Om Tampan Dan Pencuri Cantik

Om Tampan Dan Pencuri Cantik
Lapabelas: Parhan marah


__ADS_3

"Selamat membaca.


Cukup lama Sasya menunggu tiga teman nya, tapi tak kunjung datang.


"Lamaamat sih, emang mereka bertiga gak lapar apa. Biasa nya jam segini sudah ada di sini.


Sasya terus bicara sendiri, karna tiga temannya belum juga datang.


"Sasya!


Parhan terkejut saat melihat Sasya.


"Lama banget sih Lu pada! aku udah jamuran nunggin kalian," ucap nya melihat ketiga teman nya, sekaligus keluarga baginya.


"Kita mana tau Sya, kalau lagi nungguin kita," ucap Parhan ingin masuk, tapi Sasya menahan nya.


"Gak usah masuk."


"emang kenapa? lapar Sya mau makab!"


"Hari ini libur makan bakso, Gue mau ngajakin kalian makan di restoran," ucap nya bahagia.


Dia memang sengaja menunggu diluar, agar bisa mengajak teman-temat pergi sebelum masuk kedalam.


"Benaran Sya?" tanya Ardi memastikan.


"Benaran lah, maka nya aku datang kemari."


"Emanya? kau su_."


"Udah ayok! nanya ya nanti aja," Sasya pemotong ucapan Rizal yang akan bertanya pada nya.


Berjalan lebih dulu, mencari angkutan umum untuk mereka naiki.


Mereka bertiga pun mengikiti Sasya, melihat Sasya naik mereka pun ikut naik. Sasya pun membawa mereka ke Rumah makan yang cukup terkenal.


Memilih tempat duduk yang nyaman, lalu memesan makanan yang mereka mau.


"Ini benaran Sya? lo yang bayarin kan?" tanya Ardi melihat harga makanan yang mereka pesan.


"Iya Di, Kamu gak usah takut, aku yang akan bayar semua nya. Jadi kalian bebas pesan apa saja," ucap nya meyakinkan Ardi.

__ADS_1


"Han, kamu kenapa sih? dari tadi diam aja?" Sasya bertanya pada Parhan, heran juga melihat teman nya itu hanya diam saja.


"Aku mau nanya? kamu dapat duit dari mana? bisa ngajakin kita makan di sini?" dari tadi Parhan sudah ingin menanyakan itu.


"A_aku, aku dah sudah menerma gaji pertama ku Han," jawab nya terbata.


"Bebaran Sya? kamu gak lagi bohongin kita kan," ucap nya lagi.


"Iya Han, kamu gak usah mikir yang aneh-aneh deh."


"Bukan gitu a_."


"Udah! mending kita makan aja!" ucap Sasya kebetulam pesanan mereka sudah datang.


Ahir nya mereka makan, meskipun dalam hati Parhan bertanya-tanya tapi dia tetap makan dengan lahap.


Selesai makan Sasya kembali mengajak mereka berbelanja, membuat Parhan tambah penasaran.


Apalagi saat melihat Sasya menggunakan kartu, yang ia yakini hanya orang kaya lah yang memiliki nya.


"Sya, kamu nggak? kerja yang aneh-aneh, kan?" Parhan kembali bertanya.


"Maksud mu apa sih Han? dari yadi kamu terus bertanya? kamu ngak percaya sama aku?"Sasya balik bertanya, bukan nya menjawab pertanyaan Parhan.


Ia merasa sedih dengan pertanyaan Parhan, padahal niat nya hanya ingin menyenangkan teman-teman nya, karna bagi nya Parhan Rizal dan Ardi, itu sudah ia anngap sebagai keluarga nya.


"Bukan gitu Sya, aku cuman gak mau, kalau kamu kanapa-napa," ucap Parhan, merasa bersalah setelah melihat Sasya bersedih.


"Sudah lah ,Han! kamu nggak usah mikir yang aneh-aneh! percaya aja sama Sasya!" Ardi mencoba meyakin kan Parhan.


"Maaf Sya, aku percaya kok sama kamu! tapi kamu harus jelasin semua nya ya sama aku!" Parhan pun mencoba percaya pada Sasya.


"Ya aku akan jelasin semua nya tapi tidak sekarang! kalian percaya sama aku. Aku tidak akan menjual diri hanya karna uang."


"Baik lah, kalau gitu kita pulang. kamu juga pulang hati-hati di jalan." kali ini Rizal yang bicara.


"Ya kalian ju_."


"Apa ngak bisa? kalau kamu juga ikut kita pulang?" tanya Parhan menatap Sasya.


Semenjak kepergian Sasya, parhan lah yang merasa sedih dan kehilangan.

__ADS_1


"Nggak bisa, Hen," tolak Sasya heran melihat Parhan, tidak seperti biasa nya.


"Aku janji Sya, Akan mencari tempat tinggal yang bagus buat kamu, aku akan cari kosan seperti keinginan mu," ucap nya lagi memegang tangan Sasya, membujuk nya berharap Sasya akan mau pulang bersama mereka.


"Ngak bisa Han a_," ucapan Sasya terhenti karna seseorang memotong nya.


"Apa? yang ngak bisa?" tanya Zio tiba-tiba datang, memotong ucapan Sasya, lalu menarik gadis itu kebelakang nya.


"Om, kok ada di sini? bukannya Om sedang kerja?" bukan nya menjawab ia malah bertanya.


"Apa yang kalian lakukan disini? dengan pacar saya? apa kalian memeras nya?" tanya Zio beruntun, menatap tiga piria yang bersama Sasya.


"Apa Om bilang paca!" ucap Parhan tidak menghiraukan pertanyaan Zio.


"Iya, Sasya adalah pacar saya," balas Zio menatap Parhan.


Empat pria itu pun tercengang mendengar pengakuan Zio, ya empat karna Zaki juga ada disitu.


"Jadi ini? yang kamu maksud pekerjaan?" ucap Parhan pada Sasya yang di balik Zio.


"Aku bisa jelasin semua nya Han," ucap Sasya ingin mendekat pada Parhan.


Ia yakin kalau Parhan sudah salah paham pada nya, tapi Zio melarang nya.


"Aku kecewa, sama kamu Sya!" ucap Parhan pula, setelah itu ia pergi.


"Han Parhan!


Panggil Sasya tapi tidak di dengarkan oleh Parhan.


"Ngak usah pikirin Parhan! tar kita yang urus!" ucap Rizal. Dia juga heran mengapa Parhan bisa semarah itu.


"Tolong, sampein sama Parhan! kalau aku ngak ada niat buat bohongi dia, dan juga kalinya."


Rizal dan Ardi pun mengangguk, lalu pergi dari tempat itu. Meninggalkan Sasya dan Zio, sedangkan Zaki sudah kembali ke mobil.


"Masuk mobil!" perintah Zio menatap Sasya dengan tajam.


I_iya Om."


Patuh Sasya masuk kedalam mobil, melihat Sasya sudah masuk, Zio pun juga masuk kedalaman mobil.

__ADS_1


__ADS_2