
Pagi harinya dengan kehidupan yang baru, Zaniah di dapur tampak sibuk mengemasi kue dan makanan untuk ia bawa ke rumah sang anak yang cukup jauh. Rumah mereka berjarak hampir satu jam lamanya menempuh kendaraan. Firhan yang melihat aksi sang istri di dapur pagi itu bahkan terheran-heran. Apa yang terjadi pada istrinya hingga membuatnya begitu bersemangat. Ia berjalan seraya merapikan dasi kerjanya.
"Niah, apa yang kau lakukan?" tanya Firhan memeluk tubuh sang istri dari belakang. Sontak saja aksi sang suami membuat Zaniah terlonjak kaget. Beruntung barang-barang yang ia tata di depannya tidak ikut terjatuh terkena tangannya.
"Mas, kenapa membuatku kaget sih? Lihat untung aja kue ini semua tidak jatuh. Aku kan capek buatnya." ia mengerucutkan bibir manja pada sang suami.
Kini hubungan keduanya memang sudah kembali harmonis seperti dulu lagi. Mereka tak pernah ada ribut sedikit pun selama memutuskan untuk memulai lembaran baru. Dan pelayan yang berada di rumah mereka pun juga senang melihat Firhan dan Zaniah yang tak malu-malu menampakkan kemesraan mereka di rumah itu. Seperti pagi ini ketika Zaniah mendapat pelukan dari belakang oleh sang suami, justru wanita itu membalik tubuhnya menghadap sang suami.
"Kamu buat kue apa memangnya? Dan untuk siapa itu semua kenapa banyak sekali?" tanya Firhan yang melihat kue di depan istrinya ada tiga bungkus. Yah itu semua adalah kue yang sudah di bagi sesuai porsinya.
__ADS_1
"Kue cake untuk di makan hari-hari aja sih, mas. Tapi sudah aku bagi-bagi. Untuk ibu, mamah, dan Anna. Jadi hari ini aku akan datangi tiga rumah itu." tuturnya dengan senang.
Firhan turut senang melihat perhatian sang istri pada keluarga dan terutama pada menantunya yang tak lain adalah anak dari Lillia, mantan sahabat sekali gus mantan madunya. Keduanya pun sarapan bersama hingga akhirnya mereka berjalan menuju ke pintu utama. Zaniah akan menuju mobilnya dan Firhan juga akan menuju mobilnya sendiri. Mereka akan berpisah di halaman rumah dengan menaiki kendaraan masing-masing.
"Mas, peluk." ujar Zaniah meminta dengan manja.
Firhan yang mengerti hanya menuruti saja permintaan sang istri. Ia memeluk tubuh Zaniah keduanya tampak tertawa begitu bahagia. Hingga tiba-tiba saja terdengar suara yang asing bagi mereka.
"Siapa, Niah?" Firhan memutar tubuhnya menghadap kedua orang asing itu dengan kening berkerut.
__ADS_1
Zaniah yang awalnya mengerutkan dahi tak mengenali orang di depannya tiba-tiba terbelalak kaget mengingat sosok wanita dengan tahi lalat di ujung hidungnya. Yah, wanita yang pernah ada di cerita masa lalunya.
"Siapa kalian? Pergi dari sini. Mas, mereka ini pasti orang jahat bahkan aku tidak kenal sama mereka." Zaniah nampak pucat dan sangat ketakutan saat itu.
Firhan yang masih tak mengerti tampak bersikap tenang."Niah, jangan takut seperti itu. Mereka ini siapa kita harus tanya dulu." ujar Firhan memegang kedua pundak san istri.
"Tidak. Pergi kalian dari sini. Pergi!" Zaniah ingin mengusir mereka dan menarik tangan sang suami untuk masuk ke rumah namun, belum saja langkah itu meninggalkan kedua orang asing tersebut. Zaniah dan Firhan sudah mendengar suara teriakan.
"Bu Zaniah, kami kesini ingin mengambil anak kami Danu. Saya mohon, Bu. Saya akan kembalikan uang itu pada ibu asal Ibu mau mengembalikan anak kami. Kami mohon, suami saya sudah datang untuk meminta ampun pada saya, Bu. Tolong kami, Bu Zaniah." teriakan itu sontak membuat tubuh Zaniah dingin seluruhnya.
__ADS_1
Firhan yang melangkah dengan tarikan paksa sang istri tiba-tiba terhenti di tangga. Ia menoleh ke belakang dan menatap sepasang suami istri yang berdiri tak jauh dari mereka.
"Siapa Danu, Niah?" tanya Firhan masih ingin tahu kejelasannya.