
Mendengar penuturan ketus dari Lillia, Zaniah sebagai sang ibu kini jauh lebih mementingkan perasaan anaknya. Soal hatinya biarlah sakit. Toh ini semua sudah pernah ia rasakan. Di sini Dannya yang harus ia perjuangkan. Sekali pun hubungannya dengan Lillia tak baik-baik saja. Namun, pilihan Danny sudah seharusnya ia pertahankan jika memang itu yang baik.
Zaniah menoleh menatap Anna. Gadis cantik, sederhana, tatapan lembut dan polosnya tentu bisa terbaca dari semua gerak gerik gadis itu.
“Apa dia gadis itu, Danny?” tanya Zaniah.
Lillia ikut menatap ke arah Zaniah menatap Anna.
Pelan Danny menganggukkan kepalanya. “Iya, Mah. Anna adalah gadis yang aku pilih.” jawab Danny.
Sedang Firhan tampak memejamkan mata mencerna ini semua. Wanita yang anaknya pilih ternyata tidak jauh dari mereka. Dia adalah anak dari istri keduanya.
Usia yang tak lagi muda membuat Firhan pasrah dengan takdir. Sudah tidak sepantasnya ia memikirkan perasaan. Akhirnya Firhan berdiri tepat di depan Lillia.
“Aku benar-benar minta maaf atas semuanya, Lia. Dan saat ini tujuan kami kemari adalah untuk bertemu denganmu sebagai ibu dari wanita yang anak kami tunjuk.” Firhan berucap
penuh ketegaran.
__ADS_1
Barulah pada saat itu air mata Lillia jatuh. Ia meneteskan air mata mendengar dari bibir Firhan sendiri untuk mengikhlaskan hubungan mereka.
Namun, Lillia tidak ingin menunjukkan kesedihan itu berlebihan. Sekuat tenaga ia mengusap air matanya. Hatinya sangat sakit saat ini.
“Ceraikan aku, maka akan ku pikirkan semuanya.” jawabnya tanpa mau menatap wajah sang suami.
Firhan memejamkan matanya sejenak. Menahan gejolak di dadanya.
Tanpa sadar semua gerak gerik mereka bisa di lihat jelas oleh Zaniah dan yang lainnya.
Apa gunanya ikatan pernikahan jika hati sama sekali tidak bisa di miliki?
“Baik, aku akan mengurus perceraian kita.” Firhan mantap mengatakan hal itu.
Anna mendekati sang ibu dan memeluknya. Memberikan kekuatan yang bisa ia salurkan.
“Jadi pria ini yang sering ibu sebut dalam mimpinya? Ya Tuhan mengapa jalan mereka sesulit ini?” gumam Anna sedih menyaksikan kisah cinta yang ia sendiri tidak tahu bagaimana jalannya.
__ADS_1
“Danny, kita pulang.” Rindu yang belum tersampaikan rasanya berat untuk membawa Danny pergi dari desa itu.
Namun, melihat kondisi yang tidak baik saat ini ia pun memilih menyampingkan urusan pribadinya. Saat ini yang lebih utama adalah sang mamah. Zaniah sama sekali tidak bersuara hingga mereka memasuki mobil.
Selepas kepergian Firhan dan keluarga barulah Lillia terduduk lemas di lantai. Ia terisak pilu dalam pelukan Anna.
Deru mobil yang menjauh pergi membuat Oma Indah bergegas mendekat kembali. Ia keluar dari kamar bersamaan dengan Tegar yang juga datang.
Wanita tua itu duduk memeluk erat tubuh Lillia.
“Anna, ke belakang bantu pelayan. Tegar, sebaiknya kamu pergi beli kue yang enak.” Hanya isyarat untuk meminta mereka semua pergi.
Oma Indah merasa Lillia membutuhkan sandaran dan masukan darinya.
“Ayo, Zen. Bangunlah. Saya antar kamu ke kamar.” Ingin menolak rasanya namun Lillia tak kuasa. Dadanya benar-benar sesak saat ini.
Ia terus menangis sepanjang jalan menuju kamar. Tiba di kamar, ia tampak memeluk tubuh segar Oma Indah. Meski baru mengenal namun terasa sangat dekat. Oma Indah bagai ibunya sendiri saat ini.
__ADS_1