
Belum saja ada yang berbicara, tiba-tiba saja tangan Danita bergerak cepat melempar sebuah ponsel yang Danny pegang. Ia menghempas dengan sangat kasar. Tentu saja semua yang ada di sana sama-sama terkejut atas aksi yang Danita lakukan.
"Apa yang kau lakukan, Danita?" tanya Danny meninggikan suara melihat Danita yang sudah menampakkan mata memerah.
Lama Danita diam, hanya air mata yang Danny lihat saat ini berjatuhan di pipinya. Pria itu sama sekali tak mengerti atas apa yang Danita perbuat padanya.
"Hentikan semua ini, Danny. Aku lelah. Aku sudah berusaha sekuat mungkin untuk menjagamu, aku selalu ada di sisimu. Tapi apa yang kamu lakukan?" tanya Danita dengan meneteskan terus menerus air matanya.
Zaniah dan Firhan sama-sama saling menatap. Sedangkan Danny terkekeh melihat tingkah Danita.
"Apa-apaan kamu ini? Kamu bicara apa sih?" Danny sama sekali tak menganggap serius apa yang Danita ucapkan.
__ADS_1
Hingga akhirnya Danita pun bergerak maju dan memeluk erat tubuh Danny. Ia menangis di dalam pelukan itu. Semakin membuat semuanya melongo tak percaya. Firhan pun baru mendapati ada wanita seperti ini. Nekat tanpa kenal malu di depan kedua orangtua pria.
"Danita, tolong hentikan!" Segera sekuat mungkin Danny mencengkram lengan Danita dan melepaskan dari tubuhnya.
"Jauhi wanita itu, Danny. Aku adalah wanita yang tulus mencintaimu. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin. Katakan padaku apa yang kurang dariku?" desaknya seraya memukul dada bidang Danny.
Baru saja Danita hendak mendekat dan memeluk kembali tubuh Danny, saat itu juga Danny menjauh dengan menjulurkan kedua tangan di depannya menahan agar Danita tidak menyentuhnya lagi. Zaniah yang sebagai sesama wanita pun tahu rasanya menjadi Danita. Sakit mencintai pria yang tidak mencintai balik. Pada akhirnya Zaniah memegang kedua pundak Danita.
"Danita, tenangkan diri kamu. Kita bicarakan baik-baik. Ayo." ajaknya.
"Apa yang membuat kamu seperti itu?" tanya Zaniah memulai.
__ADS_1
"Aku melihat Danny memandangi foto wanita lain di ponselnya, Tan." adu Danita yang merasa Zaniah tengah berpihak kepadanya. Meski pada dasarnya Zaniah hanya ingin menengahi mereka saja.
Danny pun ingat jika di dalam kamar ia tengah tersenyum-senyum memandang foto Anna di desa yang ia ambil secara diam-diam. Kini Danny tahu jawabannya, jika Danita tengah cemburu. Menghindar beberapa lama ternyata bukanlah jalan keluar untuk Danny. Justru ia membuat Danita sibuk kesana kemari mencarinya.
"Aku mencintai dia, Danita. Aku hanya menganggapmu selama ini sebagai sahabat. Tidak lebih." tegas Danny semakin membuat hati Danita terasa sakit.
Wanita itu menggelengkan kepala tak percaya dengan apa yang ia dengar. "Tidak. Danny, kamu pasti bohong. Persahabatan macam apa kita ini? Kita pria dan wanita, tidak ada namanya persahabatan dengan lawan jenis. Aku mencintaimu, Danny. Selama ini aku rela bekerja dua puluh empat jam bahkan lebih jika ada, itu semua untuk mu. Apa masih kurang pembuktianku?" tanya Danita tak terima dengan pengakuan Danny.
"Aku sama sekali tidak menyangka, Danita. Tolong mengertilah dengan perasaan, cinta tidak akan bisa di paksakan. Aku mencintai wanita lain, Danita. Kau pantas mencari kebahagiaanmu sendiri. Ku mohon jangan seperti ini." ujar Danny.
Sayang hal itu justru membuat Zaniah merasa sesak melihat masalah anak dan temannya.
__ADS_1
"Danny, seharusnya kamu bisa menegaskan ini semua dari awal. Bagaimana pun Danita sudah menunjukkan semua perhatiannya ke kamu dari dulu. Kenapa kamu begitu mudah memintanya mencari kebahagiaan sendiri?" Kini Zaniah yang ikut bersuara.
Ia turut terbawa emosi saat mendengar ucapan sang anak. Firhan tahu Zaniah tengah melampiaskan emosinya yang bertahun-tahun telah hilang kini kembali lagi.