
"Selamat membaca.
Cukup jauh perjalan yang mereka tempuh, membuat Sasya tertidur pulas, Padahal masih pagi gadis itu sudah kembali tertidur.
menempih perjalanan satu setengah jam, baru lah mereka sampai di tempat yang mereka tuju.
"Sya, bangun kita sudah sampai," Zio mbangun kan Sasya, saat Zaki menghentikan mobil nya.
"Eehhh…
Sudah sampai ya Om?" tanya nya dengan mata yang tertutup.
"Ya kita sudah sampai! sekarang keluar lah!" jawab nya, lalu meminta Sasya agar keluar dari mobil.
"Memang nya kita ada di mana Om?" bukan nya keluar dia malah bertanya.
"Sudah keluar lah! nanti juga kamu tahu," ucap nya, Lalu ia keluar lebih dulu.
melihat Zio keluar, Sasya pun ikut keluar, Saat sudah di luar, Sasya pemperhatikakan tempat yang mereka datangi, lalu melihat ke arah Zio.
Karna Sasya merasa penasaran ahirnya ia pun bertanya pada Zio
"Om, Untuk apa kita kemari?" tanya nya.
Sebenarnya, dari tadi ia sudah bertanya, tapi Zio selalu menjawab. Nanti juga kau tahu, Itu lah jawaban nya.
Kembali Zio tidak menjawab pertanyaan Sasya, Ia malah memegang tangan Sasya, menarik nya pelan agar mengikuti lamgkah nya.
Setelah sampai Zio melepas kan tangan Sasya, lalu mengajak nya berjongkok di depan makam, yang Sasya tidak tau makam siapa itu.
"Katanya, kamu merindikana mama dan papamu," ucap nya sendu melihat makam yang di depan nya.
Sasya pun mengangguk kan kepala. "Lalu apa hubungan nya, kita datang kemari?" Sasya malah bertanya. Ia Tidak tahu kalau yang didepan nya adalah makam mama dan papa nya.
__ADS_1
"Ini adalah makapm mereka," ucap Zio sendu, kembali melihat makam yang ada di depan nya.
Untuk sesaat Sasya diam, masih mencerna ucapan Zio.
"Papa…!
"Mama…!
Tangisnya memeluk makam itu. Membuat hati Zio ikut merasajan sakitnya.
"Jadi, ini adalah makam mama dan papa Sasya Om?" Sasya kembali bertanya, masih dengan tangisan nya.
Zio mengangguk, lalu memeluk Sasya.
"Maafkan ,Om Sya!" ucap nya, ia kembali merasa bersalah. melepas kan pelukan nya, menghapus airmata Sasya.
Sasya mengangguk. "bukan salah Om kok, munggkin ini sudah jadi takdir aku," ucap Sasya.
Sasya kembali memeluk Zio, Zio pun membiarkan saja, Sasya menangis di pelukan nya.
"Mah, maafin Sasya, baru bisa datang sekarang," ucap nya mengelus makam mamah.
...****...
Seorang wanita paruh baya datang, membawa kan bunga, ke makam majikan nya. wanita itu merasa heran, melihat ada orang yang menangis di makam, majikan nya. Lalu ia pun mendekati makam itu.
"Kalian siapa?" wanita paruh baya bertanya pada Zio dan Sasya.
Mendengar ada yang bertanya Zio dan Sasya pun melihat ke arah suara yang bertanya itu.
Wanita itu menjatuh kan bunga yang ada di tangan nya, setelah melihat wajah gadis yang menangis di makam majikan nya itu.
Non Sasya!
__ADS_1
Wanita itu mendekati Sasya, ikut berjongkok lalu memeluk Sasya.
Dulu ia dan suami nya lah yang diam-diam mengantarkan Sasya, ke panti asuhan, saat Sasya sedang pingsan.
Wanita itu benar-benar tidak menyangka bisa bertemu dengan Nona nya. Sedangkan Sasya, ia diam saja di peluk oleh wanita itu, karena ia masih binging. Tidak mengerti apapun.
"Non, ya Allah, ahirnya kita bertemu lagi," ucap nya mengelus rambut Sasya kembali memeluk nya.
"Memang nya? kau siapa?" sebuah suara membuat wanita itu melepaskan pelukan nya pada Sasya.
Saya, Bik Esih, tu_." ucapan Bik Esih terhenti melihat wajah Zio.
Bik Esih terkejut melihat wajah Zio, Karna dia mengenal wajah itu.
"Sebenar nya Ibuk, siapa?" kali ini Sasya yang bernya.
Bik Esih beralih melihat Sasya. "Ini Bibik Non, Bik Esih, yang mengasuh Non Sasya," jawab nya memberi tahu Nona nya.
Membuat Sasya bertambah bingung, ia benar-benar tidak mengenal wanita yang bernama Esih itu.
"Bibik Esih," beo Sasya mengerut kan dahinya.
"Iya Non, Bik Esih," Bik Esih kembali bersuara.
"Bibik, pengasuh nya Sasya?" Zio bertanya, karna melihat Sasya yang masih bingung.
"Iya tuan, saya pengasuh nya Non Sasya," jawab nya.
"Kenapa? Non bisa bersama nya?" tanya Bik Esih berbisik pada Sasya.
Memangnya kenapa Bik?" tanya Sasya balik berbisik, ia memanggil Bik, pada Bik Esih.
"Diakan…." Bik Esih tidak melanjut kan ucapan nya.
__ADS_1
"Diakan, yang menabrak Mama dan papa Sasya, maksud Bibik."