Pejuang Restu

Pejuang Restu
Keseruan Di Sungai


__ADS_3

“Pernikahan kami bukanlah pernikahan berdasarkan cinta, Oma. Aku mendapatkan perlakuan buruk dari kekasih ibu tiriku. Hingga aku mengandung.” Mulut Oma Indah terbuka lebar saat mendengar cerita awalan dari Lillia.


Ia bisa melihat air mata yang terus berjatuhan di kedua pipi wanita itu. Pelan di genggamnya erat tangan Lillia.


“Aku mengandung awalnya tidak tahu siapa laki-laki yang telah merusah harga diriku hingga membuatku hamil. Dan akhirnya, Zaniah sahabat terbaikku menawarkan aku suatu tawaran gila. Menikah untuk mendapatkan status ayah atas janinku. Dan dia mendapatkan anak atas janin yang aku kandung. Tekanan dari mertuanya membuat Zaniah hilang kewarasan. Kami terjebak dalam kebohongan hingga pada akhirnya pernikahan itu berujung mala petaka. Dimana aku dan Mas Firhan justru jatuh cinta diam-diam. Kami saling mencintai hingga semua rencana hancur berantakan. Dan aku di usir oleh mertuaku setelah tahu pernikahan kami hanyalah sandiwara. Dan janin itu bukanlah anak dari Mas Firhan.”


Oma Indah miris mendengar kisah pilu yang Lillia alami. Bahkan ia sampai turut meneteskan air mata. Sangat pilu nasib wanita di depannya ini sampai hamil tanpa tahu siapa pelakunya.


“Apa kamu akan membiarkan Anna tahu statusnya?” tanya Oma Indah.


Hening Lillia mengusap air matanya. Ia berpikir sangat dalam saat ini. Sebelumnya Lillia selalu saja menutupi semua masa lalu dari sang anak.

__ADS_1


Namun, saat ini ia tidak sanggup lagi menutupi semuanya. Lillia harus memberi tahu semuanya pada Anna. Bagaimana pun Anna harus tahu apa alasan Lillia selama ini melarang sang anak untuk pindah ke kota.


“Tenangkan diri kamu, Zen. Anna sudah dewasa dia pasti akan sangat mudah memahami semua masalah ini. Sudah waktunya anakmu menginjak masa dewasa dengan segala masalah hidup.”


Cukup lama keduanya duduk di kamar saling berbicara. Lillia pun meminta dukungan dari Oma Indah. Sungguh wanita tua itu sangat baik. Lillia sangat senang dengan perlakuan Oma Indah padanya. Kedekatan yang terjadi sudah seperti anak dan ibu.


Tanpa sadar sore pun menjelang. Dimana Anna dan Tegar justru sibuk membantu pekerja di kebun membersihkan hama. Keduanya begitu asik tanpa Anna perduli lagi dengan wajahnya yang merah sebab tak memakai topi lebar.


Sayang sikap acuh Anna membuat Tegar kesulitan. Gadis itu seakan tengah menikmati pekerjaannya yang sudah lama tidak ia lakukan. Anna berjalan kesana kemari tanpa lelah. Justru Tegar lah yang kesulitan mengatur napasnya saat mengejar Anna.


“Pak Tegar, sudah selesai. Ayo pulang. Atau bapak mau mampir ke sungai lagi?” tanya Anna dengan wajah antusiasnya.

__ADS_1


Melihat Anna tersenyum ceria, rasanya Tegar tak mampu untuk menolak. Ia pun setuju. Dan keduanya menuju jalan sungai di kebun itu.


Kali ini bukan membersihkan sesuatu, melainkan mandi dengan baju yang lengkap.


“Selamat sore, Pak.” Sapaan beberapa pekerja yang lewat di sisi sungai itu tersenyum melihat tingkah Anna yang menyirami Tegar di atas jembatan.


Mengajak ke sungai bukan berarti ikut mandi bersama Anna. Ia hanya duduk menyaksikan Anna berenang kesana kemari hingga beberapa kali Anna memanggil Tegar namun tak juga pria itu turun.


“Pak, ayo turun. Airnya seger loh. Nggak kalah kok sama kualitas air aqua.” ujar Anna menyiram air pada Tegar dengan tangannya.


“Anna. Sudah berhenti. Saya basah.”

__ADS_1


__ADS_2