Pejuang Restu

Pejuang Restu
Kepulangan Papah Danny


__ADS_3

Semua anggota keluarga kini menghela napas lega setelah seorang dokter baru saja keluar dari ruangan tempat Firhan berada. Ia menjelaskan jika keadaan Firhan sudah mulai membaik. Dan Zaniah tentu saja sangat bersyukur. Ia pun memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan menemui sang suami.


“Niah, kamu yakin?” tanya Wuri menatap sang menantu. Dan Zaniah mengangguk mantap.


“Semoga berhasil yah?” Papah Dika menyemangati Zaniah dengan kata-kata.


Keduanya pun melihat Zaniah masuk.


Saat tiba di dalam Zaniah pun menarik napas dalam serta memejamkan mata sejenak. Lalu ia melangkahkan kakinya dengan perlahan.


“Mas,” di pegangnya hati-hati lengan Firhan.


Tak ada pergerakan hanya pandangan mata yang Firhan perlihatkan untuk sang istri.


“Aku benar-benar tidak tahu apa-apa, Mas. Tolong maafkan aku. Ini semua bukan rencanaku. Aku saat itu sedang fokus dengan kehamilanku.” Melihat kejujuran di mata istrinya Firhan pun meredam amarah.

__ADS_1


Terakhir ia mengingat jika malam itu Firhan bersama Zaniah dan ia menitipkan Lillia bersama sang mamah.


“Urus kepulanganku.” sahut Firhan tanpa basa basi.


Zaniah tergagap mendengarnya. “Pu-pulang, Mas? Kamu masih sakit.” ujar Zaniah.


Firhan hanya mengangguk. Meski berat menuruti perintah suaminya, demi ketenangan Firhan akhirnya Zaniah menyanggupi. Segera ia setuju.


“Baiklah, jika mas mau itu aku akan usahakan. Tapi, Mas harus istirahat total saat di rumah. Aku akan temui dokter dulu, semoga bisa yah, Mas?”


Pergi dari ruangan, Zaniah pun menutup rapat kembali pintu tersebut. Kemunculannya membuat Wuri antusias mendekati sang menantu.


“Niah, ada apa? Apa Firhan marah padamu?” tanya Wuri sangat antusias.


“Tidak, Mah. Mas Firhan minta segera keluar dari rumah sakit dan pulang ke rumah. Aku harus temui dokter dulu yah, Mah?” Zaniah pergi dan Wuri pun masuk menemui sang anak.

__ADS_1


Di susul oleh Papah Dika yang juga ikut masuk ke ruang rawat. Disana Firhan terbaring dengan wajah yang menoleh ke arah lainnya.


“Firhan…kamu harus sembuh. Zaniah kasihan memikirkan kamu terus. Jangan buat dia ketakutan seperti ini. Mamah seorang wanita, mamah tahu bagaimana rasanya menjadi Zaniah.”


Entah mengapa mendengar kata sang mamah, amarah Firhan terasa ingin mendidih kembali. Namun, ketika ingat sosok Lillia, Firhan bisa mengontrol emosinya. Ia tidak boleh membuat tubuhnya lebih lama lagi di rumah sakit.


“Seharusnya karena mamah seorang wanita, Mamah bisa berlaku baik dengan menantu-menantu Mamah. Bukan hanya karena perihal cucu Mamah bisa berubah-ubah menjadi mertua bak bunglon.” Telak Wuri tergagap mendengar ucapan anaknya itu.


Ia tak bisa lagi mengeluarkan suaranya. Sementara Firhan hanya menatapnya dengan tatapan kecewa. Kini ia bisa tahu siapa dalang dari kepergian Lillia saat itu. Meski ia tidak tahu apa yang mamahnya lakukan pada Lillia.


Di tempat lain, Danny memikirkan sosok gadis yang selalu memenuhi pikirannya.


Rasanya rindu sekali ingin melihat Anna, namun keadaan saat ini belum memungkinkan untuk dirinya memikirkan percintaan. Ada sang papah yang membutuhkan tenaganya.


“Argh! Kenapa harus begini rasanya? Danny, kamu harus sabar. Setelah urusan keluarga selesai kamu akan bertemu gadis itu lagi. Tolong kontrol dirimu saat ini.” ujarnya memukul kepala sendiri.

__ADS_1


Danny begitu gelisah saat menahan diri untuk tidak pergi ke desa. Mobil yang ia kemudikan justru di putar kembali ke arah rumah sakit. Kabar dari sang mamah yang memintanya pulang ke rumah sakit pun segera ia penuhi.


__ADS_2