
Hampir seluruh rumah sudah Danny datangi dengan berbekal nama An, namun semua warga justru menyebutkan nama yang berawalan sama pada Danny.
“Setahu saya yang namanya An ada sih, itu rumahnya di ujung sana. Aan nama panggilan biasanya.” Danny semangat mendatangi rumah yang di tunjuk oleh warga.
Beberapa kali mengetuk pintu, akhirnya seorang pria paruh baya pun keluar. Satu tongkat ia pegang untuk menumpu tubuhnya yang bungkuk.
“Cari siapa yah?” tanya pria itu dengan serak. Kaca mata yang ia gunakan mampu memperlihatkan jelas wajah tampan Danny.
“Pak saya mau cari Aan. Ini benar rumahnya, Pak? Nama saya Danny.” tutur pemuda itu dengan senyum di wajahnya.
Pelan pria tua itu mendekat. Mencoba memperhatikan sosok Danny. Ia mengernyitkan kening dalam.
“Danny? Siapa? Saya tidak merasa kenal dengan kamu.” ujar pria tua itu.
Pelan Danny menghela napas. “Bapak memang tidak kenal saya. Saya kesini mau ketemu Aan. Saya mau kenalan, Pak.” Lagi Danny membuat raut wajah pria tua itu semakin bingung.
__ADS_1
“Mau kenalan sama saya?” Ia menunjuk dirinya sendiri.
Cepat Danny menggelengkan kepala serta kedua tangan yang melambai menolak ucapan pria tua itu. “Tidak, Pak. Saya mau kenalan dengan Aan. Bisa tolong di panggilkan Aan, Pak?”
Melihat kegigihan pria muda di depannya, tentu saja sedikit menyebalkan bagi pria tua sepertinya yang susah berdiri lama. Bahkan kini kakinya pun sudah gemetar rasanya.
“Itu artinya kamu mau kenalan dengan saya? Saya Pak Aan.” Sontak mendengar ucapan tersebut, Danny sampai membulatkan mata dan membuka mulutnya lebar lantaran sangat syok.
Tanpa kata pamit ia pun berlari cepat menaiki mobil. Sungguh rasanya Danny malu sekali. Membayangkan nama gadis itu Aan ia tidak mengira jika pria tua tadilah yang bernama Aan.
Baru saja hendak melanjutkan perjalanan mencari makan, Danny mendengar ponselnya berdering.
“Iya, Mah?” Ternyata Zaniah lah yang menghubungi Danny.
“Danny, kamu belum pulang? Semalam Danita kemari. Mamah juga bingung tegasin ke dia gimana. Kamu cepat pulang yah? Kasih pengertian ke Danita. Biar dia nggak salah pengertian ke kamu nantinya.” ujar Zaniah.
__ADS_1
Kening Danny mengernyit. “Salah pengertian gimana, Mah?” tanyanya.
“Yah dia selama ini begitu perhatian sama kamu. Nggak ada pertemanan atau atasan dan bawahan sampai seperhatian itu, Danny. Kamu sudah jatuh cinta sama wanita lain. Sepantasnya kamu memberi ketegasan pada Danita. Jangan buat dia larut dalam penantian.”
Usai berbicara cukup lama, kini Zaniah pun terkekeh saat mengakhiri panggilan dengan sang anak. Mendengar bagaimana Danny berjuang mencari sang permaisyuri, sungguh menggelitik perut wanita itu.
“Mamah berharap pernikahanmu kelak akan menjadi pernikahan yang kamu impikan sepanjang hidupmu, Danny. Dan kalian akan bahagia selamanya. Tidak seperti Mamah…” sedih ketika Zaniah membayangkan bagaimana jalan pernikahannya yang penuh dengan luka.
Bahkan luka yang tertutup saat ini masih bisa terbuka kapan pun juga. Hanya kulit luar saja yang tertutup.
***
Selesai membersihkan sekeliling villa, kini Anna bersantai dengan sang ibu. Keduanya duduk di dapur menikmati sirup segar. Hingga bunyi telepon di villa terdengar nyaring.
“Sebentar yah, Bu?” Anna bergegas mengangkat. Sesuai dengan perintah Tegar jika ia akan sering menghubungi Anna ketika tiba di kota.
__ADS_1