
Sejak ajakan dari Tegar, Anna tolak mentah-mentah tanpa alasan yang jelas tak sekali pun Tegar mau lagi ke desa. Pria tampan itu lebih memilih untuk menyibukkan dirinya di perusahaan tanpa mau memikirkan Anna lagi. Bohong jika ia tikak gelisah, bahkan saat ini rasa rindunya sudah menggunung. Bayangan akan wajah cantik dan lucu Anna yang tertawa membuat Tegar sangat ingin membawa tubuhnya pergi ke desa. Sayang, akal dan pikiran masih bisa pria itu gunakan. Terakhir memandang kedua mata Anna, jelas ia melihat tak ada cinta dari pandangan itu untuknya.
Tegar sadar dengan keberadaannya yang sangat tidak di harapkan. Ia pun mantap untuk tidak menaruh harapan apa pun lagi pada Anna.
Di sini Anna justru tengah memikirkan seseorang yang entah sedang apa di kota sana. Sejak kepergiannya ke kota ia tak lagi melihat kedatangan Danny ke desa untuk menemuinya.
"An, ada apa?" tanya Lillia yang datang menghampiri sang anak di kamarnya. Ia melihat Anna tengah duduk merenung tanpa melakukan apa pun.
"Ibu?" Anna tersenyum seolah tak terjadi apa pun. Ia menatap Lillia yang duduk di hadapannya saat ini.
Sebagai seorang ibu Lillia jelas tahu isi hati sang anak saat ini. Dari pembicaraan di beberapa waktu sebelumnya bahkan Lillia tahu apa yang membuat pikiran sang anak sangat resah. Anna sudah tumbuh dewasa dan menghadapi hal yang pernah Lillia rasakan.
__ADS_1
Lama Anna hanya diam, ia tak berani berkata apa pun. Jelas jika jujur pada sang ibu tentang hatinya ia sama saja menyakiti sang ibu. Anna tidak ingin hal itu terjadi. Lillia pun juga hanya diam seolah tengah berpikir untuk jaan tengah. Ia pun akhirnya mengambil sebuah keputusan.
Percakapan mereka pun berakhir dengan begitu saja. Anna melanjutkan pekerjaan sedangkan Lillia memilih untuk ke arah kamar. Ia memikirkan semua di dalam pikirannya dengan baik-baik hingga pada akhirnya Lillia mengirim pesan pada seseorang.
"Baik, terimakasih Lia." itulah balasan dari pesan yang Lillia kirimkan.
Hingga tanpa Anna ketahui di hari yang sama dua mobil dari kota kembali memasuki desa itu. Mobil yang berasal dari kota itu datang menuju ke sebuah villa tempat Anna dan sang ibu bekerja. Suara mobil yang terhenti di depan membuat semua pelayan keluar dari vila hendak menyambut orang yang mereka pikir adalah sang majikan. Namun, semua salah, yang datang bukanlah majikan mereka. Melainkan tamu yang kerap kali mengunjungi Anna dan sang ibu.
"Iya, ada apa?" tanya Anna kaget. Terlebih pelayan itu datang dengan berlari dan suara yang berteriak.
Anna pun berdiri mendekat. "Itu di depan ada tamu kamu yang biasa datang."
__ADS_1
"Pak tegar?" tanya Anna dan pelayan pun menggeleng.
"Bukan, kok Pak Tegar sih. Itu yang satunya yang sama gantengnya."
Buru-buru Anna pun pergi menuju luar, ternyata di sana sudah ada sang ibu yang menyambut hangat mereka di halaman depan. Lillia tersenyum pada Zanih. Kini ia sama sekali tak ingin bersitegang dengan sang sahabat. Meski pun ia sadar hubungan mereka tak akan sama seperti dulu lagi.
"Zan, mari kita ke rumah saja. Di sini adalah tempat kerja kami. Saya tidak enak." ujar Lillia menggandeng tangan Anna melangkah meninggalkan Villa.
Sebelum mereka jauh pergi, Zaniah pun bersuara. "Kalian ikutlah dengan Danny." pintahnya.
Danny segera membuka pintu mobil dan Anna bersama sang ibu pun segera masuk ke dalam mobil. Sepanjang jalan bahkan Anna tampak menatap sang ibu seolah bertanya apa yang terjadi? Namun, ia tak ingin bersuara selama berada di dalam mobil pria yang sudah mengisi pikirannya belakangan ini.
__ADS_1