
Karena banyak pengintai yang telah masuk ke dalam lingkungannya, maka harus ada dalang di baliknya. Dengan mengetahui siapa yang terus memata-matai dirinya, baru dapat mengambil kesimpulan.
Untuk membuat mereka keluar, harus dengan cara memancing. Benar saja, saat Yan Sheng mengajak Yin Long meninggalkan tempat itu, ada beberapa pengintai yang mengikuti.
"Hey, Yin Long. Apa kau merasakan ada yang mengikuti kita? Kau tahu apa yang harus kita lakukan?" tanya Yan Sheng yang berbicara lewat mata batin.
"Apa yang harus kita lakukan? Apakah kita akan jadi terkenal dan mereka ingin menjadi pelayanmu juga?" Dengan polosnya, Yin Long mengatakan hal itu. Ia tidak tahu harus berbuat apa.
"Apa kau tidak bisa membaca situasi? Kita pancing mereka ke tempat yang sepi. Kita habisi mereka dan sisakan satu orang untuk diinterogasi."
"Ooh, kalau begitu, masalah mudah. Kita akan pancing mereka ke mana?" Setelah tahu apa yang harus dilakukan, Yin Long kembali bertanya. Berlari berpegangan tangan dengan pria yang disebut sebagai tuannya.
Setelah berada di tempat sepi, barulah mereka mulai melakukan apa yang telah direncanakan. Yin Long langsung mengeluarkan panah. Sementara Yan Sheng bergerak dengan kecepatan tinggi. Dengan gerakan cepat, mereka mudah menebas satu persatu.
Mereka yang menyadari adanya serangan tiba-tiba, langsung mundur. Apalagi ranah kultivasi mereka berada di bawah Yan Sheng. Dengan kecepatan itu, lima pengintai telah tumbang. Ada juga yang mati terkena Panah Pembeku Gunung milik Yin Long.
"Ti-ti-dak ... ampun, tuan. Ampuunn," ucap pengintai satu-satunya yang tersisa. Ia bahkan tidak menyadari adanya serangan. Apalagi hari yang gelap, mustahil bagi orang menyerang dengan akurat.
"Katakan! Siapa yang menyuruhmu untuk memata-matai kami!" Yan Sheng menuntut jawaban. Dengan mengikat menggunakan tali di leher.
Namun sebelum orang itu mengatakan sesuatu, sebuah anak panah melesat mengenai pengintai. Sehingga membuatnya mati seketika.
"Siapa?" Yan Sheng mengedarkan pandangan ke segala arah. Mencari keberadaan orang yang memanah. Namun ia tidak merasakan ada seorangpun kultivator yang berada di dekat mereka.
Kecewa karena satu-satunya pengintai yang tersisa mati begitu saja, Yan Sheng menghancurkan mayat di hadapannya. Api keluar dari telapak tangannya. Dengan api tersebut, memusnahkan mayat adalah hal yang mudah.
__ADS_1
Tak ada harta berharga dari mayat mereka selain senjata yang dibawa. Berdasarkan hal itu, dapat disimpulkan mereka adalah orang-orang yang siap mati ketika bertugas.
Setelah membakar mereka, Yan Sheng mengajak Yin Long meninggalkan hutan. Mereka harus tetap waspada dengan serangan musuh. Sekalipun tak ada yang menyerang secara terbuka, keselamatan keduanya dalam situasi sulit.
"Mulai sekarang, kita harus lebih berhati-hati. Kita mungkin akan mendapatkan masalah lagi ke depannya."
"Iya, Tuan. Kalau ada mereka lagi, kita hajar sampai mereka mati." Yin Long mengepalkan tangannya. Sementara tangan satunya mengangkat busur panahnya.
"Kita harus mengalahkan mereka. Namun harus lebih hati-hati lagi. Kita tidak bisa sembarangan membunuh di kota. Jika menghadapi situasi seperti ini, segera menjauh dari kota dan–"
Tanpa diteruskan perkataan Yan Sheng, Yin Long tahu apa yang harus dilakukan. Gadis itu pun mengangguk dan menyimpan kembali Panah Pembeku Gunung.
"Kita harus mengganti penampilan. Kau pakailah ini agar tidak menarik perhatian." Yan Sheng mengeluarkan pakaian pelayan dan menyerahkannya pada Yin Long.
"Terima kasih, Tuan. Aku ganti pakaian sekarang, yah." Yin Long melihat ke kanan dan ke kiri lalu membuka pakaiannya.
"Iya-iya. Padahal Yin Long tahu, Tuan juga senang liatnya, kan? Huhh, punya tuan tapi nggak peka banget." Dengan wajah cemberut, gadis itu pun berjalan ke arah pohon besar. Ia mengganti pakaian di sana.
Yan Sheng juga mengganti pakaiannya dengan cepat. Ia hanya mengayunkan tangannya, otomatis sudah berganti pakaian. Ia juga mengeluarkan sebuah kipas agar lebih terlihat sebagai cendekiawan daripada seorang kultivator. Ia juga menekan kultivasinya kembali hingga Advanced Realm.
Tidak sulit bagi mereka untuk memasuki kota kembali. Mereka menyusuri jalan yang sama untuk kembali. Sekembalinya mereka ke kota, segera mereka mencari tempat penginapan.
Ketika berjalan kaki, mereka tidak lagi menjadi daya tarik lagi. Bahkan orang-orang seperti tidak mengenal mereka sebelumnya. Maka dengan penyamaran tersebut, membuat mereka aman.
"Sayang sekali, kita tidak tahu bagaimana kabar pria dan gadis cantik itu. Seandainya kita mendapatkan gadis itu, kemungkinan kita sudah menjadi orang kaya," keluh seorang kultivator yang tengah makan di depan kedai.
__ADS_1
"Huh, seandainya kita berhasil. Wah, mungkin aku juga bisa menikah lagi untukmu ke tiga kalinya."
"Yang ada di otak kalian memang busuk. Lagian mereka pasti bakal mati di hutan sama. Kalian dengar, aku melihat mereka menuju ke hutan dan diikuti beberapa praktisi yang hebat. Kita tidak mungkin menang melawan para suruhan langsung."
Percakapan mereka terdengar dari jarak yang jauh. Yan Sheng mengerti akhirnya, kalau dirinya memang diincar. Bahkan mereka terlibat dengan warga dan para praktisi asing. Namun itu tidak dapat menjadi bukti konkrit. Juga tidak menunjukan siapa dalang dibaliknya.
Dalam perjalannya, Yan Sheng sebisa mungkin membunuh setiap lawannya. Ia tidak membiarkan mereka mencari bantuan. Sehingga jarang yang mengetahu identitasnya sebagai Pendekar Pedang Naga Giok.
Penyamaran mereka bukan tidak mungkin ada yang mengetahuinya. Namun dengan penyamaran tersebut, membuat mereka lebih sedikit musuh. Keduanya memasuki sebuah penginapan yang sederhana dan sepi. Tepat berada di ujung kota yang terluar dari pemukiman.
"Tuan, ini adalah kamar anda. Kalau memerlukan sesuatu, bisa memanggil saya. Karena ini adalah penginapan yang sepi, jadi mohon maaf atas pelayanan yang buruk."
"Saya membawa pelayan sendiri. Jadi tidak terlalu banyak meminta bantuan. Cukup siapkan kebutuhanku sesuai yang dikatakan pelayanku. Kau boleh pergi sekarang. Dan kami menyewa untuk satu minggu ke depan." Yan Sheng memberikan uang sewa kepada pemilik penginapan. Tentu setelah melihat-lihat keadaan.
"Kalau begitu, saya pamit dahulu. Semoga anda betah tinggal di sini." Setelah menerima uangnya, pemilik penginapan kecil meninggalkan mereka.
"Kita hanya bisa tinggal di sini hingga tiga hari ke depan. Ini adalah penginapan paling luar dan paling murah. Jadi ku harap kau menahan diri."
"Huhh, kalau begitu. Apakah aku boleh tidur duluan? Aku mau makan yang enak-enak dan mandi dengan air hangat." Yin Long langsung merebahkan diri ke tempat tidur.
"Apa yang kau lakukan? Kau adalah seorang pelayan. Mengapa bersikap seperti itu? Sebaiknya kau temui pemilik penginapan untuk membawakan aku makan."
Yin Long mengangguk kecewa dengan perintah tuannya. Ia juga tahu kalau pakaian yang dikenakan memang cocok sebagai pelayan kelas rendah. Bahkan tidak tahu entah dari mana pria itu mendapatkannya.
"Apa lagi yang kamu tunggu? Tuanmu sudah lapar. Dan jangan lupa untuk melayaniku layaknya seorang tuanmu. Kau menyebutku tuan, tapi tidak mau mendengar perintahku. Sebaiknya mulai sekarang, aku harus mendisiplinkan pelayanku."
__ADS_1
***