
Pagi hari yang masih kabut kini gerbang villa terbuka kembali. Bukan sosok Anna yang keluar, melainkan Lillia yang keluar membawa baju dan menuju ke rumah sederhana miliknya yang sudah lama tidak ia tinggali. Wanita paruh baya itu berjalan dengan tenangnya menuju ke rumah tanpa berpikir jika dari arah lain ada yang tengah mengintainya. Sepasang mata begitu tajam menatap tubuh Lillia.
"Eh kok ke sini ngawasi ibu-ibu sih? Saingan lu orang tua, Danita?" celetuk Angel begitu santai yang justru membuat Danita kesal setengah mati. Ia begitu terkekeh melihat kemarahan sang sepupu.
"Diam lu. Berisik banget." kesal Danita menyenggol lengan Angel.
Keduanya pun terus mengikuti langkah Lillia yang sebentar lagi tiba di rumah.
"Berhenti!" teriak Danita menghadang langkah Lillia.
__ADS_1
Tentu saja mendengar hal itu Lillia sangat kaget. Ia tampak menatap dua gadis yang jelas adalah orang asing di desanya ini. Danita yang merasa lebih kuat menghadapi Lillia tak segan-segan ia melangkah mendekat dan mendorong tubuh Lillia begitu cepat.
Angel yang berdiri bersamanya pun juga begitu kaget tentunya. "Danita, apa-apaan sih? Itu orangtua loh." ujar Angel tak sampai hati melihat Lillia tersungkur ke tanah. Bukannya iba melihat keadaan Lillia yang kotor justru Danita tersenyum jahat.
Danita justru mengabaikan ucapan Angel dengan mendekati Lillia di bawa. Ia berjongkok menyaksikan Lillia membersihkan tubuhnya dari kotoran.
"Apa masalah kamu dengan saya?" tanya Lillia kesal menatap Danita. Sungguh gadis di depannya ini benar-benar tidak punya sopan santun pikirnya.
Kening Angel pun mengernyit heran mendengar penuturan Danita. "Danita, calon apaan? Danny kan belum tentu mau sama lu." bisiknya yang mendekati telinga Danita namun tampaknya Lillia pun bisa mendengar suara itu.
__ADS_1
Ia kini berdiri dari duduknya membiarkan Danita juga ikut berdiri. Lillia merasa ini hanyalah masalah anak muda yang sudah masanya. Ia acuh dan memilih pergi setelah mengatakan. "Lain kali berlakulah layaknya gadis mahal dari kota. Jangan hanya tinggal di kota tapi perilaku seperti desa."
Angel terperangah mendengar penuturan Lillia, sementara Danita menggenggam tangannya penuh emosi. Ia begitu kesal dengan Lillia mau pun anaknya. Tak terima dengan ucapan Lillia, Danita mengejar kembali dan kini ia justru semakin murka dan mendorong kasar tubuh Lillia hingga tertelungkup ke tanah.
"Kamu saya biarkan makin memalukan yah?" Hilang sudah Lillia yang lemah lembut kini hanyalah Lillia yang beringas seperti macan betina. Ia menerjang tubuh Danita dengan emosi yang membabi buta. Entah apa yang membuat Lillia hilang keanggunannya. Yang jelas Angel bahkan tak bisa melerai penyerangan dari Lillia saat ini, ia hanya bisa berteriak meminta pertolongan. Danita yang di duduki Lillia hanya berusaha menutup wajahnya dari amukan tangan Lillia.
"Tolong! Tolong!" Angel berteriak kesana kemari.
"Rasakan ini! Sebelum kamu menyerang anak saya, saya yang akan menyerang kamu lebih dulu." Lillia terus menampar wajah Danita.
__ADS_1
Jelas terlihat wajah yang memerah di kedua pipi putih Danita membuat gadis itu kini menangis tak bisa lagi melindungi dirinya. Perkelahian berlangsung kurang lebih lima menit. Para penduduk desa pun satu persatu mulai berdatangan. Mereka menjadi penonton sebab tak ada yang memihak pada Danita. Mereka begitu mendukung apa pun yang Lillia lakukan saat ini.
Hingga salah satunya berlari menuju villa di mana Anna berada.