Pejuang Restu

Pejuang Restu
Hari Yang Sangat Tak di Duga


__ADS_3

Pagi yang cerah namun tak secerah wajah tampan milik Tegar. Kini pemuda itu tampak sarapan dengan wajah cemberut. Ia kesal lantaran sulit sekali mencari perhatian dari Anna. Gadis desa yang menurutnya akan terkagum-kagum padanya justru sama sekali tak menunjukkan reaksi apa pun juga. Pada akhirnya Tegar menghentikan niatnya untuk lari pagi dengan alasan ada panggilan mendadak dari kantor.


"Loh, Pak Tegar tidak jadi olahraga?" kini Anna pun bertanya setelah melihat tegar berada di dalam rumah usai meletakkan botol minuman di meja.


"Tidak, ada kerjaan mendadak." ketusnya acuh pada Anna.


Berharap Anna akan paham jika dirinya tengah protes namun sayang Anna justru beranjak menuju dapur untuk menata makan yang sudah setengah hangat untuk di nikmati di atas meja makan pagi itu.


Berbeda halnya dengan keadaan di sisi lain. Danny justru tengah bersiap untuk ke kantor. Pagi itu ia sarapan bersama sang mamah dan papah. Firhan masih sama sangat irit bicara. Dan Danny tahu jika ini adalah hal yang menyangkut hubungan sang papah dengan sang calon mantan istrinya.

__ADS_1


"Mas Firhan, sarapannya kenapa nggak di makan?" tanya Zaniah lembut menyentuh lengan sang suami.


Firhan pun terjingat kaget dan segera menoleh ke arah sang istri. Ia tampak melanjutkan sarapan.


Kehidupan keluarga Zaniah mendadak berubah menjadi sunyi kala kemunculan sosok Lillia kembali di tengah-tengah mereka. Hingga pada akhirnya waktu yang di nantikan kini tiba. Tak ada satu pun orang yang bahagia di ruang persidangan saat ini. Sekali pun Zaniah sendiri yang sangat menantikan hari ini tiba. Dimana seharusnya ia begitu bahagia menantikan status yang sekian tahun akhirnya dirinya menjadi pemenang.


Namun, setelah tahu bagaimana cinta sang suami pada sahabatnya. Rasa senang itu tidak ada lagi di dalam hati Zaniah. Ia benar-benar merasa terpukul saat ini, namun ada Dannya yang harus ia pikirkan. Anak yang sangat ia sayangi tidak boleh sampai merasakan papah dan mamahnya berpisah.


Firhan dan Lillia yang duduk saling bersampingan sama-sama tidak ada yang mau menatap. Cinta di antara mereka benar-benar masih besar dan kian terpupuk.

__ADS_1


"Bu, ayo. Semua sudah selesai." Anna pun segera menggandeng tangan sang ibu tanpa mau membiarkan Lillia terpuruk melihat masa lalunya.


Keduanya pergi dengan Tegar yang mendampingi dari dalam hingga mereka masuk ke dalam mobil. Firhan tampak berjalan lunglai mengingat hari ini ia tidak akan lagi memiliki kesempatan bersama Lillia. Tak pernah terbayangkan hari ini akan benar-benar terjadi.


"Sekarang tinggal nasibmu, Danny. Mamah akan dukung jika memang Anna adalah wanita yang baik untukmu." Zaniah bersuara ketika mereka di dalam mobil.


Hening, tak ada yang merespon ucapan Zaniah hingga mereka tiba di rumah. Zaniah turun seorang diri sebab dua pria yang bersamanya hendak langsung bergegas ke perusahaan.


"Danny, tolong kamu handle perusahaan. Papah ingin pergi menenangkan diri." ujarnya yang meninggalkan sang anak menuju mobilnya sendiri.

__ADS_1


Patuh Danny sangat paham jika sang papah tengah membutuhkan waktu sendiri untuk menenangkan pikirannya. Ia pun melajukan mobil menuju perusahaan sedang Firhan entah kemana pria itu membawa mobilnya sekarang.


Tidak ada yang sadar jika saat ini Zaniah tengah mengintip kepergian mereka dengan air mata yang menetes sedih.


__ADS_2