
Berjalan menyusuri jalan malam itu, Anna kembali menuju ke arah Villa. Bagaimana pun Lillia meminta anaknya harus mempertanggung jawabkan perbuatan. Meski takut, Anna tetaplah anak yang menuruti perintah sang ibu. Pelan ia memasuki billa bernuansa putih itu. Tak ada pergerakan dari dalam.
Hingga ia tiba di depan kamar tempat Tegar terbaring saat ini. Pelan tangannya memutar handle pintu bersamaan dengan bibir yang ia gigit kecil.
“Pak Tegar!” Anna terkejut mendapati Tegar sudah terduduk di lantai bersandarkan tempat tidur.
Wajahnya sangat lemas. Anna berlari memapah tubuh tegap itu. Ia baringkan di atas kasur dan memberikan air minum.
“An, kamu dari mana saja?” tanya Tegar melihat kehadiran gadis yang beberapa kali ia panggil kini sudah berada di depannya.
“Saya habis ke rumah sebentar, Pak. Maafkan saya, Pak.” ujar Anna meminta maaf.
“Bapak minum obat ini yah? Saya tidak tahu cara apalagi. Hanya ini yang bisa membantu Bapak.” Perkataan Anna ternyata masih mendapat penolakan dari Tegar. Meski lemas sekali pun, Tegar tetap menolak untuk meminum obat.
“Pak!” Mata Anna membulat saat itu juga.
Tangan kekar milik Tegar menariknya hingga berbaring di atas tempat tidur.
“Berbaringlah di sini bersamaku, hanya ini yang bisa mengobati sakitku, An.” Lirih namun jelas Anna mendengar perintah Tegar.
__ADS_1
Tak bisa bergerak dalam dekapan hangat pria itu, Anna hanya mampu diam mematung.
“Apa yang dia lakukan padaku?” gumam Anna bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Manik mata Anna bergerak kesana kemari berusaha mencerna apa yang terjadi sebenarnya. Anna bahkan diam mematung hanya debaran jantung yang terus berpacu di dadanya.
Sesekali bibirnya ia gigit demi melampiaskan kegugupan itu.
“Jangan bergerak kemana pun.” Suara berat Tegar menggema di belakang leher Anna.
Tak ada ucapan mau pun pergerakan yang Anna berikan. Ia patuh berdiam diri selagi Tegar hanya memeluknya tanpa melakukan hal yang lebih.
Anna yang gugup pelan-pelan mulai hilang kesadaran. Rasa lelah bekerja seharian membuatnya mudah tertidur. Hingga akhirnya keduanya pun tidur dalam satu ranjang.
Berbeda dengan keadaan di kota malam itu. Tepat pukul sembilan malam, Danita berjalan menuju ke arah rumah yang selalu ia kunjungi. Mobil ia parkir dengan rapi di depan rumah Danny.
“Selamat malam, Tante…” sapanya kala melihat Zaniah duduk menikmati popcorn sembari menonton seorang diri.
Firhan tentu saja sedang berada di kamar untuk istirahat. Setidaknya besok ia harus menunjukkan tubuhnya baik-baik saja agar bisa segera ke kantor.
__ADS_1
“Eh Danita…malam. Sini masuk, kebetulan Tante lagi bosan nggak ada teman.” Dengan senang hati Danita duduk di samping Zaniah.
Keduanya saling bersapa senyum. Namun, beberapa detik setelahnya Zaniah bisa melihat tatapan Danita yang tertuju ke segala sudut rumah mereka.
“Kok Tante sendirian? Om sama Danny kemana? Katanya Danny sakit yah, Tan?” Tanpa basa basi Danita langsung bertanya ke inti tujuannya.
Ia penasaran kemana Danny sampai tidak mengangkat panggilannya. Bahkan siang tadi Danita sampai di buat tidak bisa kemana pun sebab pekerjaan yang Danny berikan begitu banyak.
“Oh Danny lagi ke rumah temannya katanya. Tante juga nggak tahu sih jelasnya. Katanya begitu.” jawab Zaniah menutupi kepergian sang anak.
Jelas ia melihat bagaimana lesu wajah Danita.
“Aku telpon juga nggak di angkat-angkat, Tan.” adunya pada Zaniah.
Bisa Zaniah tebak jika saat ini pun Danita belum pulang ke rumahnya. Sebab pakaian formal yang wanita itu kenakan bisa menjelaskan ia baru saja selesai lembur kerja di kantor.
“Kamu pulang saja dulu, pasti capek kan? Besok Danny pasti kabari kamu. Mungkin dia lagi asik sama temannya sampai nggak perhatikan ponsel, Danita.” Pelan Zaniah memberi pengertian.
Danny adalah anak pria, ia tentu akan butuh kebebasan. Bukan serta merta selalu pergi berdua dengan Danita. Keposesifan Danita bahkan saat ini bisa membuat Danny memiliki pikiran untuk menjauh.
__ADS_1