
Suasana makan siang kala itu mendadak hening. Zaniah yang tengah makan siang di rumah bersama dengan kedua mertuanya terdiam membeku setelah mendapat kabar dari Danny.
“Mamah, Papah masuk rumah sakit. Tadi di kantor jatuh di depan ruangan Danny.” Air mata Zaniah menetes mendengar kabar sang suami.
Tangannya sampai tak kuasa menjatuhkan ponsel bersamaan dengan sendok yang juga ia genggam jatuh seketika.
“Niah, ada apa?” Wuri menggoyangkan lengan Zaniah saat itu.
Melihat sang menantu syok berat, segera ia mengambil ponsel yang untungnya masih bisa terhubung panggilan.
“Danny, ada apa?” tanya Wuri penasaran.
Sama halnya dengan Zaniah. Wuri pun tak kalah syok mendengar kabar sang anak. Segera ia memberi tahu sang suami. Mereka pun bergegas menuju ke rumah sakit.
“Tuhan tolong Mas Firhan…Mamah Zaniah takut Mas Firhan kenapa-napa, Mah.” Ia menangis di dalam pelukan sang mertua.
Sungguh Wuri pun juga merasakan takut yang luar biasa. Takut jika sampai hal buruk terjadi pada anaknya.
“Ya Tuhan…ampuni dosaku di masa lalu pada Lia. Jangan jadikan ini sebagai hukum karma. Hamba tidak sanggup jika Firhan yang harus kau buat menderita karena ulah hamba.” Ingatan di masa lalu masih jelas terbayang di kepala wanita tua itu.
Meski telah menyesali perbuatannya, Wuri tak bisa berbuat apa pun saat ini. Sebab ia sendiri ingin meminta maaf pada sang menantu yang telah ia acuhkan namun tak lagi bisa menemukan keberadaannya.
Beberapa kali mencari, Wuri kesulitan menemukan Lillia. Hingga semua terlewatkan begitu lama ia pun tak lagi mengingat itu. Dan kini sesuatu terjadi pada Firhan, ia kembali di buat cemas.
“Niah, tenanglah. Firhan baik-baik saja. Dia pasti hanya kelelahan.” tuturnya membelai lembut rambut sang menantu.
Namun sepanjang perjalanan Zaniah terus menangis. Dua ketakutan yang begitu membuatnya gelisah saat ini. Pertama adalah takut jika sampai Firhan pergi meninggalkannya atau mendapat penyakit parah. Yang kedua ia takut jika sampai Firhan kembali mengingat semuanya.
“Mamah dan Zaniah tenanglah. Kita akan segera sampai. Kita harus tenang biar bisa menghadapi semua dengan baik. Jangan sampai kita panik dan justru membahayakan nyawa Firhan.” Kini Papah Dika pun ikut angkat suara.
Mendengar mertua laki-laki bicara, barulah Zaniah menghentikan tangis meski air mata terus menetes saat ini.
“Maafkan aku, Mas. Aku benar-benar takut kamu pergi. Tetaplah bersamaku sampai tua, Mas Firhan. Aku tidak bisa tanpa kamu.” ujarnya bergumam dalam hati.
__ADS_1
Pada akhirnya mereka pun tiba di rumah sakit. Semua turun dengan tergesa-gesa.
Firhan masih belum bisa di temui. Sebab ia sudah di alihkan ke ruang ICU setelah menjalani rangkaian pemeriksaan.
“Mamah,” Danny datang mendekati Zaniah ketika ia belum sampai di depan ruangan.
Zaniah memeluk Danny erat. “Apa yang terjadi, Danny? Ada apa dengan Papahmu?” tanya Zaniah.
Danny menceritakan semuanya ketika ia berada di dalam ruang kerja. Entah apa yang terjadi, yang jelas ia sudah menemukan sang papah tergeletak di lantai perusahaan.
“Dokter bilang tekanan darah Papah tinggi, Mah. Sekarang bahkan kesadaran Papah sangat rendah.” Zaniah terduduk lemas mendengar ucapan sang anak.
Ini yang sangat ia takutkan selama ini. Firhan terlalu memaksakan tubuhnya bekerja sampai sulit mengontrol kesehatan. Bahkan ia sangat menyesal telah mengijinkan sang suami bekerja hari ini.
Seandainya Zaniah bersikeras menahan Firhan di rumah mungkin semua akan baik-baik saja.
Menunggu dengan keadaan cemas, semua tampak diam. Tak ada pembicaraan apa pun yang terdengar di ruang tunggu itu. Mereka semua terus berdoa untuk keselamatan Firhan.
“Tuhan, selamatkan suamiku. Selamatkan suamiku, Tuhan. Sudah cukup ketakutan ku selama ini, jangan kau tambah lagi.” ucap Zaniah berdoa dalam hati.
***
Sakit sama sekali tak ia rasakan. Lillia hanya terduduk lemas memikirkan pria yang selama ini hampir ia lupakan. Pria yang pernah begitu ia cintai dengan cara yang salah. Entah mengapa tiba-tiba kembali hadir di dalam pikirannya.
“Ibu!” Terkejut Lillia melihat Anna yang berlari ke arahnya. Di ikuti wanita tua yang tak lain adalah Oma Indah.
Mereka mendekati Lillia yang tengah terduduk. Bahkan wajahnya pun sangat pucat.
“An, kok kamu di sini? Nyonya?” Lillia menunduk hormat pada Oma Indah.
Anna tak menjawab. Ia justru meraih tangan sang ibu yang berdarah kian deras.
Panik tentu saja. Ia segera memapah tubuh ibunya dan berteriak mencari kepala pengawas untuk meminta ijin.
__ADS_1
“Ada apa, An? Nyonya?” Lukas memberi hormat dengan kepala menunduk pada Oma Indah.
Hampir saja ia tidak mengenali wanita di depannya ini kala memakai pakaian tomboy.
“An, kita bawa ibumu ke puskesmas.” ujar Oma yang tak meminta izin sama sekali dengan Lukas.
Meski tak ingin memberi izin sebab Lillia sudah izin sekali namun melihat kekuasaan Oma yang lebih besar, Lukas hanya diam. Bahkan ia turut membantu memapah Lillia.
Luka di tangannya memang tidak begitu besar, namun tubuhnya yang begitu lemas setelah menyebut nama sang mantan suami. Lebih tepatnya suami, sebab belum ada kata cerai antara mereka.
“Bu, ibu sakit? Kenapa tidak kasih tahu Anna, Bu?” tanyanya menggenggam tangan Lillia sebelah.
“Ibu baik-baik saja, An. Ibu hanya kepanasan tadi. Hari ini matahari rasanya begitu terik.” keluh Lillia yang memang benar jika di lihat mentari tak sesejuk biasanya.
Oma Indah terharu melihat kedekatan mereka berdua. Jujur ada perasaan iri. Mengingat hubungannya dengan Dinda tidak sedekat mereka.
Dulu Dinda selalu sibuk dengan sekolahnya dan teman-temannya. Dan kini Dinda sibuk mengurus suaminya. Oma Indah tak merasakan waktu yang cukup bersama sang anak.
“An, biarkan ibumu ikut kerja di villa. Ini saya yang minta. Kalian berdua kerja di vila saja. Itu akan jauh lebih ringan.” Setelah berpikir Oma Indah tak tega.
Setidaknya ia akan tahu sedikit demi sedikit keluarga gadis yang di sukai sang cucu jika tinggal bersama.
“Tapi Nyonya…kami-“
“Sudah, An. Ibumu sudah waktunya bekerja ringan. Pelayan di villa akan saya bawa ke kota sebagian. Mereka pasti akan senang bisa kembali ke kota. Sebab di sanalah tempat mereka tinggal semula.” Mendengar itu Anna menatap ibunya. Dan Lillia pun menganggukkan kepala setuju.
***
Kisah yang sedih kini membuat rumah sakit semakin terasa mencekam. Zaniah memeluk Firhan usai dokter memberikan izin untuk masuk ke ruang ICU. Hanya satu orang dan waktu yang tidak lama.
Firhan masih belum sadar.
“Mas Firhan, bangun. Jangan pergi, Mas. Jangan tinggalin aku, Mas.” Zaniah memeluk erat tubuh sang suami.
__ADS_1
Tak kuasa rasanya menahan air mata. Ia terus memeluk erat tubuh Firhan yang sudah terpasang banyak selang dan alat medis lainnya.