
Akhir yang sangat bahagia. Anna sudah sah menikah dengan Danny di desa dan membawa sang ibu ke kota. Ancamannya yang tidak ingin menikah ternyata begitu ampuh membuat Lillia pasrah dan mengikuti sang anak. Danny sebagai suami tentu saja tidak keberatan, sebab ia sudah menyiapkan rumah yang besar untuk sang istri. Dan itu akan menyenangkan jika ada sang mertua tinggal bersama mereka.
Hari acara pernikahan kini kembali di langsungkan di kota setelah mereka memenuhi permintaan Lillia dan Anna yang mengadakan di desa. Firhan dan Zaniah tampak begitu romantis. Keduanya selalu bergandengan tangan tanpa menghiraukan keberadaan Lillia. Mereka memang sudah saling memaafkan, namun persahabatan yang seperti dulu tak lagi ada bahkan untuk selamanya tak akan bisa terulang.
"Bu, ayo." ajak Anna yang menggandeng sang ibu ke dalam kamar khusus untuk sang ibu.
"An, kenapa? Tamunya belum pada pulang." ujar Lillia heran.
"Ibu istirahat saja. Mereka kan tinggal tamu dari teman-temannya Danny saja, itu pun dari sekolah bukan dari peruhaan. Jadi tidak begitu penting. Ibu pasti lelah kan? Istirahatlah." ujar Anna dengan meninggalkan ibunya di kamar seorang diri.
__ADS_1
Bohong jika Anna tidak sedih melihat sang ibu yang hanya sendiri di kamar itu. Sejak ia kecil bahkan sang ibu selalu sendiri. Tentu Anna ingin melihat ibunya bahagia juga seperti dirinya. Dan satu-satunya alasannya membawa sang ibu masuk ke dalam kamar demi ketenangan. Anna yakin sekali sang ibu pasti tak nyaman melihat mertuanya selalu bersama kemana pun.
Hari itu acara pun selesai dengan baik dan mereka semua beristirahat. Keesokan harinya Anna dan Danny kembali ke rumah bersama sang ibu. Lillia benar-benar patuh pada anaknya untuk tidak keluar kamar selama berada di hotel.
Sebelum kembali ke rumah mereka menyempatkan diri sarapan. Di sana Zaniah mencuri pandang pada Lillia yang hanya makan tanpa suara apa pun. Tidak seperti dirinya dan sang suami yang terus bercanda.
Teringat bagaimana dulu mereka di masa gadis saling melengkapi kesedihan masing-masing. Kerinduan satu sama lain tentu sering menghantui pikiran mereka. Namun, Zaniah selalu menolak pikiran itu. Sebab ia merasa tak ada pengampunan untuk pengkhianat.
Sampai detik ini pun dirinya masih belum bisa kembali percaya pada sang suami. Itulah yang menjadi masalah besar bagi Zaniah. Kepercayaannya pada Firhan tak lagi ada.
__ADS_1
Satu minggu berlalu dari hari pernikahan Anna dan Danny. Danita akhirnya berpamitan pada Danny untuk pergi dari negara itu. Ia putus asa melihat pernikahan pria yang sangat di cintainya. Di sini, di ruang kerja Danny tampak seorang wanita berdiri dengan menyerahkan surat pengunduran diri. Terkejut, tentu saja Dannya terkejut. Sebab ia berpikir jika Danita tidak akan menyangkut pautkan pekerjaan dengan masalah pribadi. Dimana ia harus mencari orang yang ia percaya.
"Apa segini saja sikap profesionalmu dalam bekerja, Danita?" tanya Danny yang ingin memancing Danita. Berharap wanita itu enggan menyerah dan justru menantang balik Danny.
Namun, semua tidak seperti yang ia kira. Wanita itu hanya menunduk dan melangkah keluar. Tanpa berkata apa pun pada Danny. Sungguh berbeda dari biasanya jika wanita itu selalu terlihat arogan.
"Danita, aku akan beri kamu kesempatan untuk memikirkan ini." teriak Danny saat Danita ingin membuka pintu.
"Aku menyerah, Dann. Biarkan aku tenang. Terimakasih untuk selama ini." Hanya itu kata yang bisa Danita katakan dan ia pun pergi begitu saja.
__ADS_1