Nona Kecil

Nona Kecil
Part 22 Ancaman Pertama


__ADS_3

Mohon saran dan kritiknya....


°


°


°


Salim's Pov


Aku benar-benar tak percaya dengan yang dikatakan Ayu. Dimas dan Bisma mengikuti Ave sampai ke sini. Aku pergi ke tempat yang ditunjuk Ayu. Di Mall sebesar ini bagaimana bisa menemukan mereka.


"Kamu mencariku, Salim?" Kejut Bisma dari belakang yang menyadari jika mereka yang dicari.


"Apa kau yang menelepon Ave sejak kita berangkat dari Malang?" Terkaku untuk mencari jawaban.


"Bukan Bisma tapi aku," sahut Dimas yang berjalan dari arah belakang.


"Apa mau kalian semuanya?" Aku hampir saja marah tapi aku berusaha sabar.


"Tidak banyak sih, Lim," jawab Bisma dengan angkuhnya.


"Pertama Ave menjadi milik Dimas. Kedua kamu harus melepaskan nama Malik di belakangmu," ujar Bisma sambil menepuk bahuku dengan keras.


"Maaf untuk itu semuanya. Aku tak bisa. Aku akan tetap bersama Ave dan namaku selamanya akan menyandang Malik." Aku tak mau kalah dalam pertengkaran ini.


"Kau tak tahu akibatnya jika kau berurusan dengan seorang Dimas Hardinata!" tegas Dimas dengan mata yang tajam.


"Kau pikir aku takut dengan ancamanmu itu?" Aku berbalik menatapnya tajam.


"Aku sudah mengincar keluarga Jayanatra sejak putrinya masuk di kampus. Dengan kekayaan yang mereka miliki. Keluargaku akan disegani," kata Dimas memberitahu kenyataan sebenarnya.


"Aku tak mau kau menjadi penghalang bagi aku untuk memenangkan hati Aveliena," lanjutnya dengan nada geram.


"Dan kau tak berhak menyandang nama Malik di belakang namamu. Karena yang berhak hanya aku, Tubagus," timpal Bisma dengan sinisnya.


"Ingat perkataanku hari ini. Aku tak akan melepaskan Ave dan namaku hanya untuk seorang Dimas Hardinata yang pengecut." Aku mulai geram melihat mereka.

__ADS_1


"Karena kau berkata seperti itu maka dengan terpaksa aku akan melakukan jalan pintas untuk menghancurkanmu," ancam Dimas seraya berlalu dari hadapanku.


Ya Allah cobaan apa lagi ini? Belum cukupkah Paman dan Keluarga Hardinata menghancurkan ayah dulu?


*****


Ave's Pov


Aku sengaja mengikuti Salim yang akan menemui Dimas dan Bisma. Okelah aku tak perlu lagi memanggil mereka dengan sebutan kakak. Tak pantas.


Untung Salim tak mengetahuinya ketika aku mengikutinya sampai Mall. Salim berdiri di depan toko pakaian. Sengaja masuk ke toko tersebut dan mengintip. Aku bisa melihat ada Salim, Dimas dan Bisma. Mereka membicarakan tentang diriku. Kenapa harus aku yang menjadi objek pembicaraan mereka.


"Mbaknya mau beli baju seperti apa?" tanya SPG toko yang mendapati aku hanya melihat dan sekali-kali mencuri dengar percakapan Salim.


"Maaf Mbak. Saya cuma numpang menguping pembicaraan mereka," kataku dengan malu.


"Kalau Mbak tidak membeli. Tolong keluar dari toko kami," dengkus si mbak spg dengan kesal.


"Iya Mbak. Maaf."


Aku segera keluar dengan jalan pelan-pelan dan menutupi kepalaku dengan jaket hoodie.


Ih si mbak itu sih. Halangin aku aja.


*******


"Lim, kok lu nggak bareng Avel? Dia membuntuti lu tadi," kata Ayu yang terkejut tak mendapati Salim bersama Ave.


Deg....


Perasaan yang takut akan kehilangan Ave membuat Salim panik. Ia segera belari tak mendengarkan celotehan Ayu yang ngedumel tak jelas.


"Yeay Si Salim. Gua tanya dia lari," dumel Ayu dengan wajah tak bersalah karena tak menemani Ave tadi.


"Kamu di mana, Ve?" Gumam Salim yang terus mencari keberadaan Ave di dalam Mall.


Mata Salim terus mencari keberadaan Ave. Dari segala sudut dan penjuru Mall terus ia sisiri. Ia takut Dimas atau Bisma mencelakai Ave. Wanita yang ia cintai. Rasa frustasi muncul di benak Salim. Apakah Ave diculik?

__ADS_1


Tepat saat matanya memandang sebuah outlet es krim. Ia melihat seorang yang sangat ia kenali, sedang asyik memakan es krim gelatonya duduk sambil menikmati orang yang berlalu lalang. Tanpa merasa bersalah, melambaikan tangan ke arah Salim dan memanggilnya.


"Salim Lim....sini." Panggilnya dengan sumringah.


"Ya ampun Ve. Aku kira terjadi apa-apa denganmu." Rasa khawatir masih menghantui Salim.


"Aku?" Ia tertawa terbahak-bahak. "Aku lagi ingin makan es krim. Cuacanya panas sekali sih," lanjutnya sembari mengibaskan tangannya mengipasi wajah.


Rasanya Salim ingin mencubit si Ave. Di cari kemanapun kagak ada. Nggak tahunya nongkrong di outlet es krim.


Melihat Salim yang berubah diam. Akhirnya Ave membuka suara.


"Maafin Ave, ya. Ave salah. Nggak kasih kabar," latanya dengan wajah yang dibuat ingin menangis.


Salim yang tak tega hanya menghela napas panjang melihat ulah nona kecilnya.


"Jangan diulangi lagi. Kalau Ave mau pergi. Ajak Ayu atau Salim," sahut Salim dengan pelan.


Ave mengangguk seraya menyuapi Salim sesendok es krim ke mulut Salim.


Dret....dret.....


"Nduk, eling pesan Eyang. Ojo lunga dewean. Kudu ana kancamu atawa Salim."


Seperti biasa Eyang Uti dan Ambar akan mengingatkan Ave jangan pergi sendirian apalagi di kota orang.


"Dari siapa? Eyang Uti, ya?" Tanya Salim sambil makan es krim milik Ave.


Ave meng-iyakan.


"Lim, Ave mencuri dengar percakapan kamu dan Bisma. Ada hubungan apa kamu dan Bisma? Kenapa nama belakangmu sama dengan Bisma? Apa kalian bersaudara?" Cerca Ave yang ingin tahu.


"Apa Ave ingin tahu?" Tanya Salim.


"Iya. Ave ingin tahu."


"Baiklah. Dengarkan Salim, ya."

__ADS_1


\=Bersambung\=


Penasaran ya ada hubungan apa antara Salim dan Bisma? Ikuti kisahnya. Jangan lupa vote. Terima kasih.


__ADS_2