Pejuang Restu

Pejuang Restu
Mengetahui Perasaan


__ADS_3

Tak pernah sekali pun Tegar terlihat marah seperti saat ini. Semua yang ada di ruang keluarga tampak terdiam tegang termasuk Anna yang tidak jadi duduk. Ia berdiri melihat bagaimana Tegar menatap Depi tajam. Tidak ada satu orang pun yang berani membela Depi.


Sedangkan pelaku utama kini hanya bisa terdiam membeku menundukkan kepalanya.


“Aku minta maaf, Gar. Selama ini kamu begitu acuh bahkan apa pun yang terjadi denganku, kamu tidak mau tahu. Itu sebabnya aku meminta orang mengecek pekerjaanmu di sana. Ternyata benar ketakutanku selama ini. Ada dia yang menjadi penyebab semua ini?” Air mata Depi pun jatuh saat itu juga.


Tegar tampak menghela napasnya kasar. Ia berusaha menenangkan diri agar bisa bicara baik-baik.


“Mohon maaf. Saya permisi dulu.” Anna lebih memilih pergi tak ingin ikut campur masalah keluarga sang tuan.


Sebagai pelayan ia sadar tidak semua hal tentang Tegar boleh ia ketahui. Dan kini Anna pun masuk ke kamar menemui sang ibu yang masih diam di tempat tidurnya tanpa memejamkan mata.


“Bu,” panggil Anna.


Lillia menoleh. “Di luar sedang ribut.” adunya pada Lillia.


Sontak sang ibu pun bangun dari tidurnya. Ia duduk menghadap Anna.


“Sepertinya gara-gara Anna, Bu. Ternyata Pak Tegar itu sudah punya tunangan. Dan tunangannya marah sama Anna.” Ia mengadu layaknya anak kecil.


Mendengar hal itu Lillia menghela napas kasar. Inilah yang paling ia takutkan selama ini. Ia tidak ingin hidup Anna di salah-salahkan oleh orang lain. Kehidupan di kota memang sangatlah kejam. Semua hal bisa menjadi masalah.


“Ini belum semalam kita tinggal di kota, Anna. Itulah Ibu lebih memilih hidup di desa. Kita akan jauh lebih tenang. Terkadang orang yang berwawasan tinggi tidak cukup untuk bisa menghadapi masalah dengan dewasa.”


Sedang ketegangan terjadi di ruang tengah. Tegar tampak menjelaskan semua yang terjadi sebenarnya.


“Yah, pertunangan kita bukanlah atas kemauanku. Semua atas paksaan dari Oma. Aku mengikuti semuanya sampai sejauh ini karena aku pikir kamu adalah gadis yang baik. Tidak sepantasnya aku menyakiti kamu, Depi.” tutur Tegar.

__ADS_1


Depi kini sudah meneteskan air mata mendengar kejujuran Tegar. Ia pikir selama ini Tegar hanya bersikap dingin namun tidak untuk hatinya. Ternyata dinginnya Tegar berasal dari hati yang menolak perjodohan.


“Tegar…” Oma Indah berucap lembut. Berusaha untuk membuat sang cucu sadar jika harus berbicara baik pada Depi.


Samsul dan Dinda diam tak tahu lagi harus menengahi dengan cara apa. Mereka pun melihat Tegar yang memejamkan mata sejenak.


“Ayo ikut aku.” Tegar bangkit dari duduknya dan menarik tangan Depi. Keduanya pergi tanpa mengatakan apa pun pada keluarga.


Mobil menjadi alat transportasi Tegar membawa Depi entah pergi kemana. Sepanjang jalan Depi hanya menangis. Semangatnya tiba-tiba hilang. Berjuang beberapa hari mengerjakan pekerjaan yang seharusnya belum selesai demi mendapat cuti panjang. Justru kini terbuang sia-sia.


Tegar pun tak sampai hati melihat Depi menangis. Meski tak ada rasa cinta, ia sendiri merasa jika Depi adalah wanita yang baik. Bahkan Oma Indah tidak salah sama sekali memilih jodoh untuknya.


“Aku ingin pulang saja.” Depi enggan turun dari mobil saat mereka tiba di tepi danau.


Bukannya mendengar, justru Tegar membawanya paksa keluar mobil.


“Kita butuh bicara berdua.” tuturnya.


Di kota yang sama di tempat yang berbeda, Danny di buat pusing dengan kedatangan Danita.


“Danny, kenapa sekarang semua pekerjaan jadi ke aku? Bukankah kamu yang bertanggung jawab atas ini semua?” Danita dengan berani bertanya.


Bukan perihal tanggung jawab. Melainkan karena sulit bertemu sampai membuat Danita kesal setengah mati. Ia kesal sebab Danny selalu mengabaikan telepon darinya. Bahkan bertemu pun sangat sulit akhir-akhir ini.


“Danita, kita ke dapur yuk. Temani Tante buat makan siang.” Zaniah tak sampai hati membiarkan anaknya pusing di tambah pusing lagi menghadapi Danita.


“Pergilah,” ujar Danny kala melihat Danita berat meninggalkannya.

__ADS_1


Mau tidak mau Danita ikut bersama Zaniah ke dapur. Di sanalah baru Zaniah menceritakan keadaan sang anak yang sebenarnya.


“Memang permasalahannya apa, Tante?” tanya gadis itu bingung dan penasaran.


“Masalah keluarga Tante di masa lalu. Tapi yang jelas sekarang Danny sedang banyak pikiran. Tolong yah bantu Danny di perusahaan. Om Firhan juga sedang kacau saat ini. Seandainya Tante tahu mungkin Tante akan menemani kamu mengurus perusahaan.” panjang lebar Zaniah bercerita.


Hingga pada akhirnya Danita pun luluh. Ia menyanggupi untuk membantu Danny. “Oke aku akan membantu mengurus perusahaan. Tapi tiba waktunya Danny harus membalas semua bantuanku. Aku harus menjadi Nyonya Elton.” gumam Danita.


Beberapa menit berlalu, makan siang pun akhirnya sudah siap. Danita penuh semangat menata makan di meja makan. Zaniah beberapa kali memperhatikan pergerakan gadis itu. Jelas ia tahu bagaimana Danita sangat ambisi memiliki sang anak.


“Kasihan kamu, Danita. Semoga semua ada jalan keluar dan tidak ada yang tersakiti di sini.” gumam Zaniah.


Sebagai wanita jelas ia tahu bagaimana sakitnya mencintai pria yang tidak mencintai kita. Dan kini terjadi pada anaknya sendiri. Danny justru mencintai wanita lain.


“Sekarang kamu panggil Danny yah? Biar Tante panggil Om.” pintah Zaniah. Patuh Danita pun memanggil Danny.


Pintu kamar yang terbuka sedikit membuat Danita urung mengetuk pintu. Ia mengintip di celah pintu dengan aktifitas yang Danny lakukan.


Kedua mata Danita membulat sempurna melihat apa yang tengah Danny pegang saat ini.


Bibir Danita terbuka lebar, syok, marah, kesal, kini ia rasakan. Sumpah demi apa pun Danita sangat marah.


“Danny benar-benar keterlaluan.” umpatnya kesal. Kedua tangan Danita terkepal dengan erat.


Ia tidak sadar jika dari arah belakang ada sosok yang juga tengah memperhatikan pergerakannya.


“Danita,” panggilan saat itu juga membuat Danita terlonjak kaget. Ia membalik tubuh dan terlihatlah Zaniah dan Firhan di depannya.

__ADS_1


Samar Danny mendengar suara di depan kamar. Ia pun menghentikan aktifiasnya dan segera keluar. Di buka lebar pintu kamar itu. Satu persatu di tatap dengan kedua mata miliknya.


“Danita, Mamah, papah? Kenapa di depan kamarku?” tanya Danny penasaran.


__ADS_2