
Beberapa hari setelah kepulangan sang papah, Danny tampak antusias menjaga dan merawat Firhan. Ia sendiri pagi-pagi sekali membuat sarapan bubur dan mengantar ke kamar. Dilihatnya Firhan duduk di kursi memandangi jendela kamar yang menampakkan pemandangan taman. Segar dan sejuk rasanya.
“Papah, ini aku bawa sarapan bubur. Papah aku suap yah? Setelah itu minum obat.”
Firhan tampak menggelengkan kepala menatap sang anak. Matanya menyiratkan tatapan sendu yang penuh kecemasan. Bukan tanpa alasan, kemana selama ini Lillia bahkan bagaimana hidupnya yang sebatang kara? Firhan tak bisa membayangkan sama sekali betapa berat perjalanan hidup Lillia tanpanya.
“Apa gadis itu sudah berhasil kau temukan?” tanya Firhan pada sang anak.
Ragu Danny mengangguk. “Sudah, Pah. Tapi ibunya sangat menolak kehadiranku. Entah apa salahku, Pah. Setiap aku datang ibunya selalu meminta Anna masuk dan mengusirku kemudian.” Lupa dengan tujuannya masuk ke dalam kamar, Danny justru mencurahkan isi hatinya.
Ia mengingat betapa sedih hatinya melihat penolakan ibu dari gadis yang ia sukai.
Firhan pun mencerna apa yang anaknya katakan hingga akhirnya ia mengangkat kepala setelah menunduk beberapa saat.
“Besok Papah dan Mamah akan datang membantumu ke desa itu. Sekarang pergilah ke kantor selesaikan apa yang harus di selesaikan. Semoga dengan kedatangan kita semua besok, ibunya tidak lagi menolakmu.” Danny terperangah mendengar ucapan sang papah.
Di luar dugaan rasanya mendengar ucapan Firhan. Sampai ia tak bisa berkata apa-apa lagi. Dannya menatap penuh haru pada pria paruh baya di depannya yang masih terlihat tampan.
“Pah, terimakasih. Aku tidak sedang bermimpi kan?” Danny rasanya sulit percaya hingga Firhan pun menepuk pundaknya.
Ia tersenyum melihat sang anak yang begitu senang rasanya. Danny pun memberikan makan sang papah lalu bergegas ke kantor. Semangatnya tiba-tiba begitu berkobar untuk kerja hari ini.
Bahkan ia berniat untuk lembur jika pekerjaan belum usai sore ini.
“Tidak sarapan dulu, Danny?” tanya Zaniah melihat anaknya hendak berlalu melewati meja makan setelah keluar dari ruang kerja membawa tas kerja.
__ADS_1
Danny menolak. Ia mengatakan jika harus segera ke perusahaan. Dan Zaniah pun masuk ke kamar menemui suaminya. Melihat Firhan duduk meminum obat ia segera mendekat. Membantunya mengambil gelas.
***
Pagi yang asri di desa terasa sangat dingin saat ini sebab hujan baru saja berhenti subuh tadi.
“Pak, tidak usah. Saya tidak apa-apa.” Anna menolak kala tubuhnya terlihat di balut Tegar dengan jaket mahal pria itu.
Anna sangat malu berdekatakan dengan pria di depannya ini. Rasa malu sebab tubuhnya sebagai seorang wanita tidak semulus dan sebersih kulit Tegar yang memang begitu bersih.
“Kulit harus di jaga. Dingin atau panas itu penting melindungi kulit mau pun tubuh. Nanti saya kasih sunscreen punya saya.” ujar Tegar begitu perhatian pada Anna.
Sekali lagi Anna semakin di buat malu. “Jangan, Pak. Saya sudah biasa seperti ini.” jawab Anna sopan.
Keduanya berjalan menyusuri jalan setapak yang sedikit licin saat ini. Sisa air hujan membuat jalan setapak di kebun itu sedikit becek.
Sebelah tangannya memegang dadanya yang berdebar begitu kencang.
“Ya Tuhan…beliau adalah pria yang sangat baik. Semoga mendapatkan jodoh yang juga sangat baik.” gumam Anna berdoa untuk Tegar.
Genggaman tangan keduanya tak pernah lepas sepanjang mereka berjalan menapaki kebun yang luas itu. Beberapa kali mereka menyapa pekerja di kebun.
Anna merasa dunianya saat ini jauh lebih berwarna. Teman bicara bercanda sudah Tuhan kirim untuknya. Jika biasanya ia hanya kerja,kerja dan kerja. Tidak saat ini. Anna lebih banyak menikmati waktunya untuk bersenang-senang meski hanya bekeliling kebun.
“Rasanya apa seperti ini yah Pak jika memiliki kakak pria?” Tiba-tiba Anna bertanya dan Tegar menghentikan langkah kakinya.
__ADS_1
Di tatapnya Anna yang berjalan di samping. Tegar tersenyum senang melihat kecantikan Anna.
“Apa hanya sebatas kakak pria harapanmu, An?” tanyanya membuat Anna kebingung menjawab.
Jujur posisi kakak adalah yang paling tepat Anna sebut untuk Tegar. Sebab ia sendiri belum paham bagaimana rasanya mencintai seorang pria. Selama ini ia hanya belajar bekerja mencari uang untuk kebutuhan makan bersama sang ibu.
Lama terdiam, Tegar akhirnya terkekeh menggelengkan kepala.
“Sudahlah jangan pikirkan apa pun yang ku tanyakan. Ayo kita lanjut lagi.” Anna menatap sesekali ke arah Tegar.
Ia merasa kikuk saat melanjutkan perjalanan kembali setelah berbicara sebelumnya.
Tak terasa berdua kesana kemari, Tegar mulai merasa lapar. Sementara Anna tampak berkeringat di bagian keningnya.
Keduanya memutuskan mampir di sebuah warung makan yang sangat sederhana.
“Pak, apa tidak sebaiknya kita pulang ke villa saja? Ibu dan Oma pasti sudah memasak untuk Pak Tegar.” ajak Anna yang merasa tidak enak. Bukan karena mereka berdua. Melainkan Anna tidak tega jika Tegar memakan makanan di warung desa itu.
“Ayo duduk. Kenapa berdiri di situ?” Tegar menarik tangan Anna sampai si gadis terduduk terhempas tubuhnya di kursi kayu.
Anna memperhatikan bagaimana Tegar dengan baik bertanya, mengambil sendiri makan ke piringnya. Sungguh Anna tidak menyangka pergerakan Tegar begitu tampak terbiasa memakan di warung makan seperti ini.
Ia duduk mematung melihat Tegar mengisi lauk-lauk di piringnya tanpa ada tatapan jijik.
“Ayo makan. Ini untukmu.”
__ADS_1
Keduanya makan tanpa ada suara. Jauh dari dugaan jika Tegar ternyata begitu santai menikmati makan sedangkan Anna sulit memakan sebab rasa terkejutnya.