
Satu minggu tak terasa berlalu begitu cepat. Akhirnya Tegar pun bergegas menyusul sang oma ke desa. Gelisah yang ia tahan beberapa hari akhirnya bisa berakhir. Kini Tegar sesekali bersenandung saat mengemudikan mobil.
Satu minggu juga Anna terpaksa sibuk mengurus sang ibu dan kerjaan di villa. Entah mengapa keadaan Lillia tiba-tiba drop sejak kejadian di kebun siang itu.
“Bagaimana, An? Keadaan ibumu? Mau makan tidak?” Oma Indah yang menetap di villa sampai lupa pulang lantaran terlalu asik dengan Anna.
Ia melihat Anna merawat sang ibu mengompres keningnya dengan air hangat. Pelan Anna menoleh ke arah pintu.
“Oma, masuk Oma. Ibu masih belum ada perubahan. Obat dari dokter saja sudah di minum tapi masih belum ada reaksi.” jelas Anna menatap cemas sang ibu.
Oma Indah pun masuk dan duduk di dekat Anna. Di pegangnya tangan Lillia yang mungil. Meski bekerja keras namun tangan itu tetap bersih. Warna kulitnya sedikit gelap dari wajahnya.
“Rawat ibumu di sini saja. Kita bisa pantau ibumu dua puluh empat jam. Dari pada di rumah tidak ada yang melihatnya.” ujar Oma Indah.
Patuh Anna pun menganggukkan kepala. Ia juga takut meninggalkan sang ibu di rumah seorang diri.
__ADS_1
“Bu, ibu mau apa? Apa yang sakit, Bu? Katakan pada Anna.” tuturnya dengan lembut.
Oma Indah pun turut memegang tangan Lillia. Ia menatap prihatin wanita yang terbaring lemah di ranjang.
“Jangan terlalu banyak pikiran. Anna masih muda sekali. Dia sangat butuh sosok ibunya.” Air mata Lillia menetes kala mendengar ucapan sang oma.
Bicara pun rasanya sangat lemas. “Iya, Nyonya.” jawabnya singkat.
Usai memastikan sang ibu makan dengan baik, Anna bergegas keluar dari kamar bersama sang oma.
“Lillia…” lirih ia berucap kala mengingat sosok wanita yang di ingatannya saat ini.
“Mas, Mas Firhan sudah sadar?” Zaniah yang mendengar jelas segera mendekati sang suami. Berharap apa yang di dengarnya bukanlah kenyataan.
“Lillia, Niah dimana Lia?” tanya Firhan.
__ADS_1
Pelan ia pun menggerakkan bola matanya ke arah sang ibu. Wuri tergagap mendengar suara sang anak yang memberi tahu dengan jelas jika ia sudah mengingat semuanya. Selama ini tak sekali pun Firhan menyebut nama Lillia.
“Mamah, Lillia Zeni? Dimana dia?” Firhan bertanya pada Wuri.
Semua bingung. Terlebih Danny yang sangat bingung. Siapa Lillia? Pikirnya.
“Papah istirahatlah. Papah harus tenang dan segera sembuh. Satu minggu papah di rumah sakit. Papah pasti pulih dan bisa segera pulang.” Danny mencium tangan Firhan penuh sayang.
Awalnya Firhan merasa asing dengan sikap pemuda di depannya. Sampai ia ingat jika Danny adalah anaknya bersama Zaniah.
Air mata Zaniah menetes tanpa henti mengetahui sang suami telah mengingat masa lalunya. Ketakutan semakin merajai hati wanita itu.
“Dimana Lillia Zeni? Panggil dia, Niah.” pintah Firhan tetap kekeuh.
“Mamah, Papah, Danny, kalian keluar saja. Mamah akan bicara dengan Papahmu.” Paruh semua keluar dari ruang rawat.
__ADS_1
Firhan memang sudah di pindahkan ke ruang rawat sejak kondisinya membaik. Dan kini tinggallah Zaniah berdua di ruang rawat bersama sang suami.