
“Dia drop bukan karena sakit, Tegar. Oma yakin ibunya Anna sedang banyak pikiran. Satu minggu ini Oma bisa lihat dia sering menangis seorang diri. Bahkan semangat hidupnya pun tidak Oma lihat lagi.” Tegar yang panik tiba-tiba terdiam mendengar penjelasan sang oma.
Ia paham sebab pernah mendengar orang yang memang sedang stress tentu akan jatuh sakit tanpa ada gejala yang terlihat kecuali asam lambung.
Seperti yang terjadi pada Lillia Zeni saat ini. Terlalu larut memikirkan sang suami hingga tak bisa makan dengan baik. Dan sekarang ia hanya berbaring lemah dan sering merasakan mual.
Pihak rumah sakit hanya bisa menangani sementara. Selebihnya ia hanya memberi rawat jalan saja.
“Bu, ibu kenapa? Anna mohon jangan seperti ini, Bu. Anna tidak mau ibu sakit dan meninggalkan Anna. Anna sama siapa kalau ibu pergi?” Anna meneteskan air matanya melihat sang ibu yang bahkan tak menatapnya saat ini.
Wajah pucat, mata berkantung serta bibir yang kering pecah-pecah. Rasanya Anna seperti kehilangan separuh jiwanya melihat sang ibu terbaring lemah seperti ini.
Mendengar keluhan sang anak, Lillia baru sadar dari kesedihannya. Ia pelan menolehkan kepala dan menjatuhkan air mata.
“Ibu lapar, Ann.” tuturnya lirih.
Semangat Anna bangkit dari duduknya bergegas mengambilkan makan yang di letakkan di atas nakas. Telaten satu demi satu suapan ia berikan untuk sang ibu.
Lillia tidak tahu jika saat ini Firhan tengah di tangani sang dokter. Hingga akhirnya pria itu kembali terlelap saat mendapatkan obat penenang dari dokter.
“Dokter, bagaimana suami saya?” tanya Zaniah cemas.
Dokter pun menjelaskan jika Firhan sudah kembali tenang. Ia tak membolehkan pasien memikirkan sesuatu dengan berlebihan. Sebab tekanan darahnya saat ini sangat tidak stabil. Dan peningkatan yang drastis bisa berakibat buruk hingga mengalami stroke.
Semua panik dan cemas. Takut jika hal itu terjadi. Bagaimana pun Zaniah tidak ingin hal itu terjadi.
“Niah, kamu jaga Firhan. Biarkan Mamah yang mencari Lia. Kalian jaga Firhan di sini yah?” Wuri tampak meminta Danny dan Zaniah tetap di rumah sakit.
__ADS_1
Kini mungkin sudah saatnya Wuri harus mempertanggung jawabkan perbuatannya di masa lalu.
“Mamah,” Zaniah lirih berucap dan menggeleng pelan. Seolah ia memberi isyarat jika semua itu tidak boleh di lakukan. Bagaimana pun Zaniah tidak ingin statusnya kembali seperti dulu.
Tergeser oleh istri kedua suaminya. Tidak, sampai kapan pun Zaniah tidak ingin hal itu terjadi. Firhan adalah suaminya dan mereka tengah bahagia selama ini. Bagaimana mungkin Zaniah merelakan kebahagiaan itu kembali hancur dengan menghadirkan sosok sahabat lamanya yang menjadi duri di pernikahan mereka.
“Niah, ini sudah saatnya. Firhan yang akan memutuskan semuanya. Mamah pergi dengan Papah dulu.” Wuri pun meninggalkan Zaniah di sana.
Air mata jatuh seketika. Sumpah demi apa pun Zaniah sangat tidak ingin ini semua terjadi.
“Jaga mamah kamu, Danny.” pintah Papah Dika memegang pundak Danny dan menepuknya pelan.
Sepasang suami istri itu pergi meninggalkan Zaniah bersama sang anak. Secepatnya Lillia harus mereka temukan. Semua ini menyangkut keselamatan Firhan.
Dari hari itu hingga dua hari berikutnya, akhirnya Lillia pun sudah kembali ke vila. Melihat kondisi sang ibu sudah membaik, Anna sangat senang.
“An, siang ini ikut saya ke gudang yah? Kamu tahu soal laporan di gudang juga kan?” tanya Tegar. Dan Anna pun mengangguk kecil.
“Bagus. Selama saya di sini kamu akan membantu saya di perkebunan. Dan jika saya di kota kamu akan kembali bekerja di vila.” ujar Tegar.
Satu hari itu keduanya berjalan bekerja bersama. Sesekali Anna membantu Tegar mencatat apa saja yang harus perusahaan sediakan di kebun itu.
Anna yang sudah lumayan lama bekerja di perkebunan pun beberapa kali memberikan masukan pada Tegar dan masukan itu sangat masuk akal.
“Saran yang bagus, An. Saya akan siapkan yang kamu katakan tadi. Yasudah kita lanjut ke gudang pupuk yah?” Keduanya kembali menyusuri kebun untuk tiba di gudang berikutnya.
Sementara Lillia Zeni tampak duduk bersama Oma Indah usai memberikan teh susu kesukaan Oma.
__ADS_1
“Dimana ayahnya Anna?” tanya Oma setelah cukup lama keduanya duduk dan saling bercerita tentang desa.
“Sudah tidak ada, Nyonya.” ujar Lillia menunduk. Bukan takut melainkan ia sangat tak nyaman membahas masa lalu yang sangat kelam.
Terlebih ia merasa malu jika sampai orang tahu Anna adalah anak hasil hubungan paksaan. Sungguh Lillia tak ingin membuat Anna malu.
“Apa kalian di desa ini hanya berdua?” tanya Oma lagi.
“Dulunya kami bertiga dengan nenek. Tetapi beliau sudah meninggal, Nyonya.” lagi Lillia menjawab.
Oma Indah pun menganggukkan kepalanya.
Berbeda dengan keadaan di rumah sakit. Setelah kepergian Wuri dan suaminya. Di sini Zaniah meneteskan air mata saat Danny bertanya padanya.
“Mah, siapa Lia? Siapa wanita yang Papah cari itu, Mah?” tanya Danny dengan penasarannya.
Air mata Zaniah tak mampu lagi ia bendung saat ini. Bertahum-tahun berusaha menutupi semuanya, nyatanya ia tak mampu membuang hingga lenyap. Zaniah hanya mampu menimbun dan sewaktu-waktu bisa di gali lagi.
Seperti saat ini, semua telah tergali oleh ingatan Firhan yang pulih.
“Dia…dia adalah sahabat Mamah, Danny. Dia juga istri papah kamu.” Tangis pun akhirnya pecah saat itu juga. Danny sampai membuka lebar mulutnya lantaran sangat syok mendengar ucapan sang mamah.
Bagai tersambar petir mendengar pengakuan sang mamah kala itu. Pria yang selama ini ia kenal dengan sangat baik ternyata memiliki wanita lain selain sang mamah. Pelan Danny menggelengkan kepala tak percaya.
“Istri Papah juga? Maksud mamah? Tidak. Ini tidak mungkin, Mamah? Papah tidak mungkin menikahi dua wanita.” elaknya tak percaya.
Namun Zaniah yang semakin terisak pilu rasanya sudah cukup menjawab kebenaran itu. Dua manik mata Danny kerkaca-kaca menyaksikan sang mamah yang menangis pilu saat ini. Ia hanya mampu memeluk erat tubuh Zaniah.
__ADS_1