
Usai berkemas di rumah, kini tiba saatnya Anna membawa sang ibu ke villa yang akan ia rawat selama Tegar tak di desa. Keduanya melewati kebun terlebih dahulu berjalan kaki.
“An, Pak Tegar baik kan sama kamu?” tanya Lillia.
Setidaknya ia bisa memastikan pria yang bersama anaknya pria baik-baik dan murni memberinya pekerjaan. Bukan ada hal lain yang terselip dalam niatnya.
“Iya. Ibu tenang saja. Pak Tegar baik sekali kok. Makanya Anna tidak takut dengan beliau. Nanti kalau ibu bertemu langsung pasti ibu juga yakin Pak Tegar orang baik.” Mendengar itu Lillia menghela napasnya lega.
Bersyukur sang anak tidak bertemu dengan orang yang kejam. Hingga keduanya tiba-tiba di kejutkan dengan kedatangan pria yang memegang tangan Anna.
“Akhirnya kita bertemu juga.” Dia adalah Danny. Dengan cepat Lillia melepaskan tangan Danny pada sang anak.
Ia maju melindungi tubuh Anna. Tatapan tak suka Lillia tunjukkan pada pemuda tampan di depannya.
__ADS_1
“Siapa kamu?” tanyanya sinis.
Danny terdiam beberapa saat sembari meneguk kasar salivahnya. Anna yang tadinya berdiri di hadapan Danny kini terlindung di belakang sang ibu. Kepalanya pun menunduk tak mau menatap Danny.
“Saya…saya orang yang mencari gadis itu, Bu. Saya ingin berkenalan dengannya. Em kenalkan nama saya Danny Elton. Saya…”
“Ayo, An.” Lillia menarik cepat tangan sang anak meninggalkan Danny yang bingung.
“Bu, jangan pergi dulu. Bu, tunggu saya. Saya mau…” Lagi Lillia memotong ucapan Danny.
Keduanya berjalan cepat meninggalkan pria yang diam membisu. Entah apa salah Danny, ia sendiri pun tidak mengerti. Yang jelas tatapan tak suka Lillia jelas tunjukkan padanya.
“Kamu jangan pernah memberi kesempatan bicara pada pria seperti itu, Anna. Dia itu sama dengan laki-laki lainnya. Mudah penasaran dan mudah meninggalkan.” Anna diam mengikuti langkah sang ibu.
__ADS_1
Sepanjang jalan Lillia terus saja memberikan nasihat yang tak pernah putus tentang laki-laki. Hingga tak terasa keduanya pun tiba di villa yang mampu membungkam bibir Lillia.
Ia terdiam seketika kala Anna membuka gerbang. Kedua mata wanita itu menatap takjub.
“Ibu pasti kaget. Biasanya kita hanya bisa memandang setengah dari bangunan ini di kebun. Sekarang semuanya bisa kelihatan, Bu. Seperti istana bukan?” tanya Anna pada sang ibu.
Pelan Lillia hanya mampi menganggukkan kepala. Kakinya terus melangkah sedikit demi sedikit. Anna tersenyum lucu melihat sang ibu.
“Huh coba dari tadi sampai sini mungkin telingaku nggak akan panas dengan ibu ngoceh terus. Tapi…pria tadi siapa yah? Kenapa dia nekat sekali? Itukan pria yang memakai mobil itu.” Dalam diamnya Anna bergumam mengingat sosok Danny.
Lupa dengan marahnya, Lillia mulai membantu Anna merawat villa itu. Mereka membersihkan taman di belakang sembari bercerita banyak hal tentang perkebunan.
Tak ada yang tahu jika Danny di sini tampak uring-uringan. Kata ‘An’ yang ia dengan membuat pria itu penasaran.
__ADS_1
“An…siapa yah? Ani? Anjie? Ana? Ane? Anak? Siapa sih namanya? Kenapa harus nyebut An? Haduh gimana nyari orangnya kalau cuman tahu An saja?” Danny pusing tujuh keliling. Beberapa kali tangannya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Lama berdiam di sana akhirnya Danny memutuskan untuk menelusuri desa itu lagi. Entah cara apa yang akan ia lakukan demi mendapatkan informasi tentang Anna.