Pejuang Restu

Pejuang Restu
Ketegangan Di Villa


__ADS_3

Samar-samar terdengar suara mobil terparkir dan suara gerbang yang di geser terbuka.


“Siapa yah? Kok kayak dua mobil? Tegar sama Anna minta jemput kan satu mobil berarti.” Oma Indah mengernyitkan kening kala berbicara sendiri.


“Ada apa, Nyonya?” Lillia mendekat mendengar Oma Indah bergumam lirih.


Keduanya memandang ke arah pintu utama. Namun, masih tak ada yang tampak memasuki vila itu.


“Kamu dengar suara mobil nggak?” tanya Oma Indah namun Lillia justru menggelengkan kepala.


Hingga akhirnya Oma Indah meminta Lillia menyiapkan hidangan ringan jika ada tamu. Dan ia sendiri yang akan keluar melihat siapa gerangan yang datang.


“Yasudah, kamu ambil cemilan. Bawa ke depan. Sepertinya memang ada tamu. Suara Tegar bicara sama orang. Nanti kalau ke depan sudah lihat orangnya, kamu bisa buatkan mereka minum yah?” Lillia dengan patuh menjalankan semua perintah dari Oma Indah.


Ia bergegas menuju dapur sedang Oma menyambut tamu yang tidak tahu siapa itu.


Langkah kaki membawa wanita tua itu tiba di halaman vila. Terlihat satu mobil dengan berisi banyak orang. Dan Tegar yang berdiri bersama Anna begitu saling canggung menatap semuanya.


“Loh ada tamu? Kenapa di biarkan berdiri di sini? Ayo masuk. Tegar, bawa tamunya masuk.” pintah Oma Indah bersalaman dengan mereka semuanya.

__ADS_1


Wuri tampak senang mendapatkan sambutan hangat. Semua masih berpikir jika Anna adalah anggota keluargar dari Tegar dan Oma Indah.


“Indah, panggil saja Oma Indah.” Ia memperkenalkan namanya pada semuanya.


Hingga Danny dan keluarga di bawa masuk barulah Tegar menjelaskan. “Oma, mereka ini ingin bertemu dengan Bu Zeni.” ujar Tegar memberitahu.


Oma Indah pelan menganggukkan kepala. Ia segera menoleh ke belakang dan benar saja tampak Lillia datang memegang nampan. Tatapan wanita itu fokus ke arah makanan yang ia bawa takut jika sampai terjatuh. Tanpa sadar ia duduk berlutut meletakkan kue di atas meja.


Bagaimana ekspresi semua orang menatapnya, Lillia tidak tahu. Firhan dan lainnya tercengang melihat Lillia justru berada di depan mereka saat ini.


“Lia…” Firhan dan Wuri berucap hampir bersamaan.


Mendengar dua nama di sebut, Lillia menoleh ke arah mereka. Ia membulatkan matanya besar kala menyadari siapa tamu yang datang.


Lillia berdiri cepat dan mendekati Anna. Tangannya menggenggam erat tangan sang anak hendak meninggalkan tempat itu.


“Anna, ayo kita pergi!” Ajaknya namun tak di duga Firhan sudah memegang kedua kaki Lillia. Pria itu berlutut di depan Lillia.


Semua semakin di buat syok.

__ADS_1


“Lia, tolong jangan pergi. Tolong bicaralah denganku dulu.” Bagaimana Firhan begitu memohon membuat Zaniah tak kuasa menahan air mata.


Wanita itu sampai memejamkan mata melihat suaminya sendiri bersujud di depan wanita yang pernah menjadi sahabatnya.


Anna menatap satu persatu orang yang datang di depannya saat ini.


“Tolong biarkan saya pergi. Ku mohon.” Lillia kekeuh ingin melangkahkan kakinya.


Danny yang semula kaget kini tahu siapa wanita di depannya ini. Dia adalah istri kedua sang papah. Meski ingin marah, namun ia tetap berusaha tenang. Masalah kedua orangtuanya sendiri pun ia tidak tahu, bagaimana ingin ikut campur.


Yang bisa Danny lakukan saat ini hanya menenangkan sang mamah yang tengah rapuh.


“Mamah harus kuat yah?” tutur Danny memeluk tubuh Zaniah.


Lillia masih berdiri meneteskan air mata tanpa berniat menatap Firhan di bawah sana. Sumpah demi apa pun ia sudah tidak ingin berhubungan dengan semua orang di masa lalunya.


“Jika tujuan kalian kemari untuk menemuiku, tolong pergilah sekarang juga. Kami tidak pernah mengusik hidup kalian yang tenang di kota sana. Jadi aku harap kalian juga sebaliknya. Biarkan kami tenang hidup di desa ini.” Tegas Lillia berucap.


Melihat ketegangan yang terjadi, Oma Indah justru memanggil sang cucu untuk segera pergi dari sana. Tegar patuh masuk ke kamarnya. Mereka tidak boleh ikut campur dengan masalah keluarga Anna.

__ADS_1


__ADS_2