
"Gawat, aku harus keluar dari situasi ini. Tidak baik jika terus bertarung dalam kondisi seperti ini." Yan Sheng melihat sekitar, tidak ada cara keluar dari pertarungan.
Di sekitar, terjadi pertarungan hebat yang tidak terlewatkan. Aula besar itu semakin memanas karena pendekar dan kultivator yang sebelumnya tidak ada masalah, terlibat dalam pertarungan karena terkena dampaknya.
Kekacauan semakin memanas sehingga muncul seseorang dari langit dengan aura yang luar biasa. Seorang pria muda terbang di udara dan menghentikan semuanya.
"Kalian kultivator dan pendekar alam bawah, mengapa bertarung di sini? Apakah kalian tidak menyambut kedatanganku?" Seorang pria dengan kultivasi Immortal Realm. Membuat pertarungan selesai begitu saja.
"A-apa yang terjadi? Mengapa ... tubuhku sangat berat? Tekanan ini, akh ... su-ngguh luar biasa." Shao Lan Bao berkata dengan lirih. Merasakan tubuhnya tidak berdaya karena aura yang menekannya sampai tertunduk.
"Ada apa, orang ini? Mengapa tiba-tiba datang ke sini?" Yong Zhengzhou juga tidak bisa menahan tekanan dari seorang kultivator yang sangat kuat itu.
Banyak tamu undangan yang sampai tidak sadarkan diri karena tekanan aura yang sangat besar. Begitu juga yang dialami oleh Qiaofeng yang pingsan seketika. Ia tidak sanggup menahannya.
Bei Long Hai yang juga merupakan kultivator lebih lemah, sampai terkapar di tanah dan tidak bisa bergerak sama sekali. Lain halnya dengan Yan Sheng yang masih berdiri tegap di hadapan sang kultivator. Meski ia merasakan aura itu terus menekan dirinya. Namun ia merasa ada kekuatan dari dalam tubuhnya yang bergejolak.
"Tu-tu-an ... maafkan Yin Long, tidak bisa me-no-long ...." Yin Long pun tidak bisa mengubah diri menjadi naga karena tekanan kekuatan dari Kultivator Ranah Keabadian.
"Sebenarnya apa yang terjadi di sini? Mengapa ada seseorang yang lebih hebat di sini? Bahkan ini melebihi Ranah Kekosongan. Apa yang telah terjadi?" Yan Sheng melihat orang-orang itu berguguran tanpa bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka, ternyata orang itu adalah kau, seorang pemuda yang tidak berkualifikasi sama sekali. Dengan kultivasi rendahmu, bahkan bisa menggunakan Pedang Naga Giok. Kau, berikan pedang itu padaku."
Mendengar nama pedang yang telah tersebar luas, membuat para tetua yang masih sadar kaget. Mereka tahu Pedang Naga Giok berada di tangan seorang pendekar hebat yang mencapai Ranah Kekosongan. Namun Yan Sheng hanyalah seorang kultivator Advance Realm tahap dua. Tidak mungkin memiliki Pedang Naga Giok.
"Apa maksudmu? Pedang Naga Giok apanya? Kau lihatlah baik-baik. Apakah aku terlihat seperti seorang pendekar hebat?" tanya Yan Sheng tanpa ada rasa takut sama sekali.
"Kau berani berdebat denganku, cukup membuktikan bahwa kau memiliki pedang itu. Selain itu, kau tidak terkena efek dari aura yang kupancarkan. Bagaimana mungkin kultivator biasa bisa seperti itu? Setidaknya kau sudah mencapai Emptinnes Realm (Ranah Kekosongan) Tidak mungkin masih lemah seperti ini."
"Ranah Kekosongan? Hahaha, kau sangat yakin aku memiliki Pedang Naga Giok? Kalau begitu, ambilah pedang itu dariku." Sebenarnya Yan Sheng merasa gentar menghadapi kultivator yang sudah dianggap dewa itu.
Tidak ada kesempatan kabur jika sudah berada dalam situasi saat ini. Namun tidak ada gunanya melarikan diri. Karena sudah pasti mati di tangan kultivator abadi itu. Untuk itu, ia tidak bisa lari dan harus berusaha melawan.
Pendekar abadi itu menjulurkan tangan dan mengeluarkan cahaya berwarna kuning ke arah Yan Sheng. Ia berniat menarik paksa Pedang Naga Giok dari tubuhnya. Namun ia tidak bisa melakukannya. Ia menarik tubuh Yan Sheng.
"Lalu, apa yang akan kau perbuat padaku? Apakah kau akan membunuhku?" tanya Yan Sheng tanpa ada rasa takut sedikitpun. Jika ia mati, ia akan mati dengan penasaran karena belum membalaskan dendamnya. Namun ia yakin bisa lolos dari hadapan kultivator abadi itu.
"Kau begitu sombong. Baiklah, aku ikuti apa yang kau katakan. Sekarang juga, aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri." Kultivator Ranah Keabadian itu berniat menusuk Yan Sheng dengan jari yang terlapisi aura bercahaya kuning.
Yan Sheng segera mengeluarkan Pedang Safir Langit dari cincin ruangnya. Lalu menangis serangan kultivator itu. Jika mati tanpa ada perlawanan, begitu mustahil bagi Yan Sheng. Ia juga tidak bisa mati begitu saja di tangan orang asing yang menginginkan pedang miliknya.
__ADS_1
"Pedang Safir Langit? Sungguh harta yang cukup mahal bagi seorang kultivator dan pendekar. Namun itu tidak berguna jika lawannya adalah aku, hahahaha!"
"Jangan kau pikir sudah bisa mengalahkan orang-orang di bawah, kau bisa mengalahkanku juga. Sekarang giliranku menunjukan kekuatanku yang sebenarnya." Yan Sheng melesat cepat dan menyerang kultivator itu.
Serangan Yan Sheng tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kultivator yang sudah menjadi makhluk abadi. Bahkan serangan yang dilancarkan hanya ditepis dengan tangan kosong saja. Pengendalian energi fokus berkumpul di satu jari dan mampu menahan Pedang Safir Langit yang merupakan pusaka tingkat langit.
Yan Sheng mundur ke belakang dengan melompat. Ia sudah kehabisan banyak energi saat menggunakan Pedang Safir Langit itu. Apalagi menghadapi lawan yang hanya bermain-main saja. Tentu saja kekuatan yang dimiliki tidak sembarang orang bisa bersaing. Jika kultivator abadi itu serius, bahkan Yan Sheng sudah mati sejak awal.
Yan Sheng mendapat serangan demi serangan cahaya berwarna kuning. Menahan serangan dengan pedang, membuatnya terpental jauh.
"Hujan Panah Surgawi!" Kultivator itu menunjukan kekuatannya dengan sekali ucap. Dari depannya muncul sebuah lingkaran berwarna kuning dan muncul sinar kuning yang berubah menjadi anak panah.
Anak panah melesat terus menerus ke arah Yan Sheng. Melihat itu, Yan Sheng mengeluarkan lonceng besar untuk melindungi dirinya. Hujan panah membuat orang-orang di sekitarnya terkena dampak dan tertusuk panah itu. Yan Sheng harus segera melarikan diri dari pertarungan secepat mungkin.
"Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Aku tidak boleh berada di sini terus. Awalnya yakin bisa melawan dia. Namun akan sulit melakukan itu dengan kultivasi rendahku."
Yan Sheng sadar diri, kekuatannya bagaikan langit dan bumi. Ia sudah mengeluarkan seluruh kekuatannya. Namun makhluk abadi itu baru pemanasan dan belum mengeluarkan kekuatan terbesarnya.
"Jangan kira kau bisa berlindung di balik lonceng itu. Karena tidak ada apa-apanya di tanganku. Hancurkan!" Dengan sekali berkata, pendekar abadi menghancurkan lonceng milik Yan Sheng. Anak panah mampu menembus sampai hampir mengenal Yan Sheng.
__ADS_1
"Sialan. Kekuatan apa ini? Bahkan loncengku sampai hancur. Inikah yang dinamakan kesenjangan kultivasi? Sialan!" umpat Yan Sheng. Ia mengingat apa yang dialami tadi sore. Dengan ilmu yang ia pelajari, ia mengingat hanya ada tiga kesempatan untuk menggunakannya. Tapi baginya itu juga tidak berguna sekarang. Namun jika itu berguna untuk Jabir, ia akan melakukannya.
***