
Ketika sambungan telepon terhubung, Anna mengernyitkan kening. Lantaran tak ada apa pun yang ia dengar saat ini.
“Halo…” sapanya setelah lama tak mendengar suara siapa pun, takur jika yang menelpon bukanlah Tegar.
“Eh Anna, kamu di villa?” Basa basi Tegar bertanya. Sebab ia pun baru sadar jika Anna sedang menunggu suaranya.
“Tentu saja, Pak. Saya di villa bersama ibu saya. Ada apa yah, Pak?” tanya Anna.
Bingung Tegar tak tahu harus berkata apa saat ini. Ia kehabisan kosa kata untuk bicara dengan Anna.
“Em tidak ada apa-apa. Saya hanya memastikan kamu di villa dan baik-baik saja. Baiklah kalau begitu saya kerja dulu.” ujar Tegar mematikan panggilan.
Anna pun kembali pada sang ibu. Lillia terus memperhatikan raut wajah anaknya.
“Dia orang besar, An. Jauh dari kelas kita. Jangan berpikir terlalu jauh. Sekarang fokus kerja dulu. Biar kamu punya tabungan sebelum ibu pergi.” Mendengar penuturan sang ibu, Anna menggelengkan kepalanya.
Di genggamnya erat tangan Lillia. “Ibu tidak Anna bolehkan pergi kemana pun, Bu. Anna belum bisa buat Ibu bahagia.” tuturnya sedih.
Lama keduanya saling diam hingga mereka pun memutuskan kembali ke rumah untuk mandi di sore harinya.
__ADS_1
Hingga saat tiba, mereka di buat terkejut dengan sosok punggung tegap di depan pintu rumah itu.
Lillia dan Anna saling pandang. Seolah bertanya siapa pria itu.
“An! Anna!” Teriaknya mengetuk pintu beberapa kali.
Ia tidak sadar jika sang pemilik nama tengah memperhatikan tingkahnya saat ini.
Terlihat Lillia mendekati Danny.
“Ada apa mencari anak saya?” tanyanya dengan wajah ketus.
Sementara Anna memikirkan panggilan Danny barusan. Dari mana pria itu tahu namanya.
“Pergi dari sini!” Lillia bahkan tak membiarkan Danny berkata lebih panjang.
Ia menolak mentah-mentah kedatangan Danny.
“Bu, percaya sama saya. Saya bukan orang jahat. Saya berniat serius dengan anak ibu. Anna, saya serius ingin mengenal kamu lebih dalam.” Dannya beralih menatap Anna.
__ADS_1
Sungguh jelas kedua mata pemuda itu menyiratkan ketulusan yang sangat dalam.
Melihat tatapan Anna yang sedikit mulai terangkat, Lillia was-was. Ia tidak akan membiarkan Anna jatuh hati pada pria seperti Danny. Akan sulit mengendalikan Anna jika mereka sudah sama-sama jatuh hati.
“Anna, masuk! Cepat masuk rumah!”
“Baik, Bu.” Anna melewati Dannya bahkan menepis tangan pria itu yang berhasil memegang tangannya saat melewati Danny.
Sedih rasanya melihat bagaimana Anna sangat penurut oleh sang ibu, Danny benar-benar suka dengan gadis yang patuh. Dan sekarang ia tahu kunci semuanya ada pada Lillia.
Kini di luar pintu, tinggallah Danny bersama Lillia. Dari atas hingga bawah Lillia memperhatikan penampilan Danny.
“Sumpah demi Tuhan, Bu. Saya pria baik-baik. Saya jatuh cinta dengan anak ibu saat pertama kami bertemu tanpa sengaja di kebun. Tolong jangan memandang saya seperti pria jahat, Bu.” mohon Danny sembari menangkupkan kedua tangan pada Lillia.
“Saya tidak akan membiarkan itu terjadi.” Usai mengatakan itu Lillia masuk ke rumah dan mengunci pintu rumahnya.
Susah rasanya Danny meluluhkan keras hatinya Lillia. Entah dengan cara apa ia bisa memenangkan hati wanita paruh baya yang cantik itu.
“Untung cinta sama anaknya. Kalau nggak nikahi ibunya saja.” Dannya menggelengkan kepala usai berkata sembarangan seperti itu.
__ADS_1
Ia pun bergegas masuk ke dalam mobil untuk kembali ke penginapan. Memikirkan jalan apa yang bisa ia tempuh keesokan hari. Sebab Danny sendiri tak memiliki banyak waktu untuk tinggal di desa.
Ada perusahaan yang harus ia tangani bersama sang papah.