
"Selamat membaca.
Biasa nya Zio akan di antar dan di jempu olah Zaki, tapi tidak untuk hari ini. pagi ini dia berangkat sendiri ke kantor.
Begitu sampsi di kantor Zio pun keluar dari mobol nya masuk kedalam.
Pagi pak!"
Sapa Riki dan Joko, saat melihat atasan mereka lewat.
Zio pun tersenyum membalas sapaan karyawan yang menyapa nya.
Melihat atasan nya tersenyum, karyawan itu pun merasa heran.
"Aku gak salah lihat kan? pak Zio tadi tersenyum?" karyawan itu bertanya pada temannya.
"Gak, kamu gak salah lihat kok," teman nya pun menjawab. Dia juga melihat kalau bosnya itu tersenyum. Kembali melanjutkan pekerjaan mereka.
"Aaakk!"
Jerit karyawan wanita berlari kearah mereka.
"Kamu kenapa sih?" tanya Riki dan Joko bersamaan.
mereka heran melihat teman kerja nya yang tiba-itba beelari kearah mereka berdua.
Pak Zio… pak Zio tersenyum sama aku," ucap karyawan wanita itu bahagia, persis seperti mendapat kan barang yang sangat berharga.
__ADS_1
"Gak segitunya juga kali," ucap Riki dan Joko bersamaan.
"Bilang aja, kalian iri sama aku, kalau gak kalian cemburu sama pak Zio, karna sudah tersenyum sama aku, " ucap nya begitu pede.
"dih peda amat si lo, tadi pak Zio juga tersenyum kok sama kita," ucap Joko, wanita iru pun terdiam tadi ia pikir Zio hanya tersenyum pada nya.
Mendengar kata Joko dan Riki wanita itu pun pergi dari situ, kembali ke meja nya.
"Aku pikir, pak Zio tersenyum cuma sama aku, ternyata tidak," gumam nya sabil berjalan.
Ternyata bukan hanya karyawan nya heran melihat Zio, Tapi asisten Zaki juga.
"Ih tuan kesambet apaansih senyum-senyum sendiri," gimam Zaki sambil bergidik.
"Kamu kenapa sih Zak?" tanya Susan melihst Zaki seperti begidik, saat melihat atasan nya melewati mereka.
"Itu si tuan kenapa senyum-senyum."
"Heran aja, gak biasa nya," ucap lagi.
"Harus nya kamu senang dong, itu tandanya pak Zio sedang bahagia, bisa juga sedang jatuh cinta."
"Mungkin sih, kayak nya tuan lagi jatuh cinta," ucam nya tersenyum, saat mengingat kemarin Zio mencium Sasya yang sedang tidur.
"Loh kok kamu yang jadi senyum-senyum sendiri sih, apa janga-jangan, kamu juga kesbet ya," ucap Susan tersenyum.
"Ke_kesambet apaan sih," ucap Zaki rerputu-putus, salah tinggah melihat senyuman Susan.
__ADS_1
"Tadi, pak Zio tersenyum, kamu nya merasa heran sampai bergidik gitu, lah kamu sendiri jugak senyum-senyum sendiri."
"sudah lah, aku masuk dulu bemberikan ini pada tuan."
Setelah mengatakan itu, Zaki pun masuk keruangan Zio meninghal kan Susan yang masih tersenyum.
"Tuan, ini berkas yang harus tuan tanda tangani," ucap nya setelah ia masuk, lalu memberikan berkas yang ia bawa.
"Hanya ini? tidak ada yang lain?" Zio bertanya sambil tersenyum.
Hal itu pun membuat Zaki merasa yakin kalau sudah terjadi sesuatu dengan tuan nya itu.
Di tempat lain.
Seperti biasa setelah Zio pergi, Sasya akan membersih kan rumah, meski pun sudah menjadi pacar Zio, dia tetap mengerjakan pekerjaan nya.
Setelah pekerjaan nya selesai. Dia pun pergi kedapur untuk belajar memasak, ya dia memutuskan untuk belajar memasak, agar tidak terus mengharapkan Zio.
Dia sudah sering memperhatikan Zio saat memasak, jadi dia sudah tau yang mana garam dan gula juga rempah-rempah lainnya.
Bahan-bahan nya sudah tertata rapi di atas meje.
"Cuci ikan nya terlebih dahulu, agar jadi bersih," ucap nya bicara sendiri.
"Setelah itu! kita buat bumbunya, lalu, kita masak," ia terus saja bicara sendiri.
Kalau biasanya orang membutuh kan waktu memasak hanya satujam, lain halnya dengan Sasya dia membutuh kan waktu berjam-jam, bukan hanya berjam bisa di katakan menghabis kan waktu satu hariaan hanya membersih kan rumah, dan memasak masakan sederhana.
__ADS_1
"Huh ahir nya selesai juga," ucap nya setelah masakan nya terhidang rapi dimeja makan.
bentar lagi Om pasti pulang, mending aku mandi dulu deh," gumam nya melihat jam di tangan nya sudah menunjukan jam lapanbelas lewat dua puluh menit. Lalu ia masuk kedalam kamarnya untuk mandi.