
Anna dan Danny yang saat ini tengah berdiri berhadapan saling diam. Jujur melihat wajah Anna seintens ini begitu sangat membuat jantung Danny berdegup tak menentu.
"Katakan, ada apa?" Anna tak ingin membuang waktu pada pria yang ia sendiri tidak tahu mengapa begitu keras kepala terus mengejarnya.
"Aku ingin serius, An. Aku ingin melamarmu." jawab Danny.
"Ibu ku tidak akan pernah setuju." singkat Anna menjawab.
"Aku menikah denganmu. Bukan dengan ibumu, semua keputusan ada di tanganmu." sahut Danny tegas.
Anna pun bergerak melangkah menjauhi Danny. Ia memilih membelakangi tubuh pria tampan di hadapannya saat ini. Sampai saat ini Anna merasa tak ada rasa apa pun pada Danny tanpa perduli ketampanan pria ini. Ia hanya terus fokus untuk melanjutkan hidupnya bersama sang ibu.
"Aku tidak ada rasa apa pun denganmu. Aku hanya ingin terus bekerja demi ibuku." tutur Anna kemudian ia membalik tubuhnya kembali menghadap Danny.
"Apa yang harus ku lakukan, An? Apa yang harus ku tunjukkan agar kau mau menerimaku?"
"Tidak ada. Dari sekarang menjauhlah dari hidupku. Aku ingin tenang bersama ibuku. Kedatangan mu bahkan perlahan demi perlahan mulai banyak membawa masalah. Ibuku benar, jika ingin mencari ketenangan menjauhlah dari kehidupan kota termasuk orang-orangnya." Anna berlari secepat mungkin setelah mengatakan hal itu.
Baginya sudah cukup ia berkata panjang lebar bersama Danny, dan jangan sampai ibunya melihat hal itu yang akan menimbulkan masalah lagi. Seperginya Anna, Danny terdiam di tempatnya saat ini. Usaha segala macam cara sudah ia lakukan. Namun, sedikit pun ia tak melihat perubahan di diri Anna untuk menerimanya.
__ADS_1
Sedangkan di vila, Lillia justru menghubungi Tegar. Entah apa yang wanita itu pikirkan yang jelas saat ini ia ingin bicara empat mata dengan pemuda tampan itu. Setidaknya ia ingin tahu satu hal yang menjadi pertanyaan di hatinya selama ini.
Hingga waktu yang di tunggu akhirnya tiba. Dengan cepat Tegar pun sudah tiba di kota lagi. Perjalanan yang cukup jauh terasa begitu dekat baginya selama ia mengenal sosok Anna dan sang ibu.
"Bu, anda memanggil saya ada apa?" tanya Tegar melihat sosok Lillia.
Anna yang tengah sibuk bekerja di dapur tidak tahu apa yang sang ibu lakukan di luar sana.
"Duduklah dulu." ujar Lillia.
Keduanya pun duduk bersamaan, Lillia tak lagi merasa canggung dengan Tegar sebab pria itu begitu baik padanya dan menganggap mereka sudah seperti keluarga sendiri.
"Saya menyukai Anna, dan jika ibu berkenan saya ingin serius dengan Anna." pertanyaan yang tak pernah ia duga dari Lillia seketika terjawab dengan tegas tanpa ragu sedikit pun.
Tegar memang benar menyukai Anna. Namun, sikap Anna yang sangat menghormati dirinya membuat Tegar takut jika sampai merusak semuanya dengan mengungkapkan perasaannya. Sedangkan Lillia yang mendengar jawaban Tegar seketika tersenyum lega. Setidaknya apa yang ada di dalam pikirannya benar adanya.
"Nikahi dia, Tegar. Ibu merestui kalian menikah." tutur Lillia sekali lagi.
Bukan hanya Tegar yang syok mendengar hal itu, namun Anna lebih syok kala mendengar sang ibu mengambil keputusan tanpa mengatakan apa pun padanya. Anna menggelengkan kepala tak menyangka dengan keputusan sang ibu. Air matanya jatuh begitu saja, bagaimana mungkin sang ibu memutuskan hal sepenting itu tanpa berbicara padanya.
__ADS_1
"Ini salah, Bu. Ini tidak benar." Anna pun berjalan mendekati keduanya. Ia berdiri dengan wajah begitu kaget.
"Anna..." Lillia berdiri mendekati sang anak berharap Anna bisa mengerti semuanya.
"Tidak, Bu. Pak Tegar adalah majikan kita. Bagaimana bisa Ibu memintanya menikahi aku? Tidak. Ini salah." jawab Anna dengan gelengan kepala.
Tegar yang melihat pun nampak diam. Ia masih berusaha memikirkan semua ekspresi dari Anna. Kini ia pun tahu jika di mata Anna, dirinya hanyalah sebatas majikan. Jelas terlihat bagaimana Anna menolak keinginan Tegar untuk lebih serius.
"An, apa-apaan kamu? Kamu menolak Tegar atas dasar apa? Ibu tahu Tegar adalah pria yang baik dan tepat untuk kamu, Nak." Lillia masih kekeuh ingin memaksa sang anak.
"Kita bisa memulai semua dari pernikahan, An. Saya bisa membuat kamu bahagia dengan kesederhanaan yang kamu inginkan." Kini Tegar pun ikut bersuara.
Namun, apa pun itu Anna tetap saja menolak. Ia tidak ingin apa pun yang bisa Tegar berikan sebab ia sudah menganggap Tegar adalah kakaknya.
"Tidak, pernikahan tidak akan pernah ada, Pak." ujar Anna tegas.
Lillia yang mendengar keduanya berbicara sontak merasa kesal. "Apa karena pria itu, An? Apa karena pria yang bernama Danny itu kamu menolak kebaikan Tegar?" sontak Anna terdiam.
Entah mengapa mendengar nama itu tiba-tiba saja bibirnya terbungkam rapat. Ingatan tentang Danny yang baru saja bertemu dengannya membuat fokus Anna hilang dalam sekejap. Ada perasaan yang aneh di dalam hatinya saat ini.
__ADS_1
"Perasaan apa ini?" gumam Anna dalam hati tak mengerti apa yang tengah ia rasakan.