mendengar perkataan Salim. Tercekat dan tak percaya. Putri maupun cucu mereka bukanlah orang sembarangan. Ave adalah malaikat bagi preman dan anak jalanan. Mereka sangat menyayangi Ave dan Salim. Begitu juga sebaliknya.


Eyang Uti yang mudah trenyuh langsung menghapus air matanya. Ia segera beranjak ke dapur dan membungkus makanan yang masih banyak untuk dibagikan kepada teman Ave.


Tak hentinya mereka mengucapkan terima kasih karena diberi makan dan dibawakan makanan untuk keluarga di rumah.


"Kami mengucapkan terima kasih untuk Eyang dan bapak ibu sudah mengijinkan kami masuk dalam rumah ini," ucap Rahman selaku kepala preman dengan tulus.


"Mboten napa-napa, le. Mugi-mugi panganane gawa rejeki gawe keluargane sampeyan." Eyang Yaya menimpali. [ Tidak apa-apa. Semoga makanan menjadi rejeki bagi keluarga kalian ]


Mereka tak mengerti yang diucapkan Eyang Yaya.


"Kata Eyang biar makanan ini menjadi berkah buat keluarga kalian," jelas Ave yang disertai anggukan dan senyuman mereka.


Akhirnya mereka berpamitan pulang.


"Eyang, teman Ave nggak mengerti apa yang diucapkan Eyang. Sekali-kali gitu Eyang pakai Bahasa Indonesia," sungut Ave dengan cerewetnya.


"Ora isa Eyang. Enakan kanggo basa jawa," sahut eyang Yaya dengan terkekeh. [ Tidak Bisa. Enakan pakai Bahasa Jawa ]


\=Bersambung\=

__ADS_1


Si Ave ini punya banyak teman, ya. Oh, ya jika ada yang salah dalam penggunaan bahasa jawa di atas. Tolong beritahu saya.


__ADS_2