
Tiba di vila akhirnya Tegar memasuki kamarnya. Di letakkan tas lalu segera ia menuju kamar tempat dimana Anna berada.
Menelusuri vila yang tampak sunyi tentu saja Tegar merasa heran. Kemana semua penduduk vila itu. Setahunya jika sang oma berada di vila tentu saja keadaan tak akan sesepi ini.
“Bibi! Bibi, dimana Anna? Oma dimana? Kenapa semua tidak ada?” Tegar panik melihat suasana vila yang sunyi.
“Itu Tuan, Anna dan Nyonya ke puskesmas lagi. Ibunya Anna sakit tadi muntah-muntah.” Tegar panik mendengar jawaban sang pelayan. Bahkan Oma Indah sama sekali tidak memberi tahu dirinya.
Dan bisa Tegar dengar jelas kata pelayan tadi ‘ke puskesmas lagi’ artinya tidak hanya sekali Anna ke puskesmas.
“Ayo antar saya ke sana, Bi.” Tegar berlari bersama pelayan di belakangnya.
Mobil pun melaju dengan cepat. Tegar sangat cemas saat ini takut meski pun yang sakit bukanlah Anna.
***
Firhan yang baru saja sadar tiba-tiba kembali drop saat mendengar pengakuan Zaniah.
__ADS_1
“Pergi! Pergi dari sini, Niah!” Firhan berteriak. Wajahnya tampak memerah menatap tajam sang istri.
Zaniah terperanjat kaget mendengar ucapan sang suami. Air mata pun jatuh kembali.
“Mas, aku tidak tahu apa-apa, Mas. Zeni pergi tanpa aku tahu. Aku panik saat Mas Firhan di rumah sakit.” Zaniah berusaha menjelaskan pada sang suami.
Sayang kemarahan Firhan begitu menjadi kala mendengar Lillia sudah lama tak bersama mereka.
“Pergi dari sini, Niah!” Pelan namun penuh ketegasan ia meminta sang istri pergi. Terisak Zaniah pun pergi keluar.
Usai menutup pintu barulah Zaniah terduduk menangis menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Mamah, ada apa? Mamah ayo bangun.” Ia menarik tubuh Zaniah dan menyandarkan kepala sang mamah pada dadanya.
Pelan Danny mengusap air mata Zaniah. Sementara Wuri tampak terdiam duduk di kursi. Ia tidak bisa berkata apa pun lagi. Ini semua adalah kesalahannya. Ketakutan jelas terlihat di wajah wanita tua itu.
“Niah, tenanglah. Biarkan Firhan tenang dulu.” Papa Dika bersuara setelah memutuskan untuk masuk ke ruang rawat Firhan.
__ADS_1
Namun, ia di buat sang terkejut kala melihat Firhan berteriak memegang kepalanya. Panik, Dika berteriak memanggil dokter.
Semua berdiri tegang kala sang dokter lari masuk ke ruang Firhan. Zaniah semakin cemas di pelukan sang anak.
“Mamah tenang yah? Papah baik-baik saja.” Zaniah tak berkata apa pun lagi.
Di ruangan Firhan tengah mendapat perawatan dari sang dokter. Semua keluarga menanti dengan wajah cemas. Berharap dokter segera keluar memberi kabar yang baik.
***
Sementara di puskesmas Tegar pun melihat Anna yang menyuapi sang ibu. Ada Oma Indah juga yang duduk di dalam ruangan itu.
“Anna, Oma,” sapanya pelan memasuki ruangan. Tegar bisa melihat Lillia Zeni yang terbaring lemas di brankar.
“Apa ada perkembangannya, Oma? Sakit apa ibunya Anna?” tanya Tegar lagi.
Oma Indah membawa sang cucu keluar untuk menjelaskan. Sementara Anna tetap berada di dalam menunggu sang ibu.
__ADS_1
“Oma kenapa tidak memberi tahu aku? Sakit apa ibunya Anna, Oma? Kenapa Oma tidak bawa langsung ke rumah sakit? Atau kita kan punya dokter.” Panjang lebar Tegar bertanya sampai Oma Inda pun tak di beri waktu menjawab.