Pejuang Restu

Pejuang Restu
Kesakitan Yang Tiada Akhir


__ADS_3

Malam hari di vila semua berkumpul makan di halaman vila. Di sana Tegar dan Anna tampak sibuk membakar sate. Sementara Oma Indah dan Lillia duduk menunggu. Beberapa menit kemudian.


“Yee…ayo Oma, Ibu, kita makan.” seru Anna duduk di samping Lillia.


Senyum gadis itu makin terpancar kian hari. Lillia sadar sang anak selama ini sudah banyak bekerja untuk keduanya. Hingga ia tak mengenal yang namanya masa remaja. Semua Anna lewati dengan pekerjaan orang dewasa.


Sedih rasanya mengingat Anna yang begitu dewasa menyikapi semua roda kehidupan mereka.


“An, apa kamu masih mau pergi ke kota mencari kerja dan sekolah?” Semua terdiam mendengar pertanyaan Lillia saat itu. Termasuk Anna yang terdiam menatap sang ibu.


Matanya membulat terasa seperti mimpi mendengar ucapan Lillia. “Ibu, kenapa bertanya soal itu? Kemarin itu Anna hanya sedang bosan aja sama kerjaan. Tapi sekarang di vila ini semua menyenangkan. Jadi, sudah nggak ada lagi pikiran seperti itu kok.”


Bukan bermaksud menghapus impiannya. Namun, Anna tahu setelah mendengar semua masalah yang terjadi meski tidak tahu jalan cerita. Ia berjanji akan menjaga sang ibu selamanya sampai akhir usianya.


Yang Anna butuhkan saat ini hanya ibunya tetap berada di sisinya dan hidup tenang damai. Itu sudah lebih dari cukup bagi Anna.


“An, Ibu serius. Jika kamu masih ingin sekolah di kota dan bekerja. Ibu tidak apa-apa. Barangkali Pak Tegar bisa membantumu di sana mencari tempat kerja.” ujar Lillia.


Tegar tampak tersenyum pada Lillia. “Semua bisa saya lakukan, Bu. Ibu tenang saja. Tinggal dari Anna lagi bagaimana.” tutur Tegar menatap Anna yang tampak bimbang.


Pelan Anna menggelengkan kepala. “Saya tetap ingin di sini, Pak. Saya nyaman tinggal dan kerja di sini.” Mendengar pernyataan sang anak, Lillia sampai mendekati Anna dan menggenggam tangannya.

__ADS_1


“Kamu memikirkan ibu, An? Ibu baik-baik saja.” ujarnya.


Kedua wanita itu jelas terlihat begitu saling menyayangi. Anna yang ingin menjaga sang ibu, dan Lillia yang begitu ingin membahagiakan anaknya.


Oma Indah tersentuh melihat kedekatan mereka.


“Di kota kamu juga bisa bekerja dengan nyaman, An. Ada mamah dan papahnya Tegar. Kamu bisa kerja di sana sekalian.” ujar Oma Indah kemudian.


Namun, keputusan Anna sudah bulat. Ia tidak akan mau meninggalkan sang ibu di desa. Meski pun Lillia sudah bekerja di villa. Entah mengapa Anna berat sekali meninggalkan ibunya.


“Saya tetap mau di sini, Oma. Sekali pun saya kembali kerja di kebun itu tidak masalah. Saya mau selalu bersama ibu.” Ia memeluk tubuh Lillia dengan erat.


Tak kuasa melihat kasih sayang anaknya, sungguh Lillia merasakan sakit yang luar biasa. Dulu kehadiran Anna sangat tidak di harapakan di awal. Hamil tanpa tahu siapa pria yang menanam benih tentu saja membuat Lillia takut dan malu. Hingga saat ini kala melihat kasih sayang Anna, ia begitu marah pada takdir.


Hidup hingga dewasa Anna belum pernah merasakan kehangatan tangan sang ayah.


Air mata Lillia jatuh dalam pelukan Anna.


“Anna tetap mau di sini yah, Bu?” bujuknya pada Lillia.


Pelan Lillia melerai pelukannya. Di usapnya rambut panjang Anna.

__ADS_1


“Iya sudah kamu bahagianya yang mana, ibu dukung kamu. Sekarang kita makan dulu yah?” Anna pun menganggukkan kepalanya.


Mereka makan dengan tenang. Tegar beberapa kali melihat raut wajah Anna yang bingung. Sedang Lillia tampak menatap Anna sesekali.


Ketakutannya selama ini justru mengantarkan mereka pada masa lalu. Demi menghindari pria dari kota, Lillia sampai mengusir Danny beberapa kali. Dan kini justru hasil dari mengusir Danny membuat ia bertemu dengan keluarga di masa lalu.


Sepanjang makan malam itu suasana tampak hening. Hingga akhirnya makan malam pun usai. Anna membereskan semua sisa makan bersama pelayan. Sedang Tegar menuju kamar untuk istirahat.


Oma Indah pun juga tidur dengan tenang malam itu. Tidak ada yang tahu jika di kamar kini Lillia menangis.


Ia begitu sakit mengingat akan benar-benar berpisah dengan Firhan. Pria yang selama ini ia cintai dalam diam akan menjadi mantan suaminya.


Sakit sungguh amat sakit rasanya. Tak ada lagi harapan untuk dirinya bisa kembali dengan sang suami. Cinta yang begitu besar sungguh sulit membuat Lillia merelakan perceraian dengan Firhan.


Namun, mempertahankan hubungan pernikahan sama saja jika ia menyakiti Zaniah. Menjadi duri dalam pernikahan sang sahabat benar-benar tidak ingin Lillia lakukan.


“Kenapa semua harus terjadi padaku, Tuhan? Mengapa hidupku seperti ini? Mengapa semua serumit ini jadinya? Aku sangat mencintai suami sahabatku.” Isaknya pilu.


Larut dalam kesedihan Lillia sampai tidak sadar jika ia terlelap dalam tidurnya. Bantal yang ia tiduri bahkan basah dengan air mata saat ini.


Hal yang sama terjadi pada Firhan. Pria itu duduk di ruang kerja saat ini. Hingga larut malam pikirannya masih tak bisa teralihkan. Perceraian akan segera ia proses dalam waktu dekat. Itu artinya hubungannya dengan Lillia benar-benar akan berakhir.

__ADS_1


“Aku sangat mencintaimu, Lia. Aku pernah berjanji akan menjadi pendampingmu. Bertanggung jawab atas semua yang terjadi. Tapi saat ini semuanya harus berakhir. Rasanya sangat berat bagiku. Aku benar-benar sulit melepaskanmu. Jika tidak, kebahagiaan Danny pun akan jadi taruhannya. Mengapa pilihan sulit harus aku tempuh saat ini?” gumam Firhan bicara pada dirinya sendiri.


__ADS_2